Rasa sedih, gundah, ataupaun galau, tidak harus dilimpahkan kepada seseorang. Tapi, dapat juga dilimpahkan kepada sesuatu.
Ni Putu Ayu Deviyanti, sejak kecilnya sebenarnya tidak suka menulis. Namun, ketika SMP, suatu momen yang menyesakkan menimpa dirinya. Orang tuanya bercerai. Rasa sedih dan gundah menyelimutinya saat itu. Dan rasa itu, dilimpahkannya dengan menulis.
“Menulis bagiku itu seperti sebuah pelarian. Jadi waktu aku lagi pengen nangis, aku nulis. Dengan itu, kesedihanku itu jadi terlampiaskan dalam tulisanku. Alhasil, tulisan yang aku buat genrenya sedih-sedih gitu,” jelas remaja yang akrab disapa Depik ini.
Tulisan yang ia buat biasanya berbentuk cerita pendek (cerpen). Sampai saat ini, sudah sekitar 20 cerpen yang ia buat. Lima diantaranya sudah rampung dan siap dipublikasikan. Cerpen yang sudah rampung biasanya ia publikasikan di blog, dan wattpad. Viewers yang membaca cerpennya di wattpad tidak dapat dibilang sedikit. Salah satu cerpen yang ia kirim pada pertengahan tahun 2015 lalu saat ini viewersnya sudah mencapai empat ribuan.
Gadis kelahiran Denpasar ini, mengaku bahwa biasanya ide menulis ia dapatkan dari khyalan-khayalannya. Bila dikaitkan dengan peristiwa yang menimpanya di masal lalu, alur cerpen yang ditulisnya sering kali berisi tentang permasalahan ruumah tangga. Penyelesaian kerumitan permasalaan rumah tangga yang pernah diketahuinya, disajikannya dalam cerpen dengan mudah. Seolah-olah, masalah rumah tangga itu dapat diselesaikan tanpa perceraian.
“Senengnya, dalam cerpenku itu aku bisa jadi tokoh utamanya. Khyalan-khayalan yang gak kesampaian juga biasanya aku tulis di cerpen,” akunya. Cerpen yang Depik tulis biasanya berisi cerita sedih yang bisa bikin orang nangis. Depik harap, dari cerpennya itu, nantinya ia dapat membuat novel.(nan)


