Pemerintah memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk Jawa dan Bali tanggal 11 – 25 Januari 2021. Tujuannya menekan laju penyebaran Covid-19. Hari ini, Jumat (22/1) menginjak hari ke 12 PPKM. Berhasilkah?
Pada kurun waktu sebelas hari pelaksanan PPKM di Bali tercatat ada penambahan kasus positif 3.855 orang atau rata-rata 350,45 orang/hari. Bila dibandingkan pada periode yang sama dua minggu sebelumnya (28 Desember 2020 – 7 Januari 2021) yang jumlah penambahan kasus positif yang sebanyak 1.696 orang atau rata-rata 154,18 orang/hari, maka tercatat lonjakan mencapai 127,30 % atau dua kali lipat lebih.
Hal yang sama terjadi pada perhitungan pasien Covid-19 yang meninggal. Bila pada periode 28 Desember 2020 – 7 Januari 2021 terdapat penambahan pasien Covid-19 yang meninggal sebanyak 48 orang. Maka pada saat sebelas hari PPKM berjalan tercatat penambahan pasien Covid-19 yang meninggal sebanyak 57 orang. Itu berarti melonjak 18,7 %. Sementara itu untuk pasien Covid-19 pada periode 28 Desember 2020 – 7 Januari 2021 terdapat penambahan 1.310 orang atau 119,09 orang/hari maka saat PPKM berjalan sebelas hari tercatat pasien Covid-19 yang sembuh sebanyak 2.325 orang atau 211,36 orang/hari. Berarti melonjak 77,40%. Lonjakan penambahan yang positif Covid-19 lebih tinggi hampir dua kali lipat dibandingkan yang sembuh. Hal ini menyebabkan lonjakan pasien yang masih dirawat atau istilah medisnya, pasien aktiv Covid-19.
Lonjakan kasus postif dan meninggal Covid-19 tidak lepas dari sikap masyarakat yang semakin mengabaikan protokol kesehatan termasuk menyelenggarakan kegiatan yang menyebabkan kerumunan massal seperti upacara adat. Tidak itu saja, sikap abai juga terjadi dalam keseharian masyarakat Bali. Sikap abai itu dapat dilihat dari pemantauan tim Madyapadma pada Senin (18/01), tepat saat hari piodalan di Pura Penataran Ped selesai (red-sineb). Dengan menggunakan Fest Boat, dari Pelabuhan Kusamba menuju Pelabuhan Tribuana pukul 06.30 WITA. Dengan kapasitas boat yang mencapai 160 penumpang, tampak penumpang memenuhi semua kursi dan bahkan sampai harus berdiri karena tidak mendapat bagian kursi. Beberapa ada yang membawa balita sampai dengan bayi dan ada juga yang tidak menggunakan masker.
I Made Sudarta (50) salah satu penumpang boat pada hari itu, mengeluhkan hal yang sama. Rasa tidak nyaman Sudarta rasakan ketika memasuki boat. Karena keberangkatan Sudarta adalah kloter pertama ia pikir penumpang yang ikut dalam boat yang sama akan sedikit, namun kenyataan yang Sudarta malah sebaliknya. “Saat itu saya dan rombongan saya sekitar 30 orang berangkat dari Pura Ped jam 06.00, saya pikir sepi tapi, saat sudah masuk ke boat saya merasakan tidak nyaman karena kursi penumpang semua penuh dan juga ada yang tidak pakai masker,” ujar Sudarta saat diwawancarai tim Madyapadma, Kamis (21/01).
Sesaat ketika masuk ke boat, tampak para penumpang yang kebanyakan orang dewasa lanjut usia, sudah memenuhi hampir seluruh kapal. Terdengar juga ada beberapa penumpang yang mengeluh akan jumlah penumpang yang berlebih. “Saya dan beberapa teman saya sempat protes saat jumlah penumpang menurut saya sudah berlebih, saya lihat kira-kira ada 170-175 penumpang, belum lagi yang membawa balita dan bayi,” tutur Sudarta. Ia juga menambahkan sesekali ada orang yang batuk ataupun bersin di dalam boat tanpa menggunakan masker yang sedikit membuatnya khawatir.“Penumpang yang duduk sambil tidur di belakang saya sesekali batuk dan bersin tidak menggunakan masker. Tidak ada yang menegur sampai saya sendiri yang menegur penumpang tersebut, tapi malah tidak ada respon,” ujar Sudarta.
Perhatian masyaratkan terhadap prosedur kesehatan seperti menjaga jarak dan memakai masker inilah yang dinilai pemerintah masih sangat kecil sampai-sampai harus memperpanjang pemberlakuan PPKM. Perlu diketahui bahwa grafik Perkembangan Kasus Covid-19 di Denpasar oleh tim Madyapadma, terjadi lonjakan hebat kasus positif Covid-19 pada Selasa (19/01) yang hingga total 21. 930 orang. Angka ini bahkan sampai membuat Bali menduduki peringkat lima besar dalam kenaikan tertinggi kasus Covid-19 mingguan nasional.
Hal ini juga ditanggapi serupa oleh I Komang Arik Surya Saputra (16) siswa SMA Negeri 3 Denpasar. Ia mengatakan yang penerapan protokol kesehatan adalah hal yang utama untuk memutus mata rantai Covid-19. “Saya sangat miris mendengar hal ini, Masyarakat banyak yang mengeluh karena penerapan PPKM, tapi jika masyarakat sendiri tidak menaati protokol kesehatan sampai-sampai kasus Covid melonjak, jangan salahkan pemerintah yang akan terus memperpanjang PPKM,” ujar Arik.
Hanya saja, masyarakat tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Pemerintah provinsi Bali sendiri juga terasa agak kurang dalam menjalankan PPKM. Terbukti, ketika pemerintah pusat menetapkan batas jam buka mall dan pusat perbelanjaan pk. 19.00 malam, dengan alasan mengerem masyarakat berkerumun dan beraktivitas di mall. Sebaliknya, pemprov Bali memutuskan melonggarkan jam tutup mall itu menjadi 21.00 WITA. Dalihnya, memberi kesempatan masyarakat berbelanja. Kalau dicermati jam 21.00 WITA memang sudah banyak masyarakat Bali sampai rumah. Jadi harapan pemerintah pusat mengurangi aktivitas berkerumun di mall atau pusat perbelanjaan sepulang kerja, tidak terjadi di Bali. Kalau sudah seperti ini, siapa yang patut disalahkan? (ekn)

