Di Indonesia telah menyaksikan banyak peningkatan signifikan dalam jumlah jurnalis muda. Lewat kegiatan PRESSLIST 14 ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan jurnalistik pelajar di Bali. Lewat ajang kompetisi ini merupakan langkah signifikan dalam meningkatkan kualitas jurnalisme muda di Indonesia.
Saat ini, banyak remaja yang memiliki potensi yang besar di bidang jurnalistik. Hal tersebut tercermin dari keberadaan ekstrakurikuler jurnalistik di hampir semua sekolah menengah pertama dan atas di Indonesia. Namun, kompetisi jurnalistik yang berkualitas masih kurang. Bertepatan di akhir tahun 2023, Madyapadma kembali menyelenggarakan ajang kompetisi jurnalistik yang dinanti-nanti oleh para jurnalis muda yaitu PRESSLIST 14 (Appreciation of Sineas and Journalist). PRESSLIST 14 (Appreciation of Sineas and Journalist) merupakan acara kompetisi jurnalistik Madyapadma yang telah meraih ribuan sorotan di mata publik. Banyak peserta yang mengikuti, dimulai dari peserta sekolah menengah pertama, menengah atas hingga kejuruan se-Indonesia.
Kali ini Madyapadma membawa tema “Meneguhkan Ke-Indonesiaan, Merajut Kemanusiaan, Perdamaian, dan Berkeadilan Sosial”. PRESSLIST 14 ini digelar mulai dari pendaftaran lomba tanggal 25 November 2023 hingga puncak acara tanggal 6 Januari 2024. Pada ajang perlombaan PRESSLIST ke-14 Madyapadma Journalistic Park SMA Negeri 3 Denpasar mengadakan Lomba Jurnalistik yang terdiri dari empat bidang lomba, yakni berita, artikel, profil, dan foto tingkat Pelajar SMP/MTs dan SMA/SMK/MA Se-Provinsi Bali.
Selain mengadakan Lomba Jurnalistik, PRESSLIST ke-14 juga menghadirkan Lomba Majalah. Perlombaan ini terbuka untuk pelajar SMP/MTs se-Indonesia. Majalah yang diperlombakan adalah edisi paling terbaru yang pernah diterbitkan pada kurun waktu dua tahun terakhir (2021-2023) baik majalah cetak maupun elektronik. Sesi penjurian majalah kali ini berlangsung selama 3 (tiga) hari. Dimulai dari tanggal 27 Desember 2023 hingga 29 Desember 2023. Penilaian Lomba Majalah meliputi aspek redaksional sebanyak 60% dan penilaian aspek artistik sebanyak 40%. Di dalam rubrik majalah meliputi aspek redaksional seperti Laporan Utama (Berita Utama), Profil (Biografi), Artikel (Opini), Resensi, Tajuk Rencana, IPTEK, Sastra, dan Fotografi. Sedangkan dalam aspek artistik menilai dari segi cover terbaik, layout yang terbaik, tipografi, komposisi dan warna yang seimbang dan selaras.
“Saya melihat ada 1 majalah yang didesain dengan menarik, cocok untuk target pembacanya, sayangnya kurang konsisten. Di beberapa halaman tampak membosankan dan ‘kosong’ serta sayangnya covernya tidak menarik, saya penasaran apakah ada kesalahan pada proses cetak atau pada proses desainnya. Tapi secara umum sudah bagus,” ujar I Dewa Agung Gede Agung Witara Sagamora (23) sebagai juri artistik dan foto di bidang lomba Majalah. Menurut nya, jika bicara tentang layout majalah, tentu harus ada pesan yang disampaikan, karena majalah termasuk dalam media desain komunikasi visual. Pesan tersebut tidak hanya disampaikan oleh teks/artikel tapi didukung oleh desain dan nilai-nilai estetik di dalamnya.
Beda lagi dengan lomba jurnalistik. Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dari beberapa bidang rubrik yang diperlombakan. Contohnya lomba pada bidang rubrik berita. Para peserta dituntut membuat berita dengan kedalaman materi yang baik, akurasi dan aktualitas fakta dan data, bahasa dan gaya penulisan, daya tembus narasumber, kesesuaian foto dengan berita serta teknik fotografi. Menurut salah satu juri yang menilai di bidang berita, Ayu Sulistyowati, S.E.,M.M.Inv. (46) mengatakan bahwa selama menjadi juri, ada satu hal yang masih menjadi kelemahan peserta mengenai persoalan data dan fakta yang mendukung tema maupun judulnya. Masih ‘terpukau’ di narasumber dan berlebihan di bagian kata-kata. Sehingga membuat berita tersebut ‘kosong’ tanpa ada pesan apapun dan malah menjadi opini diri sendiri.
