Asalkan sukses terbangkan layang-layang kesayangan. Perkara kulit gosong pun jadi urusan belakangan. “Kalau memang dasarnya cantik, ya pasti tetep cantik. Nih saya item kok, tapi tetap aja cantik kan?” ujar Putu Nurhayati degan senyum jenaka. Tak sampai barang semenit, putri bungsunya menceletuk usil, “Bu, jangan lupa senyum difoto.” Sontak senyumnya pun mengembang, seolah pernyataannya tadi bukan sekadar gurauan.
Senyuman Nurhayati memang memikat hati. Pantas jadi pengangat hati, kala mendung melanda Pantai Mertasari sore ini, Kamis (30/01). Selama basa-basi di salah satu warung mungil, pinggir Pantai Mertasari. Wanita kelahiran Denpasar, 14 Mei 1979 ini, acap kali mengumbar senyum manis. Sekali dua kali, berlaku menyelipkan helaian rambutnya yang rusak oleh belaian sang bayu. Apalagi duduk dengan kaki bersilang, bagai menambah kesan ayu dari ibu dua anak ini. Kalau sudah begini siapa yang menyangka wanita asal Denpasar ini, ialah pemain setia layang-layang Bali.
Berawal dari usia 9 tahun, bermain layang-layang sudah berhasil mencuri atensi wanita bersurai pendek ini. “Karena saya itu anak tertua di keluarga. Tapi saya cewek, sementara adik-adik saya cowok. Jadi kalau ngempu (mengasuh – red) adik-adik, ya hanya dengan layang-layang kita ajak,” ucap wanita yang gemar melancong ke luar negeri ini.
Entah itu warisan atau hanya kebetulan. Nyatanya kedua orang tua wanita berlesung pipi ini, hatinya juga sama-sama telah dicuri oleh layang-layang Bali. “Kalau layang-layang Bali itu punya daya tarik tersendiri, yang disebut taksu. Jadi kalau memang kita ngeklik istilahnya, pas banget. Taksu itu yang menarik kita,” tutur wanita yang mengidolakan layang-layang Bali jenis Janggan ini. Yakni layang-layang dengan model ekor panjang, bak menyerupai naga.
Kendati begitu, tak semua pikiran orang Bali macam orang tua wanita yang mengajar di SDN 11 Sanur ini. “Wanita Bali selalu dituntut jadi ayu. Ngambil pekerjaan masak di dapur atau buat sampian untuk banten. Dulu kalau ada lomba layang-layang, yang perempuan palingan jadi sie konsumsi. Karena dulu kan tabu wanita main layang-layang,” ungkap wanita bermanik tajam ini dengan nada pelan. Selepas itu bibirnya mengulas satu senyuman. Mulai membongkar satu per satu cibiran warga yang pernah menyangkut di hati. “Ngapain anak perempuan main layangan? Kalau orang Bali bilangnya, nak luh sing ngelah gae! (anak perempuan tidak punya kerjaan! – red)” seru wanita berparas ayu ini menirukan cibiran yang berseliweran.
Cibiran itu lantas mendorongnya untuk membentuk komunitas wanita pemain layang-layang. Komunitas itu dinamakan Srikandi. Selaras dengan anggotanya yang dihuni oleh 15 wanita perkasa. Srikandi pun turut serta maju di medan perlombaan layang-layang. Baik itu di dalam Pulau Bali, ataupun mesti terbang ke luar negeri. “Ini lho kita, nggak usah malu dengan hobi kalau memang udah suka. Karena siapa pun bisa jadi apa pun, dan kami membuktikan wanita itu bisa jadi apa pun,” celotehnya mengakhiri perbincangan hangat mana kala hujan mengguyur Mertasari. Tetesnya melaju kencang tanpa ragu, seolah tak tahu malu. Serupa dengan warita cinta Nurhayati berjuang memeluk layang-layang Bali. (kar)

