Masih menjadi perbincangan hangat mengenai Seleksi Bersama perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang merupakan seleksi bersama dalam penerimaan mahasiswa baru di lingkungan perguruan tinggi negeri. Pada 2021, pengumuman SBMPTN telah diumumkan pada 14 Juni.
Pernahkah kamu merasa ingin dengan suatu hal yang di mana suatu hal tersebut hanya bisa diraih dengan tekad dan kerja keras yang tinggi? Jatuh bangun menghadapi semua hambatan? Akhirnya suatu hal itu dapat tercapai juga meskipun hasilnya tak terduga? Banyak cerita yang telah menginspirasi terutama untuk pelajar tentang itu yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang.
Siapa yang tidak kenal dengan nama SBMPTN? Peserta yang tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2021 bisa mengikuti pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pada 22 Maret 2021 yang dapat didaftarkan pada UTBK-SBMPTN 2021 setelah pengumuman SNMPTN 2021.
Perasaan jatuh bangun dari tahun ke tahun dalam pelaksanaan SBMPTN yang telah dilakukan oleh siswa untuk bisa diterima di universitas yang didambakan. Salah satu siswa SMA Negeri 3 Denpasar bernama Dewa Ayu Putu Kanianita Sanjaya (18) yang baru saja lolos SBMPTN Agroekoteknologi di Universitas Udayana mengaku merasa lega sekaligus rasa cemas mengenai pengumuman UTBK-SBMPTN tersebut, "Apapun hasilnya itu merupakan yang terbaik. Sebenarnya persiapan aku untuk UTBK ini terbilang lumayan singkat. Hanya butuh waktu 2 bulan saja untuk belajar materi yang nanti akan keluar di UTBK. Tapi walaupun tidak 100% siap, setidaknya dengan terus latihan dan berdoa bisa meningkatkan tingkat kepercayaan diri untuk jawab soalnya,” ujar Kania saat diwawancarai oleh Tim Madyapadma pada hari Rabu (23/06).
Tidak kalah menariknya pengalaman dari Ni Made Nami Krisnayanti (18) selaku siswa SMA Negeri 3 Denpasar yang lolos jalur SBMPTN di Universitas Udayana jurusan Ekonomi Pembangunan yang mengaku merasa berdebar karena UTBK ini merupakan kesempatannya untuk kuliah di PTN, "Pas udah masuk ruang ujian perasaanku mulai tenang, karena aku tahu kalau aku panik itu bakal sulit untuk konsentrasi. Pas udah selesai UTBK aku nggak terlalu percaya diri sama hasilnya karena aku ngerasa ada beberapa soal mudah yang aku salah jawab dan aku takut banget skor UTBK ku kecil."
Banyak hal-hal yang tersembunyi dibalik perjalanan perjuangan pelaksanaan UTBK-SBMPTN tersebut, terutama dalam hal latar belakang keluarga yang menganggap apa yang diinginkan pun terasa diremehkan, "Karena aku milih jurusan yang masuk fakultas pertanian, semua nganggep remeh dan bilang 'nanti kerjanya gimana? kok nggak ambil jurusan seperti ajiknya (ayah - red) aja? uangnya kalo jadi petani ngga seberapa lho' dan lain-lain aku lupa karena ga dengerin," tutur Kania.
Berbeda pula dengan Nami yang menganggap kata 'remeh' itu merupakan suatu motivasi, "Kalau ngeremehin sih nggak ada, cuma dari orang tua selalu bilang 'masak di UNUD aja nggak lolos,' tapi aku tau maksud mereka bukan meremehkan tapi lebih ke memberikan motivasi dengan cara yang berbeda karena orang tuaku tau kemampuanku itu seberapa," ujar Nami.
Banyak rintangan dan juga kendala yang telah dilalui tidak hanya diremehkan tetapi juga mengenai materi pelajaran yang kebetulan lulusan UTBK-SBMPTN ini masih bersekolah dirumah, "Karena aku ini linjur, jadi buta banget tentang materi soshum. Jadi aku kadang kesulitan memahami materi, lalu aku nggak terlalu suka materi hafalan sedangkan soshum itu banyak hafalan, jadi susah buat mendalami materi soshum," tutur Nami. Berbeda pula dengan Kania yang merasa rasa 'malas' lah merupakan kendala utamanya, "Karena pandemi corona ini kan kita mau ga mau belajar harus bisa mandiri, mengatur dirinya dahyang susah. Terkadang udah telanjur diam di tempat tidur jadinya malas untuk sekedar mendengarkan materi. Selain itu juga tidak ada partner yang bisa diajak untuk belajar bersama biar tambah semangat, teman-teman yang biasa aku ajak udah banyak yang lolos jalur undangan dan jalur prestasi. Tapi untungnya karena aku sadar kalo nggak lolos SBMPTN ini aku bakal gap year, aku langsung berniat belajar," semangat Kania.
Dibalik hal mengenai SBMPTN, pastinya banyak hal seperti kegiatan yang telah dilakukan oleh siswa hingga bisa mencapai kata 'lolos'. Nami mengaku karena pandemi corona yang dimana kita belajar di rumah jadi memiliki banyak waktu untuk bisa belajar, Kan belajar di sekolah itu dari pagi sampai jam 12 maksimal, nah mulai jam 1 itu aku sudah baca-baca buku wangsit sama ngerjain soal semampu sore, lalu malamnya ngerjain try out, kalo ada PR dari sekolah aku kerjain dulu baru ngerjain TO," tutur Nami. Berbeda pula dengan Kania yang tidak memiliki strategi apapun untuk lolos UTBK-SBMPTN ini, "Sebenarnya aku engga punya strategi untuk menyeimbangkan antara waktu belajar dan mempersiapkan UTBK sih. Kalau ada tugas di sekolah yang harus dikumpulkan, buat terlebih dahulu tugasnya. Nanti malamnya jika tidak ada kegiatan yang lebih genting belajar untuk utbk sedikit sedikit," tutup Kania. (cd/krn/chk)

