Menekuni dunia kesenian Bali sejak kecil merupakan hal yang jarang sekali dijumpai pada remaja zaman sekarang. Terlebih, menjadikan bidang tersebut sebagai ketertarikan tersendiri. Namun, tidak demikian bagi Ni Wayan Ramadani Fitria Bagiasti yang lahir di keluarga dengan darah seni yang kental.
Fitri, begitulah sapaan akrab gadis kelahiran Denpasar, 25 November 2003 yang telah menggeluti bidang kesenian Bali sejak kecil. Tak banyak yang mengetahui, bakatnya di bidang kesenian ternyata diturunkan dari kedua orangtuanya, I Wayan Bagiada, S.Sn yang berprofesi sebagai guru seni karawitan, dan Ni Nyoman Nik Suasti, S.Sn yang merupakan seorang penari. Pada awalnya, Fitri mengaku tidak minat dengan bidang kesenian, namun setelah berlatih seni tari di bangku taman kanak-kanak, ketertarikannya pun berlanjut hingga ia menempuh pendidikan di SDN 1 Sumerta. Saat duduk di bangku sekolah dasar, ia pun mencoba bermain alat musik tradisional Bali, salah satunya adalah gender, sekaligus mencoba membaca dan menulis aksara Bali.
Fitri kemudian menempuh pendidikan di SMPN 8 Denpasar sembari memperdalam keterampilannya di bidang membaca dan menyurat lontar. Ketika diulik alasan yang membuatnya tertarik dengan bidang kesenian, gadis berprestasi ini mengungkapkan bahwa keterampilan dalam bidang seni itu penting. "Saya merasa sebagai seorang siswa keterampilan dalam bidang seni juga penting agar seimbang dengan bidang akademik di sekolah. Selain itu, saya juga ikut melestarikan kebudayaan Bali yang begitu beragam," ujar gadis yang gemar bermain alat musik tradisional ini saat diwawancarai secara online oleh Tim Madyapadma pada hari Selasa (09/03).
Berkutat dengan dunia seni, membuat Fitri menjadi sosok pekerja keras dengan mengikuti berbagai perlombaan. Sederet prestasi sudah diraih Fitri yaitu juara 2 Membaca Lontar se-Kota Denpasar 2020, juara 3 Membaca Lontar se-Kota Denpasar 2019, juara 1 Pemilihan Pembaca Aksara Bali se-Kota Denpasar, juara 2 Membuat Prani se-Kota Denpasar, juara 2 lomba busana adat kemah budaya KPB kota Denpasar ke-13 dan peserta berbakat 1 putri kemah budaya KPB kota Denpasar ke-13. Di lain sisi, Fitri juga pernah merasakan kegagalan, namun baginya, kegagalan dalam perlombaan sudah pasti terjadi, yang terpenting adalah usaha yang diberikan. “Cara saya menghadapinya adalah dengan terus berlatih dan tidak putus asa, serta menjadikan kegagalan tersebut sebagai pengalaman dan pembelajaran untuk diri kita di kemudian hari,” tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.
Sebagai sosok remaja yang bergelut dalam dunia kesenian Bali, Fitri turut memberikan pandangannya terhadap dunia seni di kalangan remaja. Bagi Fitri, kesenian Bali di kalangan remaja masih tetap eksis di tengah globalisasi, namun masih ada beberapa remaja kurang minat dengan kesenian dan menganggap kesenian bali itu kuno sehingga masih diperlukan sosialisasi dan memperkenalkan kesenian bali lebih mendalam. “Semoga para remaja kedepannya tetap dan meningkatkan kepeduliannya terhadap seni bali salah satunya dengan cara mempelajari seni bali, karena seni bali sangat beragam dan jika ditekuni akan memberikan dampak yang positif bagi diri kita sendiri dan bahkan lingkungan sekitar kita,” harapnya.

