Kebanyakan remaja pasti pernah merasakan yang namanya salah jurusan. Tak heran hal itu terjadi karena remaja pernah merasa bimbang saat memilih jurusan, apalagi dengan desakan orang tua. Yang merasa bahwa pilihan merekalah yang terbaik.
Penyesalan memang kerap kali datang di akhir. Juga kerap kali menghinggapi para mahasiswa ketika merasa tersesat di dalam jurusan yang dipilih. Kesalahan jurusan ini dapat menimbulkan dampak yang sangat fatal terhadap nasib mereka kedepannya. Boleh jadi menempuh pendidikan menengah di sekolah kesehatan, melanjutkan pendidikan di bidang hukum, lalu bekerja di bidang bisnis. Seolah melompat-lompat ke arah yang berbeda.
Berdasarkan penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017, diketahui sebanyak 87% mahasiswa Indonesia mengakui bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. Dan 71,7 % pekerja, memiliki profesi yang tidak sesuai dengan pendidikannya. "Penyebab tidak sesuainya jurusan yang dipilih, itu dikarenakan hampir 50,55% faktor eksternal calon mahasiswa, misanya karena dorongan orang tua, ikut teman atau bahkan dianggap mudah mencari pekerjaan," ungkap Pemerhati pendidikan dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Yohana Elizabeth Hardjadinata yang dikutip dari Republika.co.id,
Pilihan orang tua memang akan selalu memikirkan nasib anak kedepannya. Namun jika pilihan tak sesuai dengan hati nurani yang menjalaninya maka jutru akan menimbulkan bomerang untuk diri sendiri. Ida Bagus Megah Adi Permana(21) salah satu Mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Udayana ini pernah mengalaminya. "Pernah ada perbedaan pendapat, tapi akhirnya kita berdiskusi mengenai keunggulan dan kekurangan pilihan kita masing-masing untuk mencari pilihan yang dirasa terbaik untuk diri saya sendiri dan bagi orang tua saya," tutur Adi Permana saat dihubungi via daring oleh tim Madyapadma pada Minggu (20/12).
Anak Agung Alit Asri Pradnya Wedari(52) selaku ibu dari Adi Permana pun mengaku mendukung jurusan yang diambil oleh putranya. "Saya akan mendukung pilihannya, yang mungkin bagi saya dan dirinya terbaik untuk dilakukan, karena memang harus ada kesepakatan diantara kedua pihak terutama minat anak, jika tidak disesuaikan maka tidak akan ada hasilnya," ujar Pradnya Wedari.
Tak jarang pula ditemukan kasus dimana hanya sekadar memilih jurusan karena mengikuti teman dan keinginan sesaat sehingga berakhir dengan pendirian yang berubah-ubah. Faktor penyebabnya adalah wawasan yang kurang luas sehingga kurangnya pengalaman. Dan untuk menghindari dampak tersebut, orang tua memiliki peran yang sangat penting agar anak mereka tidak salah memilih. "Hal itu bisa saja terjadi dan oleh sebab itu perlu adanya perencanaan jangka panjang untuk di masa depan, dalam hal ini tentunya campur tangan dari orang tua sangatlah diperlukan mengingat pengalaman yang dimiliki orang tua jauh lebih banyak," ungkap Adi Permana.
I Dewa Gede Alit Dwija (58) salah satu guru Bimbingan Konseling di SMA Negeri 3 Denpasar menyuarakan bahwa jurusan yang dipilih harus sesuai dengan minat dan menanamkan motivasi di dalam diri agar berpendirian kedepannya. “Jurusan apapun yang dipilih haruslah sesuai dengan minat, cita-cita, dan jurusan yang diambil sebelumnya dan kedepannya. Selanjutnya siswa haruslah memiliki motivasi untuk menyemangati diri sendiri selama pendidikannya, selain itu pula patut mempertimbangkan prospek jurusan yang akan dipilih kedepannya," terang Alit Dwija. Pria dengan kumis tebal ini juga menyarankan agar orang tua tidak terlalu memaksakan kehendak jurusan yang putra-putrinya pilih. Hal itu hanya justru akan berakhir menjadi beban. (krn)

