Esensi pendidikan adalah mencerdaskan, membentuk karakter dan memerdekakan kehidupan manusia. Lantas bagaimana tanggapan remaja Bali terkait sekolah sebagai pendidikan formal di era pembelajaran daring, apakah sudah mencerdaskan, atau malah sebaliknya?
Pendidikan bukan hanya tentang belajar di sekolah, namun lebih dari pada itu. Esensi pendidikan pada dasarnya adalah misi pembentukan karakter. Itu tercantum dalam tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan Pendidikan nasional itu adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia Yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, Cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab
Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003 itu esensi pendidikan adalah mendidik dan membentuk karakter bukan sekedar pembelajaran semata. Sayangnya, pemahaman tentang konsep pendidikan pun semakin kabur, sehingga esensinya pun hilang. Ada kecenderungan makna pendidikan dikurangi menjadi sekedar pembelajaran. Pemahaman tentang pendidikan sama dengan pembelajaran justru menghilangkan esensi pendidikan. Lantas bagaimana tanggapan remaja Bali terkait sekolah sebagai pendidikan di sekolah di era pembelajaran daring, apakah sudah mencerdaskan, ataupun malah sebaliknya?
Untuk menjawab pertanyaan itu tim Madyapadma-online menyelenggarakan polling terhadap 100 remaja di empat kabupaten/kota di Bali, yakni Denpasar (70%), Gianyar (14%), Badung (13%) dan Tabanan (3%). Dengan batas usia 13-20 tahun pada tanggal 23-24 Maret 2021. Responden polling terdiri dari 76% perempuan dan 24% laki-laki. Polling menggunakan metode acak sederhana dengan bantuan formulir Google (Google form).
Hasilnya, 56% responden setuju bahwa sekolah sebagai pendidikan formal memiliki fungsi untuk membantu mengembangkan kemampuan dan, membentuk watak serta, peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan sebanyak 42% responden juga sangat setuju dengan pernyataan ini. Nyatanya inilah esensi pendidikan yang seharusnya di terapkan di sekolah sebagai sistem pembelajaran, yakni fokus pada pengembangan karakter. “Saya setuju, karena yang dibutuhkan siswa sekarang adalah karakter yang baik. Siswa bukan hanya harus pintar tapi juga harus tahu bagaimana cara bersikap dan menggunakan pengetahuan yang di punya dengan baik,” ujar Kadek Meira Ananda Widya Bestari (16) siswi SMA Negeri 3 Denpasar.
Di saat sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti sekarang, diharapkan tetap berpegang pada payung esensi pendidikan yakni bersifat mencerdaskan dan berkarakter. Maka diperlukanlah sebuah evaluasi pembelajaran yang cocok dengan kondisi PJJ. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui ketercapaian suatu tujuan. Terkait hal itu, hasil mengejutkan terlihat dari 44% responden yang menjawab bahwa evaluasi saat PJJ ini belumlah bersifat mencerdaskan dan berkarakter. “Sejujurnya saya merasakan kegelisahan, dan saya merasa mengalami stres ringan dan terkadang menangis melihat kenyataan bahwa tugas menumpuk ditambah informasi ulangan atau kuis yang mendadak. Stres dengan guru yang bagi saya kurang dalam mengevaluasi kinerjanya dalam mencerdaskan muridnya,” ujar Desak Made Nirmala Yoni (16) siswi SMA Negeri1 Denpasar.
Angka berbanding terbalik tampak pada 27% responden yang meyakini evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh sekolah sudah bersifat mencerdaskan dan berkarakter. “Saya rasa tidak ada yang saya resahkan terkait tugas ataupun evaluasi pembelajaran jarak jauh. Menurut saya pribadi, saya sudah melaksanakannya baik itu tugas ataupun evaluasi pembelajaran jarak jauh dengan cukup baik dan lancar,” aku Kadek Prima Martin Sanjiwani (16) siswi SMA Negeri 6 Denpasar. Sisanya sebanyak 24% responden tampaknya masih ragu dan enggan menjawab.
Sementara itu terkait apakah evaluasi pembelajaran di sekolah sudah dialukan dengan benar atau tidak, sebanyak 52% responden menjawab bahwa sekolah mereka sudah dan sering mengevaluasi pembelajaran siswanya. “Menurut saya sudah sangat sering, tapi menurut saya itu tidak efektif. Karena guru hanya evaluasi lewat ulangan, dan kebanyakan siswa, termasuk , suke menyontek ketika ulangan. Atau kalau di beri tugas siswa kebanyakan langsung salin dari Google,” ujar Kadek Angga Widanta (14) SMP Dwijendra.
Namun , masih ada sebanyak 24% responden yang mengaku sekolah mereka jarang melakukan evaluasi pembelajaran siswanya dengan baik. “Jarang. Misalnya guru memberikan tugas tanpa memahami kemampuan siswanya, mau bagaimana pun siswa tidak mengerti jika tidak diajarkan secara langsung. Ada beberapa siswa yang belajar melalui video cepat mengantuk sehingga kurang efektif,” tutur Maria Febi Vivian Winanda Rambu (17) siswi SMA Negeri 2 Denpasar.
Bukan hanya Febi, Komang Kesyavani Cahya Laksmi (16) siswi SMA Negeri 1 Denpasar juga menambahkan bahwa ia cukup kebingungan dengan evaluasi yang di lakukan sekolah. “Yang saya alami adalah tugas sering kali tidak diperiksa yang membuat saya bingung tugas yang saya kerjakan sudah tepat jawabannya atau belum,” aku Cahaya. Sisanya sebanyak 16% responden masih enggan untuk menjawab.
Berbicara mengenai pendidikan Indonesia, tidak terlepas dengan sosok Ki Hajar Dewantara yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional. Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan haruslah memerdekakan kehidupan manusia. Pendidikan mesti disandarkan pada penciptaan jiwa merdeka, cakap dan berguna bagi masyarakat. Hal itu dikarenakan kemerdekaan menjadi tujuan pelaksanaan pendidikan, maka sistem pengajaran haruslah berfaedah bagi pembangunan jiwa dan raga bangsa. Untuk itu, di mata Ki Hajar Dewantara, bahan-bahan pengajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan hidup rakyat.
Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan. Ia menginginkan peserta didik harus menggunakan dasar tertib dan damai, tata tenteram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. (ekn)

