Siswa lebih menyukai model evaluasi pembelajaran melalui keikutsertaan siswa dalam lomba-lomba sesuai minat dan dan melalui proyek satu semester dan presentasi. Itu tercermin dalam polling Madyapadma-online. Lantas bagaimana hasil lengkap polling tanggapan remaja tentang evaluasi belajar di masa pandemi?
Sudah menjadi keharusan bagi guru sebagai tenaga pendidik untuk berusaha mengetahui hasil pembelajaran yang dilakukan. Tujuannya tentu untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran yang dia lakukan dapat mengembangkan potensi peserta didik. Salah satu cara diantaranya melalui evaluasi. Evaluasi sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk membuat kebijaksanaan dan keputusan, menilai hasil yang dicapai para pelajar, menilai kurikulum, memperbaiki materi dan program pendidikan, dan lain-lainnya.
Hasil evaluasi dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas dunia pendidikan kita agar menjadi lebih baik. Namun sayang kebijakan pendidikan yang ada sampai sekarang masih jauh dari harapan. Made Adi Soekariawan (36) yang kerap dipanggil Adisu, selaku guru Kimia serta PKWU SMA Negeri 3 Denpasar, mengatakan bahwa sesuai dengan esensi dari pendidikan yang ia pahami, pendidikan itu mencerdaskan manusia hingga memanusiakan manusia. Bukan seperti saat ini yang terkesan merobotkan manusia. “Secara pribadi saya merasakan hilangnya roh pendidikan yang seharusnya membuat siswa tertarik dan membangkitkan rasa ingin tahunya, saat ini justru lebih terasa tekanan yang menumpuk dan sangat menjemukan,” ungkap Adisu saat diwawancarai oleh tim Madyapadma via online beberapa waktu lalu.
Evaluasi belajar sebagai pengukur ketercapaian pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa tidaklah boleh sampai membebani atau bahkan sampai membuat peserta didik tertekan. Lantas bagaimana tanggapan para remaja terkait evaluasi yang dilakukan semala pembelajaran jarak jauh di masa pandemi?
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim Madyapadma-online kepada 120 remaja di empat kabupaten/kota di Bali, yakni Denpasar (65%), Gianyar (17,5%), Badung (14,16%) dan Tabanan (3,33%). Dengan batas usia 13-20 tahun pada tanggal 23 Maret – 07 Juni 2021. Responden polling terdiri dari 67,5% perempuan dan 32,5% laki-laki. Dengan memanfaatkan formulir Google.
Hasil mengejutkan tampak dari 46,66% responden yang menjawab bahwa evaluasi saat PJJ ini belumlah bersifat mencerdaskan dan berkarakter. “Sejujurnya saya merasakan kegelisahan, dan saya merasa mengalami stress ringan dan terkadang menangis melihat kenyataan bahwa tugas menumpuk ditambah informasi ulangan atau kuis yang mendadak. Stres dengan guru yang bagi saya kurang dalam mengevaluasi kinerjanya dalam mencerdaskan muridnya,” ujar Desak Made Nirmala Yoni (16) siswi SMA Negeri1 Denpasar.
Dari form yang diberikan, tim Madyapadma juga memberikan empat pertanyaan dengan pilihan evaluasi pembelajaran yang sekiranya akan di sukai oleh peserta didik. Adisu pun turut serta dalam menanggapi beberapa pilihan tersebut.
Hasilnya didapat bawah persentase paling tinggi di salah satu pertanyaan, yakni 46,16% responden menyukai sampai sangat menyukai evaluasi pembelajaran jarak jauh melalui sistem ulangan (tes lisan/tes tulis) pada akhir materi. Dalam hal ini, responden yang merasa evaluasi dengan sistem ini tidak menarik bagi siswa sebanyak 36,66%. “Suka-suka saja, karena dari dulu sistem ini yang paling banyak dipakai. Guru juga biasanya kalau ngadaiin kuis atau ulangan pasti diberi tahu seminggu sebelum ulangan atau paling lambat kemarinnya sebelum ulangan. Jadi itu membuat siswa lebih dapat mempersiapkan ulangan dengan baik,” aku Made Angga Yani (17) SMA Negeri 3 Denpasar.
Menurut Adisu, target akhir dari siswa kelas XII sendiri adalah menuju perguruan tinggi. Untuk itu, para siswa harus melalui sistem undangan SNMPTN, dan jika tidak lolos, mereka harus melalui UTBK, bahkan jalur mandiri. Tentu saja siswa harus memilih jalur sesuai dengan keinginan, minat, dan cita-citanya. Maka pembelajaran yang harus dilakukan adalah banyak berlatih soal. Sehingga menurutnya, evaluasi yang baik untuk tahap ini adalah evaluasi tes sesuai dengan tipe soal dalam menghadapi UTBK.