Menurut Ibu Ayu Sulistyowati, S.E.,M.M.Inv. (46) Presslist merupakan sebuah ajang unjuk kemampuan dan kompeten di bidang jurnalistik dari SMA Negeri 3 Denpasar. “Narasumbernya Ok-Ok, tapi kalau hanya terpaku pada omongan narasumber, beritanya jadi sumir. Harus saling melengkapi. Belum ada peserta yang bisa menyampaikan beritanya itu dengan pesan untuk pembacanya itu apa. Hanya seperti tukang tulis dari narasumber serta menulis pendapatnya sendiri alias opini,” tutur beliau saat diwawancarai via daring oleh Tim Madyapadma (31/12).
Kriteria penilaian pada bidang rubrik profil pun sama seperti kriteria penilaian rubrik berita. Hanya saja, peserta diminta untuk menambahkan foto dari tokoh profil yang diwawancarai. “Kriteria profil ada beberapa aspek ya. Seperti bahasannya. Terus daya tembus narasumber. Human interest. Yang aku sangat meng-highlight human interest ya. Dan tentu keaslian dan semacamnya,” ungkap Ni Komang Yuko Utami (23), juri penilaian rubrik profil. Menurut Yuko Utami (23) untuk memulai menulis profil bukan dari identitas di awal tetapi kita bisa memulai dari sepenggal kisah tokoh yang mungkin menjadi pengantar awal yang akan jauh lebih menarik. “Alangkah baiknya dimulai dengan sepenggal kisah dia. Aku kurang begitu tertarik dengan dimulai dari biodata. Itu sangat umum. Aku suka ketika dimulai dari quote yang sangat menghentak pembaca. ‘Wah, benar sih’ ‘Oh, begini ya ternyata’ memberikan kesan ke pembaca,” ungkap Ni Komang Yuko Utami (23) lagi.
Lalu rubrik terakhir, yakni bidang rubrik artikel. Pada rubrik artikel, peserta harus teliti pada kedalaman materi, akurasi dan aktualitas fakta dan data, sikap kritis, bahasa serta gaya penulisan. Berbeda dari bidang rubrik berita dan profil, dimana menilai teknik fotografi peserta dalam foto tokoh yang diangkat. “Tanggapan saya melihat karya siswa sangat antusias, karena adik-adik bersemangat dalam mengelola majalah sekolah dan kemampuan menulisnya cukup baik. Acara penjurian berjalan lancar, dan sangat berbahagia karena majalah sekolah masih berjalan di beberapa sekolah,” terang I Nengah Muliarta (44) selaku juri penilaian rubrik majalah.
Menurut Bapak I Nengah Muliarta (44), Gaya penulisan dan kejelasan bahasa sangat mempengaruhi penilaian. Ketika gaya penulisan dan bahasa tidak jelas maka harus membaca berulang kali untuk mengerti maksud yang hendak disampaikan. Semestinya gaya penulisan yang baik dan bahasan yang jelas, kita cukup sekali membaca sudah mengerti. “Pastikan tujuan tulisan harus jelas sejak awal. Apakah tujuan penulisan artikel dimaksudkan untuk memberi informasi, memotivasi, atau membujuk pembaca? Berikutnya pastikan artikel memiliki pendahuluan yang menarik, alur ide yang logis, dan kesimpulan yang memuaskan. Berikutnya alur penulisan mudah diikuti pembaca. Sebagai penulisan wajib memahami target audiensnya. Sesuaikan gaya penulisan dan isi dengan kebutuhan dan minat audiens,” pesan I Nengah Muliarta (44) saat diwawancarai oleh tim Madyapadma, Sabtu (30/12)
Antusiasme dan semangat para peserta dalam mengikuti lomba tidak dapat dipungkiri. Begitu juga dengan antusiasme para juri dalam menilai semua hasil karya terbaik dari peserta. Akhir kata, tidak ada kerja keras yang akan menghianati hasil. Jatuh dan bangun itu hal biasa. Jangan takut gagal, tapi takutlah untuk tidak mencoba. Semangat untuk para peserta! Semoga dapat memperoleh hasil yang terbaik! (dcl/nda)

