Suka tak suka inilah wajah baru peradaban dunia : teknologi digital. Sudah saatnya remaja menentukan posisi : hendak berdikari memaksimalkan peluang, atau kembali pada masa pemerintahan Suharto, sebagai generasi bungkam yang tunduk begitu saja? Jumat,(16/08).
Remaja amat fleksibel, tidak kaku. Dalam urusan literasi misalkan. Lirih, memang, melihat kids jaman now jarang membaca atau sekedar melihat-lihat suatu yang dinamakan buku. Namun bila tak menyentuh buku, bukan berarti remaja serat literasi, tidak membaca. Media sosial saja pun cukup. Tak heran bila kini remaja terkesan “ogah” membaca, mereka merasa cukup membaca berita di media sosial. Syukur-syukur mau membaca jurnal, e-book, atau digital library melalui jaringan internet. Itu sudah merupakan pencapaian.
Sementara buku tidak lagi diminati, remaja Abian Kapas Tengah, Kabupaten Denpasar, Bali, yang tergabung dalam organisasi Madyapadma Journalitic Park malah ingin menerbitkan buku. Sebab kecintan pada tanah kelahiran membuat mereka ingin mengabadikannya dalam sebuah tulisan. Toh, walau tergolong awam bukan berarti tak mampu buat buku. Keinginan itu semula tercetus dalam diskusi guna membahas acara tahunan organisasi itu, Presslist 7. Dalam diskusi, Nyoman Putri Pradievy Syanthi, pemimpin desk buku itu memutuskan, “aku nargetin akan ada 4 buku yang terbit di Presslist 7, dan semoga semuanya bisa selesai,” kenang I Wayan Bagus Perana Sanjaya mantan ketua panitia penerbitan buku, menirukan pernyataan yang terlontar dalam koordinasi tahun 2016-an itu. Mendengar harpan itu, Bagus pun tergugah.
Pagi-pagi, kesokan harinya. Bagus dengan sigap menanti tugas yang harus dikerjakan di ruang Pradnya Paramita, SMAN 3 Denpasar. Ditengah kesediannya itu, Bagus beranggapan kapasitasnya dalam penerbitam buku seharusnya tidak benar-benar besar dan tidak harus terlalu tuyuh (repot). Oleh sebab prioritas acara organisasi itu ialah peluncuran Kantor Radio VOT (Voice Of Trisma-red). Pemikiran itu tersirat sebab terikat hal sepele : Bagus hanyalah bawahan dari panitia inti.
Bagus tidak secara gamblang menerapkan pemikiran itu. Lebih-lebih, “kak utik, ketua desk buku ngasik aku kepercayaan, wewenang untuk di bukunya itu.” kata Bagus. Hal tersebut membikin Bagus berlaku totalitas pada tanggung jawbnya. Bersamaan dengan itu, “aku benernya paling, dimana bidang buku ini baru aku jamah,” urainya. Bagus tidak menyerah. Ia yakini penerbitan 4 buku tersebut akan menjadi batu loncatannya, kala itu.
Persoalan tidak berhenti sebatas konflik batin saja. Kalangan intern, Madyapadma sendiri, yakni penulis buku, kerap menunda-nunda tulisannya. Alasnnya, ada pekerjan lain yang pula harus diselesaikan demi kelancaran acara tahunan Madyapadma. “Mulai dari sanalah aku ngambil gae lebih dari job deskku. Yang awalnya cuma ngumpulin tulisan, disuruh langsung ngedit tulisan, ngejar penulisnya, bikin prakata, disuruh juga bikin kerangka buku,” paparnya menjelaskan. Tanpa membeda-bedakan diri apakah dia panitia pelaksana atau panitia inti, ia menjalankan tugasnya sepenuh hati. Tidak sendirian, “saat jadi panitia aku dibantu sama Triadi dan koordinasi ke PSD,” ungkapnya. Mereka beradu dalam satu tekad: bila kita kerjanya maksimal, maka hasil pula tak berhianant. Keyakinan itu yang menjadikan keluh tak meluncur dari bibirnya.
Maksud hati ingin bekerja sesuai deadline. Apa daya keadaan tak mampu diduga. Satu hari sebelum Presslis 7 digelar, cover suatu buku belum ada. I Wayan Ananta Wijaya, pembina MP meminta Bagus pergi ke hutan mangrove, Serangan, untuk huntting foto. Didampingi PSD, sang koordinator, Bagus melesat menuju tempat itu. “Disana kita shoot beberapa foto. Setelah itu langsung balik ke sekolah. Trus revisi foto ke Kak Ananta” jelas Bagus. Tidak berjalan mulus. Sekian foto yang didapat justru tuai penolakan dari pembina. Ananta Wijaya Memberi pilihan : pilih foto yang menurut kalian terbaik dari keseluruhan foto itu, atau kalian balik lagi ke Serangan.
Niat awal ingin totalitas. Apa boleh buat. “Akhirnya kita balik lagi. Rasanya udah kayak terbang. Ngebut soalnya,” aku Bagus. Tak ingin kesalahan awal terulang. Kini mereka rancang stategi. “Kita revisinya langsung dari Serangan. Kirim ke temen yang ada di sekolah. Trus temen kita itu yg nyampein ke Kak Ananta,” jelas laki-laki itu. Tepat pukul 19.00 wita ¬tak ada satupun foto yang dianggap pas oleh Ananta Wijaya. “Udah bukan waktu yang pas untuk ambil foto lagi. Ya mau gak mau pilih foto yang ada,” tambahnya. Setidaknya Bagus dapat sedikit bernafas lega.
Kendati demikian, persoalan tidak selesai di situ. Tanggal 22 April 2016, apresiasi bertajuk Presslist 7 digelar. Acara ini menampilkan launching buku sebagai salah satu bagiannya. Runyamnya, di tengah pengesahan buku oleh Plt. Disdikpora Denpasar, Nyoman Ngurah Jimmy Sidharta W, hanya 3 buku yang ditelah tersedia. “Nah, saat penandatanganan buku yang ke dua, akhirnya Kak Utik dateng dari backstage. Dan huh lega,” ungkapnya antusias, kentara ia benar-benar mengingat hari itu. “Buku itu baru di print pagi dini hari. Karena kemarinnya buku itu baru fix secara keseluruhan,” tambah Bagus.
Setidaknya ia dapat bernafas lega. Namun belum usai. “hari pertama presslist aku jugaharus nyari undangan untuk berdah buku karena panitia bedah buku sama sekali gak ada muncul,” kenang Bagus. Ia paham bila itu bukan tugasnya. Tetapi dengan pertimbangan : bedah buku masih ada hubungannya dengan buku, ia menghendel tugas panitia Bedah buku. Panitia lain pun turut membantu. Semua saling membahu, saling menopang. Presslis 7 hari pertama suskses. Keesokan harinya, tanggal 23 April 2016, Presslist hari ke dua dilaksananakan. Melalui proses panjang, acara tahunan madyapadma berjalan lancar.
Harapan dan tekat Bagus juga anak-anak Madyapadma terbayar sudah, akhirnya. Barangkali Iinilah suatu keunikan di Abian Kapas Tengah. Lihat saja, “Kita bukan percetakan, tapi berani buat buku. Apalagi kita remaja. Itu menarik,” tutup Bagus Perana Santai. (cy)


