Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam bahasa daerah, termasuk bahasa bali salah satunya. Namun di dunia pariwisata yang semakin menyeruak, akankah bahasa yang dianggap sebagai bahasa ibu di bali ini tetap bertahan?
Dewasa kini era globalisasi semakin menjadi. Termasuk di Pulau Bali yang mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Salah satu aspek yang juga terpengaruhi akibat adanya arus globalisasi adalah tata bahasa. Bali memiliki sebuah bahasa ibu yang disebut bahasa bali. Namun naas, bahasa ibu yang seharusnya dilestarikan dan diaplikasikan di kehidupan sehari-hari justru makin jarang terdengar di pulau dewata ini. Kian hari bahasa bali makin terasa asing di telinga masyarakat bali. Adanya globalisasi membuat trend budaya luar bisa masuk dengan leluasa ke Bali. Ni Putu Krishna Devani Paramjyoti(15) salah satu remaja sekaligus siswi asal SMK Negeri 3 Denpasar menyetujui bahwa remaja bali cenderung menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa sehari-hari dan mengadopsi bahasa asing. “sebagian besar remaja bali lebih tertarik menggunakan Bahasa indonesia sebagai Bahasa sehari – hari, belum lagi pengaruh globalisasi yang menyebabkan bahasa berbagai negara juga masuk dan digunakan oleh remaja bali, jadi bahasa bali makin merosot,” tutur Devani Paramjyoti.
Pariwisata merupakan bidang yang melekat erat dengan pulau bali. Bahasa asing pun akan cenderung lebih banyak dikuasai sebagai modal untuk memasuki dunia pekerjaan. Hal ini diungkapkan oleh Ida Ayu Istri Agung Dhrmayanti, S.S.,M.Hum(28) selaku Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali. “Penggunaan bahasa bali di kalangan remaja kini mulai berkurang atau bisa dikatakan mengalami kemunduran apalagi adanya pengaruh bali sebagai daerah pariwisata sehingga remaja bali lebih tertarik mempelajari serta menggunakan bahasa asing dibandingkan dengan bahasa bali,” tutur Agung Dharmayanti. Agung Dharmayanti juga menambahkan bahwa penggunaan bahasa asing akan menampilkan kesan modern di kalangan remaja dibandingkan menggunakan bahasa bali. Apalagi dengan menguasai bahasa asing dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan di sektor pariwisata
Pada umumnya remaja bali menganggap bahasa bali sebagai bahasa yang susah dan penuh dengan banyak aturan. Penggunaan bahasa bali memiliki aturan yang disebut Anggah Ungguhin Bahasa Bali dimana aturan dan tataran bahasa terhadap lawan bicara. “Dengan adanya uger-uger seperti anggah ungguhing basa, artinya ada penggunaan tataran bahasa terhadap siapa lawan yang diajak bicara hal ini menyebabkan generasi muda Bali jadi kurang begitu fasih dalam berbahasa Bali tersebut” ungkap Agung Dharmayanti.
Selain itu, pengaruh dari lingkungan sekitar juga menjadi faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap penggunaan bahasa bali di kalangan remaja. Oleh sebab itu orang tua memiliki peran yang penting agar setidaknya di lingkungan keluarga remaja bisa mengenal bahasa bali sejak dini. “ Saya mengajarkan bahasa bali, sejak dini kepada anak agar membiasakan berbicara bahasa Bali yang sopan/halus saat anak dalam fase golden age, minimal untuk bisa mengucapkan permisi, terima kasih, minta tolong, dalam bahasa bali halus,” ujar Komang Asti Widiari Suari(43).
Menurut Komang Wirajaya (41) alangkah baiknya jika remaja bali bisa mengenal baik bahasa bali ataupun bahasa asing dengan baik agar dapat digunakan disituasi dan kondisi yang tepat. “Menurut saya itu kalau bisa memang keduanya dikuasai baik bahasa asing ataupun bahasa bali karena satu sisi bahasa bali bisa digunakan sehari-hari dalam berkomunikasi dan satu sisi penguasaan bahasa asing bisa memberikan nilai plus,” kata Wirajaya.
Alangkah baiknya bila bahasa bali dan bahasa asing bisa digunakan secara selaras. Seperti yang dilakukan Ni Wayan Risma Sugiantari(15), remaja sekaligus siswi asal SMK Negeri 2 Denpasar. “Di rumah aku gunain bahasa bali. Tapi, aku juga suka mempelajari bahasa asing, misalnya bahasa inggris. Karena bahasa asing itu juga penting bagi kita dan buat komunikasi di mayarakat aku pakainya bahasa Indonesia,” ungkap Risma Sugiantari. Faktanya, bahasa bali, bahasa Indonesia, serta bahasa asing merupakan bahasa yang sama-sama penting. Di tengah era globalisasi, alangkah baiknya agar bahasa bali tetap dijaga dan dilestarikan agar tidak mengalami kepunahan.(krn)

