Rasa percaya diri memang diperlukan dalam menjalani hidup. Banyak orang mengira kepercayaan diri adalah hal yang tak bisa dipelajari. Mereka menganggap kepercayaan diri berasal dari takdir, sehingga membuat mereka malas untuk berusaha mengembangkan dan melatih rasa percaya dirinya.
Percaya diri merupakan indikator yang penting untuk menghasilkan keberhasilan dalam kaitannya dengan aktivitas yang dilakukan oleh remaja dalam masa perkembangannya. Akan tetapi ada hal yang tidak dapat dimungkiri bahwa tingkat kepercayaan diri yang dimiliki oleh masing-masing individu berbeda-beda dan hal tersebut dipengaruhi oleh faktor lain di samping proses pendewasaan dirinya sendiri.
Kepercayaan diri adalah hal yang muncul seiring berjalannya waktu. Ada beberapa orang yang tampak lahir dengan rasa percaya diri penuh. Rasa percaya diri dapat dipupuk kemudian dipelajari pula. Semua orang bisa hidup dengan kepercayaan diri penuh, asalkan terus melatih dan mengembangkannya. Sebenarnya, rasa percaya diri itu muncul dari kombinasi pola asuh dan peristiwa yang terjadi di masa perkembangan. Memang membutuhkan waktu, tapi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka akan menghasilkan hal-hal yang baik.
Bagi I Kadek Agus Putra Mahendra (17) selaku siswa SMA Negeri 3 Denpasar mengaku rasa percaya diri sangat diperlukan di dalam kehidupan. "Membangun rasa percaya diri yang baik sejak dini akan memudahkan seseorang dalam berkembang dalam berbagai aspek kehidupan yang akan ditempuh nanti," ujar Agus saat diwawancarai oleh Tim Madyapadma (21/07).
Survei dari Standard Chartered menunjukkan pandemi covid-19 berpengaruh signifikan terhadap keuangan pribadi secara global dengan sekitar 50 persen orang Indonesia dan sepertiga orang secara global mengalami penurunan penghasilan. Lebih dari setengahnya mengantisipasi pandemi ini akan berpengaruh terhadap penghasilan dan pekerjaan.
Namun demikian, menurut survei Standard Chartered, Indonesia termasuk negara yang orang-orangnya cukup percaya diri (85 persen) bahwa mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk berkembang di masa depan yang semakin mengarah ke digital (dibandingkan angka global: 77 persen).
Setiap manusia telah diciptakan oleh Tuhan dengan memiliki rasa kepercayaan dirinya masing-masing, namun setiap rasa percaya diri di dalam manusia memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Ada yang memiliki rasa kepercayaan diri yang kurang dan ada yang memiliki rasa kepercayaan diri lebih, sehingga keduanya menampakkan perbedaan tingkah laku yang cukup signifikan.
Bagi Ni Kadek Nilla Dwi Cahyani (15) selaku siswa SMA Negeri 6 Denpasar mengaku tidak semua orang walaupun sebenarnya dia percaya diri tapi awalnya pasti terasa pendiam. "Terkadang saya sendiri juga takut, dalam hal kecil apalagi baru mulai masuk SMA otomatis kan nggak tahu siapa saja teman-temannya. Mau mulai obrolan rasanya bingung mulai dari mana terus nggak PD gitu mulai nge-chat duluan. Jadi nungguin dulu," tutur Nilla. Berbeda pula dengan Agus, dimana kurangnya rasa percaya diri bisa saja diakibatkan karena mereka tidak mengetahui kelebihan yang mereka miliki, "Seseorang akan merasa kurang dengan apa yang dimiliki oleh orang lain dan biasanya itu dihasilkan dari kebanyakan main sosmed, melihat banyak orang lebih baik sedangkan diri sendiri merasa kurang dan juga tidak mengerti materi saat belajar daring dan selalu merasa bodoh".
Sebagian besar orang-orang hanya akan mencari tahu baik apa kekurangan maupun kelebihan yang terletak pada diri mereka. Selalu merasa tidak bisa melakukan ini ataupun itu dan membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan tidak pernah mengapresiasi apa yang bisa mereka lakukan, "Jika seseorang dapat mengetahui, menerima, serta menghargai apa kelebihan yang mereka miliki maka rasa percaya diri pasti tumbuh. kelebihan kita dapat diketahui jika kita terus mencoba berbagai macam hal (yang positif) sehingga nanti setelah mencoba banyak hal kita akan mengetahui kelebihan yang kita miliki," tutup Agus. (cd/krn/chk)

