“Ilmu dalam otak kita bagaikan gelas yang nantinya akan penuh, sebelum isi gelas itu tumpah ke arah yang tidak jelas, berbagilah kepada teman-teman kalian,” ujar Ni Komang Yuko Utami.
Perawakan mungil hitam manis Ni Komang Yuko Utami (20) yang akrab disapa Yuko, tertawa malu di depan telepon genggam perekam. Mahasiswi Hukum aktif ini, tersenyum seakan memecah sunyi malam di kediamannya hari ini, Jumat (18/6). Yuko bercerita perihal mengapa dirinya tertarik Jurnalistik pada masa SMA-nya. “Karena untuk memenuhi keinginan yang tidak tercapai di SMP, karena sejujurnya jurnalistik SMP pada masaku itu perlu biaya atau modal yang besar, selain itu alasan aku ga ikut ekstra jurnalistik secara langsung, karena aku baru tertarik pas kelas dua SMP mau kelas tiga, jadi aku agak telat ikut ekstranya,” ungkap Yuko.
Dirinya mengikuti ekstra Jurnalistik Trisma, Madyapadma Journalistic Park, untuk memenuhi cita-citanya saat masa SMP. Yuko juga merasakan kegiatan PJTD (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar) yang dilaksanakan juga pada tahun ini secara online. “Jujur aku orangnya sebenarnya buta banget sama yang namanya jurnalistik, khususnya jurnalistik yang ideal seperti apa. Aku cari-cari koran, tokoh-tokoh jurnalistik di Internet. Tapi yah masih aja tetep bingung. Karena belum ada pembimbing dan juga aku perlu temen-temen yang paham jurnalistik. Perlahan lahan semenjak aku ikut PJTD, aku mulai mengerti sedikit-demi sedikit jurnalistik yang sebenarnya itu gimana.”
Memang tidak dapat dipungkiri lagi. Madyapadma sudah terkenal dengan siswa siswinya yang berhasil mencetak berbagai prestasi nan bergengsi. Saat ditanya mengenai lomba pertama yang Yuko ikuti, Ia mengerutkan alisnya dan mulai tertawa kecil. “Lomba pertama yang aku ikutin sebenarnya bukan lomba jurnalistik aku saat itu ikut lomba debat dari kementerian pertahanan, aku dapet juara 2 sih, nyaris banget juara 1. Semenjak juara ini, aku mulai dilirik-lirik. bisa dibilang disini aku sudah mulai memenangkan sesuatu, orang pasti tertarik sama kita. Dan semenjak itu, aku mulai ikut lomba jurnalistik pertama ku, yaitu lomba di Politeknik Negeri Bali, lombanya saat itu kelas 11. Timku juara 1 dan aku secara personal dapet laput (Laporan Utama) terbaik. Setelah pontang panting latihan, dilatih dan dibimbing sama Kak Ananta. Disini aku memang mulai dari nol banget si”
Yuko menceritakan kisahya dengan antusias, ketika ditanya lomba apa yang paling berksesan. “Ketika lomba itu membawa sesuatu yang baru untuk aku, itu adalah hal yang paling berksesan. Misalkan lomba DBL (Developmental Basketball League), dimana aku yang gatau soal basket, mulai belajar lagi segala sisi dan perihal tentang basket. Dan hal itu unik banget buat aku karena jujur aku ga suka hal olahraga gitu, and dapet juara 1 dan aku personal dapet sesial award best writer,” tutur Yuko sembari tertawa mengingat masa-masa itu.
Tidak semua kompetisi yang dicicipi Yuko berbuah manis. Ia pernah merasakan egonya membara, mengendalikannya untuk berusaha nangkep belalang dadua (menggapai 2 hal yang tidak memungkinkan-red). “Ini note ya gais, ketika kita sudah memenangkan sesuatu, kadang ego mulai muncul dan kalian mulai bertarung dengan ego kalian sendiri, karena kalau kalian mengagungkan ego kalian, kalian cuman capet neraka. Neraka yang aku dapetin saat lomba, ketika aku ingin memenangkan semua lomba itu. Jadi saat lomba EJC aku sangat ambis, liar banget, yah dan endingnya buntung, juara 1 ga dapet, cuman juara 2, goalku biar dapet laput (laporan utama) terbaik gagal. Pas lomba EJC ini, aku juga ikut lomba DENFEST (Denpasar Festival), otak bercabang, tapi ego tetap satu. Istilahnya aku berusaha nangkep balang dadua, tapi out of my expectation lomba denfest ini aku dapet juara 1 bidang penelitian sosial,” ungkap yuko, seraya menegak segelas teh hangat di tangan mungilnya.
Saat ditanya pesan kesan untuk anak-anak Madyapadma sekarang, Yuko tertawa kecil. Tatapan mataya menunjukkan ingatan masa putih abunya di Taman Jurnalistik, Madyapadma. “Pesan Kesanku untuk anak-anak MP sekarang, ketika ada satu peluang jangan melihat keuntungan materialnya aja, liat juga keuntungan berupa ilmu dan relasinya. Jaga, rawat, dan kembangkanlah ilmu dan relasi itu. Ohya sama satu lagi ketika kalian memiliki ilmu yang lebih, ingat bagilah ilmu kalian ke temen-temen.” (Fita)

