Di tengah kondisi pandemi, semrawut pendidikan Indonesia juga semakin tak terkendali. Target kurikulum bahkan mulai menjadi patokan evaluasi sekarang. Lantas bagaimana tanggapan para remaja terkait evaluasi yang dilakukan semala pembelajaran jarak jauh di masa pandemi?
Di masa pandemi Covid-19 yang sedang menyerbu Indonesia, pendidikan di negara kita semakin semrawut, terutama soal pengaturan kurikulum. Kritik terhadap kurikulum kita saat ini ialah kurang tepatnya kurikulum dengan mata pelajaran yang terlalu banyak, dan tidak berfokus pada hal-hal yang seharusnya diberikan yakni penekanan dalam pendidikan karakter siswa. Bahkan lebih parahnya lagi kenyataan bahwa pada setiap sistem pendidikan kita masih ada segudang kekurangan terutama pada bidang evaluasi siswa yang efektif. Lantas bagaimana tanggapan para remaja terkait evaluasi yang dilakukan semala pembelajaran jarak jauh di masa pandemi?
Sekolah sebagai suatu organisasi pendidikan sangat perlu melaksanakan suatu sistem evaluasi. Dengan tujuan mengetahui tingkat pencapaian kinerja sekolah yang nantinya akan digunakan dalam proses perencanaan sekolah dan pengembangan mutu sekolah. Setiap guru dalam melaksanakan evaluasi harus paham dengan tujuan dan manfaat dari evaluasi atau penilaian tersebut. Ni Made Angga Yani (17) siswa SMA Negeri 3 Denpasar mengaku hanya beberapa yang mengadakan evaluasi berupa ulangan. “Di sekolah saya biasanya hanya beberapa guru yang memberikan evaluasi dan sisanya hanya memberikan tugas. Waktu pengerjaan pun lama untuk beberapa pelajaran dengan waktu yang lama ini saya bisa memahami materi tanpa di kejar waktu,” ujar Angga Yani.
Berbeda dari tanggapan Meira, I Kadek Angga Widanta (14) siswa SMP Dwijendra berpendapat bahwa sekolahnya sering mengadakan evaluasi pembelajaran dalam bentuk ulangan di akhir materi. “Di sekolah biasanya sering pakai ulangan kalau sudah selesai satu BAB. Jujur, enaknya belajar menurut saya cuma bagian ulangannya saja. Karena saya masih bisa tanya orang tua atau liat google. Kalau ngerti atau tidak sama materinya, jelas saya belum terlalu mengerti,” aku Angga.
Tak sampai di situ, Ni Putu Desiana Apsar siswi SMA Negeri 5 Denpasar juga mengalami keadaan yang sama. “Guru saya memberikan materi dan video pembelajaran lalu tugas setelah itu ulangan dan lanjut ke bab berikutnya. Menurut saya itu sangat cepat dan biasanya guru memberikan deadline yang dekat, tanpa memikirkan bahwa kita para murid memerlukan waktu yang lama untuk memahami materi,” tutur Desiana
Dari tanggapan tersebut, dapat diketahui masih adanya kekeliruan evaluasi pendidikan muncul. Ada guru yang tidak menghiraukan tentang kegiatan evaluasi ini, yang penting ia masuk kelas, mengajar, mau ia laksanakan evaluasi di akhir pelajaran atau tidak itu urusannya. Yang jelas pada akhir semester ia telah mencapai target kurikulum. Ini yang menjadi permasalahan dalam dunia pendidikan saat ini.
“Anak saya yang paling kecil sekarang kelas 4 SD. Saya sadar kalau pembelajaran selama PJJ tidak sepenuhnya masuk ke otak anak. Kalau saya tanya pasti tidak tahu jawabannya dan pas ulangan malah semua tanya saya atau cari di google. Saya sering bantu anak saya belajar tapi lama-lama malahan saya rasa bukan anak yang sekolah tapi orang tua,” aku Ni Wayan Witari (45) selaku orang tua siswa. Witari juga menambahkan akan pentingnya evaluasi dalam pendidikan. “ Penting, dari evaluasi guru bisa tahu sampai mana siswa mengerti pelajarannya. Tapi kalau sekarang semua anak sudah pada menyontek jadi percuma saja. Menurut saya itu yang harus diperhatikan,” ucap Witari.
Dengan keadaan seperti ini, ada beberapa evaluasi yang dirasa akan sangat membantu untuk tercapainya sistem pembelajaran yang berpatokan pada esensi pendidikan. Yakni melakukan tes/uji secara lisan. Karena jika anak melakukan evaluasi secara lisan, maka hasilnya akan dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan secara langsung serta, dapat menolong siswa sebab siswa dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang diberikan guru. Lalu ada juga memalui keikutsertaan siswa dalam lomba-lomba sesuai minat bakat mereka. Dengan mengikuti lomba, anak akan terpacu untuk mulai berpikir kritis dan memecahkan masalah yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Yang terakhir upaya evaluasi melalui proyek satu semester yang akan di kerjakan siswa. Dengan melakukan proyek siswa akan terlatih untuk kreatif mengkreasikan proyeknya dan disiplin dengan waktu. “Saya setuju saja tes lisan, tapi mungkin untuk lomba dan buat proyek dilakukan sebulan sekali sepertinya susah” ujar Angga Yani
Terlepas dari itu, tercapainya target kurikulum menjadi tujuan evaluasi. Maka tujuan dari evaluasi sesungguhnya, yaitu mengetahui tingkat pencapaian kinerja sekolah yang nantinya akan digunakan dalam proses perencanaan sekolah dan, pengembangan mutu sekolah belumlah tercapai. Evaluasi ada untuk tercapainya tujuan pendidikan yang memerdekakan manusia. (Ekn)

