Kata pepatah, tak ada yang kekal di dunia kecuali perubahan. Sama hal nya dengan Made Sattwika Karna (17). Giat belajar dan mencetak berbagai prestasi menjadi langkah mantap yang dirinya lakukan untuk bangkit dari masa kelam.
Bak berputar 360 derajat. Pemilik nama Made Sattwika Karna tak lagi sama seperti “Sattwika” yang sebelumnya. “Dulu pas kecil aku gak pintar sama sekali. Aku bandel banget, gak banyak prestasi,” tutur pria kelahiran 21 November 2003 ini. Bahkan di bangku taman kanak-kanak, “Sattwika kecil” belum mampu baca tulis, bahkan tidak tahu angka. Berbanding terbalik dengan dirinya kini. Sebanyak 18 lomba sudah pernah Sattwika ikuti dan semuanya berhasil dimenangkan. Lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di TK Saraswati 5 Denpasar ini mengaku tak pernah menyangka dirinya mampu seperti saat ini.
Selepas dua tahun menuntut ilmu di TK Saraswati 5 Denpasar, ia melanjutkan pendidikan di SDN 2 Sanur. Masa kecilnya duduk di bangku sekolah dasar tidaklah ceria seperti anak-anak kebanyakan. Bahkan bungsu dari dua bersaudara ini mengaku sangat membenci masa-masa SD-nya. Mulai dari diusir dari rumah, tinggal di rumah nenek, bahkan dihukum membersihkan kamar mandi di sekolah.
Tak ketinggalan, Sattwika kerap menjadi bahan bullyan teman-temannya. Baik bully secara verbal maupun fisik. “Apalagi ketika SD ada geng yang isinya siswa-siswa berbadan besar. Tiap pulang sekolah harus sembunyi di kantin dulu. Karena sering dihadang, dipukul, dipalak, hingga dikejar sampai rumah,” kenangnya. Meski begitu, sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk balas dendam kepada teman-temannya.
Tak ingin berlarut dalam kelamnya masa sekolah dasar. Ketika SMP, lelaki berzodiak scorpio ini memutuskan untuk berubah. Giat belajar dan membuktikan kepada dunia bahwa dirinya mampu menjadi anak yang berprestasi. Bermodal keyakinan dan tekad yang kuat, putra kedua dari pasangan Putu Agus Ardi dan Yudi Witari ini mulai bergabung dengan berbagai organisasi. Salah satunya OSIS. Meski sulit, namun tak menyurutkan semangatnya untuk keluar dari zona nyaman. Mencari hal-hal baru, menambah teman dan koneksi. “Dulu aku yang masih malu-malu dan gak berani ngomong depan publik jadi mulai terbiasa berkat ikut berbagai organisasi,” tuturnya.
Selain OSIS, penggemar design dan fotografi ini juga terjun ke dunia Jurnalistik. Di sinilah cikal bakal lahirnya berbagai prestasi yang diraihnya. “Dulu pertama kali diajak ikut lomba bersama Pak Serawan yang sekaligus menjadi Pembina ekstra jurnalistik SMP Cipta Dharma. Dari sanalah aku mulai mengikuti lomba-lomba lain dan lanjut hingga sekarang,” terang pria pemilik hobi menggambar ini. Prestasi yang diraihnya antara lain First Winner Design Poster Competition dalam ajang Kasinfo 5 2020, First Winner Design Poster Competition dalam Pentium 7 Computing Cup Peon 2018, Second Winner International Young Scientist Innovation Exhibition 2019, dan masih banyak lagi.
Namun tentu saja, segala pencapaiannya tak luput dari dukungan orang-orang terdekat yang senantiasa menyertai dan membanjirinya. Termasuk Pak Serawan. Berkat Pak Serawan juga, Sattwika mendapat banyak inspirasi dan motivasi. “Intinya kita harus yakin, coba aja dulu. Jangan takut untuk memulai apapun itu,” ungkapnya. Sattwika sendiri menanamkan pada dirinya untuk jangan takut kalah dalam suatu perlombaan. Sebab menang kalah hanyalah bonus. “Kalau menang ya syukur. Kalau kalah ya jadikan pengalaman. Karena pengalaman sendiri sangat mahal harganya dan tak bisa dibeli dengan apapun. Jadi manfaatkan masa mudamu dengan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya,” tutupnya di akhir wawancara. (psp/cit)

