Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terus berkembang. Bahkan disaat pandemic Covid-19 mencoba bertahan menggunakan teknologi digital. Lantas bagaiman persepsi remaja Denpasar terkait penerapan digitalisasi oleh UMKM di masa pandemi ?
Waktu tak dapat dihentikan dan akan terus berputar. Ini juga sejalan dengan teknologi yang semakin berkembang. Masyarakat yang seakan digiring untuk mengikuti zaman pun perlahan beralih ke kehidupan yang serba menggunakan media digital. Tak terkecuali dengan peningkatan Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Mereka beralih menggunakan media digital untuk usaha mereka. Jika diamati lebih lanjut, sebelum pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia penggunaan media digital oleh pelaku UMKM bahkan sudah mencapai 8 juta orang. Perkembangan ini terus berlanjut hingga tahun 2020, yang mencatatkan penambahan sebanyak 3,7 juta orang pelaku UMKM yang go digital. Bahkan, Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartanto telah menargetkan jumlah pelaku UMKM yang beralih menggunakan sistem digital tahun 2021 akan bertambah sebanyak 6 juta pelaku UMKM. Lantas bagaimana persepsi remaja Denpasar yang mengetahui perkembangan UMKM yang menerapkan media digital di masa pandemi?
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Madyapadma kepada 100 remaja di Denpasar dengan batas usia 13-20 tahun pada tanggal 1 Februari 2021. Responden polling terdiri dari 71% perempuan dan 29% laki-laki. Dengan memanfaatkan formulir google menggunakan metode acak sederhana.
Hasil yang didapat menunjukkan sebanyak 69% remaja Denpasar berpendapat penggunaan media digital oleh pelaku UMKM di Bali sudah gencar dilakukan. “Saya sudah banyak melihat UMKM yang beralih menggunakan media digital. Biasanya itu digunakan untuk mempromosikan barang yang di jual di store mereka,” ujar I Gusti Ngurah Agung Suastika (17) siswa SMA Negeri 1 Denpasar saat diwawancarai via online oleh tim Madyapadma pada Senin (01/02).
Angka yang berbanding terbalik tampak pada 12% responden yang berpendapat bahwa para UMKM belumlah gencar menggunakan media digital dalam usaha mereka. Ni Wayan Sahya Pavita Nariswari (15) siswi SMA Negeri 3 Denpasar berpendapat para UMKM cenderung lebih memilih menggunakan metode tatap muka dari pada media digital karena dianggap sulit bersaing dengan usaha lain. “Menurut saya UMKM cenderung lebih memanfaatkan media tatap muka, karena yang saya liat UMKM di sekitar lokasi rumah saya cenderung seperti menganggap UMKM yang memanfaatkan media digital akan sulit untuk bersaing dengan usaha lainnya yang memang sudah terkenal di media sosial,” ujar Sahya.
Perkembangan media digital yang sejalan dengan majunya teknologi juga turut mempengaruhi perkembangan UMKM di Bali. Ini terbukti dari 59% responden yang berpendapat dari penerapan digitalisasi membawa pengaruh pada UMKM. Bukan hanya itu, sebanyak 39% responden bahkan berpendapat hal itu sangat berpengaruh untuk UMKM. “Tentu ini sangat berpengaruh, dengan menggunakan media digital itu akan membantu meminimalkan kontak langsung antara penjual dan pembeli. Belum lagi penggunaan media digital akan mempermudah UMKM untuk memasarkan produk mereka,” ujar Alvin Caesar Mahendra (16) salah seorang siswa SMK Saraswati 2 Denpasar.
Kemudahan yang di dapat UMKM dari pengguna media digital apalagi dengan musibah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia membuat sebanyak 55% responden setuju dengan peningkatan jumlah UMKM yang di digital. Sebanyak 28% responden bahkan sangat setuju dengan hal ini. “Saya setuju karena dalam masa Covid-19 ini kita dianjurkan untuk tetap go rumah dan karena itu UMKM banyak yang berubah menjadi online karena sedikitnya pembeli offline karena takutnya terpapar Covid -19 ini saat keluar,” ujar I Ketut Cahaya Tirta Sharma Putra (15) Siswa SMK Negeri 1 Denpasar. Sisanya, hanya 7% responden yang tidak setuju dengan hal tersebut dan 10% responden yang enggan untuk menjawab.
Melonjaknya penggunaan media digital oleh UMKM di masa pandemi bahkan sudah terdapat pada survei yang dilakukan UNPD Indonesia. Mereka menyebut, adanya pandemi membuat para pelaku UMKM harus segera beradaptasi dengan cara bertransformasi dari offline menjadi online. Hasil survei mereka mencatat UMKM yang go digital melonjak menjadi 44% yang sebelumnya hanya 28%. Jumlah data UMKM di Bali yang didapat menunjukkan sebanyak 35.118 pelaku UMKM dari Denpasar, 13.620 orang dari Badung, 5.907 orang dari Tabanan, 5. 208 orang dari Gianyar, 1,259 orang dari Karangasem, 1.122 orang dari Jembrana, 622 orang dari Buleleng, 531 orang dari Bangli, dan 143 orang dari Klungkung.
Terlepas dari pada itu, pertumbuhan UMKM di Bali memang terkena dampak dari pandemi Covid-19. Sebanyak 39% responden berpendapat pertumbuhan UMKM di Bali memang akan terdampak dengan pandemi ini. Bahkan lebih dari itu, sebanyak 52% lainnya berpendapat hal ini sangat berpengaruh dengan perkembangan UMKM di Bali. “Semenjak pandemi pasti ada hal berubah seperti penurunan omzet dagang, karena kurangnya konsumen dan menurunnya minat beli akibat pandemi yang membuat ekonomi semakin krisis, tentu saja jika ini akan berdampak kepada pelaku dagang khususnya pedagang kecil dan menengah,” ujar Luh Putu Virgina Daras (15) siswi SMA Negeri 1 Denpasar.
Semakin banyaknya UMKM yang menggunakan media digital tentu akan turun membantu mendorong peningkatan nilai penjualan maupun transaksi Merchant. Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah adopsi QRIS per akhir 2020 meningkatkan 600% dibanding tahun lalu menjadi 171.994 merchant. Ini juga sejalan dengan pertumbuhan nilai transaksi pada merchant 171% per Desember 2020 di banding periode sebelumnya menjadi Rp. 22,72 miliar. Begitu pula dengan jumlah transaksi yang naik 183 % QrQ per akhir 2029 menjadi 269.000.(ekn)

