Lontaran pujian dari orang-orang, tak lantas membuat gadis ini besar kepala. Dibiayai sampai dapat menjejakkan kaki di negeri Paman Sam? Dia pun tak pernah menyangkanya.
Namanya Ni Putu Intan Apsari. Bulan Mei lalu, gadis berkacamata ini, bersama rekannya Cok Laksmi Pradna Paramita, mewakili Indonesia, dalam ajang bergengsi taraf Internasional. Sebanyak 1,760 peneliti muda dari 77 negara, termasuk mereka, berkompetisi dalam ajang Intel ISEF 2016.“Nggak nyangka banget,” begitu ungkapnya dengan mata berbinar, ketika diwawancarai Senin (13/06) “Bisa lolos di seleksi awal proposal aja udah seneng banget, apalagi bisa sampe Amerika,” sambung Intan, sapaan akrabnya. Hasil yang sebegitu menakjubkan, tentu tidak dapat dicapai begitu saja. Berbagai aral melintang pernah ia hadapi selama setahun pengerjaan penelitian tersebut. Ketidakserasian dengan orang-orang di sekitar, masalah di sekolah, dan berbagai hal yang sempat membuat mentalnya down.
“Sempet pas h-beberapa hari mau berangkat ke Amerika ada sesuatu yang kurang di penelitian kami. Itu bener-bener sempet buat kami kebingungan banget. Tapi ya bagi saya nggak boleh berjuang setengah-setengah. Kami nggak akan berakhir, sebelum sampai akhir,” begitu tuturya semangat. Jiwa peneliti, memang sepertinya sudah terbentuk pada diri Intan. Bagaimana tidak, dunia penelitian sudah ia geluti sejak kelas 1 SMP. Meskipun berawal dari iseng, berbagai kompetisi sudah pernah ia juarai ketika masih duduk di bangku SMP. Seperti Juara 1 OPSSH SMA Negeri 3 Denpasar, Juara 2 LKTI Dinas Kebudayaan, Juara 2 LKTI Humaniora Universitas Sastra UNUD serta Juara 1 Lomba Karya Ilmiah Remaja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Finalis Intel ISEF yang diraihnya sejak menjadi siswa SMA Negeri 3 Denpasar.
Orang-orang memang mengenal Intan yang sekarang sebagai peneliti muda berbakat. Tapi siapa sangka, Intan kecil ternyata memiliki prestasi lain yang membanggakan juga. “Percaya nggak kalo aku dulu pas SD pernah dapet Juara 3 melukis dalam Porseni Kota Denpasar?” Yak, Intan semasa kanak-kanak memang hobi menggambar. Mungkin bakat di bidang seninya itulah, yang membuatnya dapat berfikir kreatif dalam melakukan penelitian.
“Penelitian itu asik, bisa bikin kita nyari tau sendiri tentang hal-hal baru. Dan pastinya kerja tahan banting!” tambahnya dengan semangat. (nan/aku)


