Perihal sensasi kebijakan pemerintah terkait pendidikan memang tiada habisnya. Sedikitnya terdapat 3 (tiga) kebijakan yang menggemparkan para siswa ‘penanti’ kelulusan tahun 2017. Alhasil, siswa jadi kelimpungan. Termasuk bagi Kadek Made Fitrayani (17), siswa SMAN 3 Denpasar.
“Kok bisa gitu mendadak perubahannya? Kaget pasti jadinya,” serunya. Fitra menceritakan, pada mulanya diri dan teman-temannya sudah berharap asa ketika isu penghapusan Ujian Nasional (UN) yang sempat booming pada akhir November 2016 silam. Seketika semua itu berubah, ketika pemerintah justru memberikan klarifikasi mengambil tindakan ‘mempertankan kembali’ Ujian Nasional. “Kalau UN itu tidak apa. Apalagi, untuk tahun ini pemerintah beri keringanan, kita boleh pilih satu Mata Pelajaran Peminatan. Selainnya tidak diujiankan,” papar Fitra. Tetapi, peristiwa itu justru berbuntut ‘lain’.
“Pemerintah malah menyelenggarakan juga UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional – red), yang mengujikan lebih banyak pelajaran. Jelas itu cukup membebani,” ucapnya. Tak hanya sampai disana, sebab pemerintah juga menetapkan untuk mengadakan kembali sistem Ujian Praktek, yang semula sudah divakumkan sejak 5 (lima) tahun silam. “Masalahnya, ujian praktek itu baru dikasi tahu ke siswa 2 hari sebelum ujian pertama dimulai! Kita belum mempersiapkan materi, cari bahan, dan yang lainnya. Kenapa itu tidak dipikirkan?” beber Fitra.
Fitra menganggap waktu belajar bagi siswa kelas 12 itu singkat, belum juga terpotong hari libur. Sementara, materi ujian yang mayoritas diambil dari semester 1-6 belum benar-benar terkuasai. Hal ini membuat mayoritas siswa cenderung merasa terbebani atas ujian-ujian yang diberlakukan oleh pemerintah. Alhasil, kepercayaan siswa terhadap sistem pendidikan jadi menurun. “Sistem sekarang itu berantakan, segalanya mendadak dan kurang persiapan,” sambungnya.
Rachmanda Mohammad Solikin (18) juga sependapat. Menurutnya, sistem ini justru ‘mengaburkan’ konsentrasi siswa. “Banyak gitu yang bingung harus belajar yang mana duluan. Apakah harus belajar untuk UASBN sekaligus UN karena memang banyak pelajarannya. Atau langsung fokus SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri – red),” ujarnya.
“Menurutku, perubahan sistem seperti ini cocoknya diterapkan untuk tahun depan. Karena persiapannya jadi lebih matang untuk tahun depan. Pemerintah harus pikirkan efeknya. Perubahan dadakan ini membuat siswa belum siap menghadapi segalanya,” kata Fitra. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat mempertimbangkan segala keputusan lebih matang. Agar, “Jangan asal menetapkan saja,” harap Fitra. (smy)