Sementara itu, di pertanyaan lain terdapat 51,66% responden yang lebih menyukai sampai sangat menyukai evaluasi guru melalui tugas harian, ketepatan pengabsenan dan ketepatan pengumpulan tugas setiap harinya. Hal sebaliknya tampak dari persentase responden yang merasa sistem ini tidak menarik bagi siswa, yakni sebanyak 25% responden. “Saya pribadi lebih suka evaluasi sistem ini. Alasannya, ya karena saya sendiri adalah seorang yang lebih menyukai hal-hal simpel. Seperti ulangan tulis dan tugas harian, jadi saya hanya tinggal belajar atau membaca tentang materinya, setelah paham langsung membuat tugas ataupun ulangannya,” tutur Kadek Prima Martin Sanjiwani (16) siswi SMA Negeri 6 Denpasar.
Adisu beranggapan poin ini mempunyai keunggulan tersendiri terutama untuk melatih kedisiplinan siswa. “Tetapi dari segi pemahaman akan materi tentu saja tidak bisa disamaratakan akan terserap sama untuk semua siswa. Sepenting apapun mapel itu dibilang oleh gurunya, membuat siswa kembali tertarik pada mapel tersebut akan sulit sekali,” ujarnya.
Hasil berbeda juga ditemukan dengan 59,99% responden yang menyukai sampai sangat menyukai evaluasi pembelajaran jarak jauh yang penilaiannya melalui proyek satu semester dan presentasi. Dalam hal ini ada 23,33% responden yang merasa evaluasi dengan sistem ini tidak akan disukai oleh siswa. “Saya suka sistem ini karena, tugas proyek yang diberi punya deadline yang lama. Jadi murid punya waktu untuk berpikir dan membuat tugas sebaik mungkin dan kalau pakai sistem ini tugas yang diberi tidak akan menumpuk sepeti tugas harian,” ujar I Kadek Angga Widanta (15) siswa SMP Dwijendra.
Selaku seorang guru PKWU, menurut Adisu, esensi dari PKWU adalah mempunyai jiwa entrepreneur. Untuk memahami jiwa entrepreneur, maka langsung menjadi entrepreneur adalah jalan terbaik, di mana siswa diajak untuk menjadi seorang CEO atau mungkin owner dari suatu usaha adalah cara yang baik dalam proses memahami dan menjiwai diri sendiri sebagai entrepreneur. “Evaluasi yang dilihat adalah proses bagaimana dia menyusun usahanya, walaupun itu hanya tahap imajinasi. Setidaknya ke depan siswa akan mempunyai rencana cadangan ketika rencana utama gagal terwujud,” jelas Adisu. Oleh karena itu poin ini menurut Adisu adalah pilihan yang tepat.
Dalam pertanyaan terakhir, terdapat sebayak 60,82% responden yang suka sampai sangat menyukai penilaian melalui keikutsertaan siswa dalam lomba-lomba sesuai minat dan bakat masing-masing sebagai media evaluasi sekarang. Adapun persentase responden yang menganggap hal ini sebaliknya sebanyak 25% “ Ya, karena belajar akan suatu hal tidak melulu tentang pelajaran akademik / sekedar memahami teori, tapi diperlukannya sebuah praktik untuk mengajak siswa melihat dan belajar seberapa jauh mereka sudah mengasah kemampuannya,” ujar Putu Dyasty Hannyaningsih (15) siswa SMA Negeri 6 Denpasar.
Adisu beranggapan bahwa evaluasi ini sebenarnya merupakan sebuah jalan singkat bagi guru. Berbagai kompetensi dalam lomba juga sebenarnya sudah dilatih secara mandiri oleh siswa. Ia menjelaskan, sudah sepatutnya antara guru saling membantu untuk menajamkan kompetensi dalam mengikuti lomba. Padahal inti dari kompetisi adalah penyelesaian terhadap masalah. “Jika siswa mampu memberikan solusi pada suatu masalah, bukankah itu menjadi lebih berguna daripada pelajaran di dalam kelas yang kegunaannya kadang tidak jelas dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Adisu.
Jika membandingkan ke empat model evaluasi pembelajaran tersebut, terlihat model penilaian atau evaluasi melalui keikutsertaan siswa dalam lomba-lomba sesuai minat dan bakat masing-masing sebagai media evaluasi (60,82%) adalah paling disukai responden. Disusul evaluasi pembelajaran jarak jauh yang penilaiannya melalui proyek satu semester dan presentasi (59,99%). Berikutnya baru model evaluasi guru melalui tugas harian, ketepatan pengabsenan dan ketepatan pengumpulan tugas setiap harinya (51,66% responden). Terakhir yang paling sedikit model evaluasi pembelajaran jarak jauh melalui sistem ulangan (tes lisan/tes tulis) pada akhir materi (46,16% responden).
Hasil ini survei ini dapat menjadi bahan pertimbangan guru dalam memilih model evaluasi yang diminati siswa. Apalagi pendidikan seharusnya tidak membebani siswa. Sebaliknya, pendidikan itu seyogyanya menyenangkan dan mencerdaskan (Ekn/Ges).

