Tampang awet muda di kala usia memasuki kepala lima, mungkin itulah julukan yang tepat untuk menggambarkan seorang wanita yang bekerja sebagai tenaga pendidik. Memiliki cita-cita sebagai guru memang sudah melekat dalam darah wanita kelahiran Denpasar, 26 Maret 1966 sedari kecil.
Sayangnya Dra. Ni Wayan Suciati, M.Pd atau sering disapa dengan panggilan Suci ini lahir dari keluarga yang tak mampu, yang mana kedua orang tuanya bekerja di ladang sebagai petani dan melihat kondisi kakak-kakaknya yang tak dapat menamatkan sekolah serta harus membiayai ketiga adiknya. “Cita-cita itu bagai punuk merindukan bulan yang tak mungkin terwujud”, begitulah andainya pada kala itu. Pendirian teguh yang dimiliki oleh perempuan yang berzodiak aries ini tak mematahkan semangatnya untuk mengejar mimpinya untuk menjadi seorang guru.
Perjalanannya dimulai ketika ia mendaftar sekolah SMP, namun dapat disayangkan wanita pecinta lagu pop melankolis ini tidak diterima di SMP Sumerta atau kini dikenal dengan SMP Negeri 8 Denpasar, alasannya karena minimnya informasi tentang jalur penghargaan, padahal ketika menduduki bangku sekolah dasar ia selalu memperoleh peringkat kedua di kelasnya. Alasan kedua dari ibu tiga orang anak ini adalah kurangnya biaya untuk bersekolah serta memiliki orang tua yang pemikirannya kurang terhadap pentingnya pendidikan itu. Satu tahun dilewati oleh wanita yang gemar menari ini untuk mencari modal demi dapat menimba ilmu di sekolah. Dimulai dari menjadi pengasuh bayi, buruh bangunan, hingga menjadi pencari sisa hasil panen atau biasa disebut dengan munuh.
Dengan tekad yang kuat serta dorongan teman-temannya membuat penggemar Nelson Mandela ini tersadar dan langsung memutuskan melanjutkan sekolahnya. Ditemani oleh sang kakak sepupu, akhirnya setelah melewati masa SMP, penyuka makanan urap ini melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 3 Denpasar. Menimba ilmu selama tiga tahun di Trisma, ia lantas memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Fakultas Keguruan program studi Geografi. Karena keseriusan dalam menjalani program kuliahnya, akhirnya anak dari pasangan I Wayan Sadia dengan Ni Nyoman Rempeh (alm.) menamatkan kuliahnya pada 21 Juli 1990. Selama jenjang kuliah, dirinya tetap menorehkan sederet prestasi seperti memperoleh ranking 2 pada program studi geografi, juara 1 lomba Tari Kijang Kencana, dan juara 3 pada lomba atletik cabang lari 100 meter.
Setelah lulus dari perkuliahan, wanita penyuka serial drama keluarga ini mengamalkan ilmunya dimulai dari menjadi guru honorer hingga kini menjadi Pegawai Negeri Sipil. Hingga kini dirinya berhasil menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri 4 Penatih, serta segenggam kenangan perpisahan di SD Negeri 6 Penatih yang membuat dirinya tak akan melupakan kejadian pada hari itu. “Begitulah suka-duka saya menjadi pendidik, apabila dilaksanakan dengan baik dan ikhlas pasti kendala itu bisa kita lalui”, tutupnya.

