Kasus Covid-19 di Bali terus melonjak di penghujung tahun 2020. Acara perkenalan lingkungan sekolah Kedinasan Perhubungan Kampus Politeknik Tranportasi Darat Bali yang diharapkan lancar, malah berujung heboh dengan 238 mahasiswa positif Covid-19. Akankah izin tatap muka oleh Kemendikbud tetap digunakan?
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memberi keleluasaan bagi pemerintah daerah dan satuan pendidikan melakukan pembelajaran tatap muka di semua zona mulai Januari 2021. Dengan demikian, jika sekolah hendak membuka kembali gerbangnya, maka haruslah memenuhi segala persyaratan dan berani menjamin kedisiplinan protokol kesehatan.
Kampus Politeknik Transportasi Darat (Poltrada) Bali pun memberanikan diri melakukan kegiatan tatap muka. Niat hati ingin menjalin hubungan baik antar mahasiswa dangan melaksanakan acara pengenalan lingkungan. Kampus Politeknik Transportasi Darat (Poltrada) Bali malah menghebohkan pulau Dewata karena menjadi kluster baru Covid-19. Tak tanggung-tanggung kampus Poltrada menyumbangkan 238 mahasiwa positif Covid-19 setelah dilakukan tes. Alhasil saat itu mahasiswa harus menjalani isolasi di asrama kampus.
Melihat hal ini Agus Putu Adi Wyadnya Yoga S.Pd.(26) selaku guru SMA Negeri 3 Denpasar sangat menyayangkan kejadian tersebut. “Bagi saya, timbulnya kluster ini besar kemungkinannya karena adanya kelalaian pihak kampus,” ujar Adi Wyadnya saat diwawancarai oleh tim Madyapadma via online pada Kamis (10/12).
Adi Wyadnya pun menambahkan, jika rencana pembelajaran tatap muka tetap dilaksanakan, maka akan berpeluang muncul kluster baru serupa kampus Poltrada. “Kalau kluster timbul kan karena ada satu atau lebih orang yang sudah terinfeksi virus corona yang lolos dari pengawasan bergabung ke dalam kerumunan. Kalau pembelajaran yang akan datang, sangat besar akan ada peluang munculnya kluster baru, apabila ada sebagian peserta didik atau guru yang tidak mengikuti protokol kesehatan,” ungkap Adi Wyadnya.
Lonjakan yang baru-baru ini terjadi, tentu menambah kekhawatiran dari setiap pihak. Sebab, hanya dalam waktu tiga hari (1-3 Desember), kasus Covid-19 di Bali mengalami lonjakan tinggi hingga 230 pasien. Dari sekian banyak pasien Covid-19, kasus kluster kampus Poltrada menjadi yang penyumbang pasien Covid-19 terbanyak. Dari awalnya 202 orang, pun terus bertambah hingga mencapai 238 mahasiswa.
Kendati para guru menilai kondisi saat ini belum siap untuk menggelar tatap muka. Ternyata masih ada sejumlah siswa yang mengharapkan rencana pembelajaran tatap muka pada Januari mendatang. I Putu Gede Raditya Wikadhyana (18) salah satunya, siswa asal SMAN 6 Denpasar. “Saya sangat mengharapkan sekali adanya pembelajaran tatap muka, oleh karena itu saya sangat antusias setelah mendapat kabar terkait pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan. Karena pembelajaran tatap muka lebih efektif dari pembelajaran daring,” ungkap Radit Wikadhyana.
Dra. Ni Wayan Atiri Dana (59) salah satu guru SMAN 3 Denpasar, pun mengakui jika memang cukup sulit untuk mengoptimalkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). “Banyak kendalanya dalam pembelajaran daring ini, yang pertama adalah internet yang tidak merata, yang kedua adalah dana. Dan juga tidak dapat sepihak-pihak untuk mengoptimalkannya,” tutur Atiri Dana mengharapkan adanya kerja sama antar guru dan siswa. Walaupun PJJ memang dilanda berbagai kendala, Atiri Dana memandang bila buru-buru menggelar pembelajaran tatap muka pun bukan solusinya. Terlebih lagi mengingat adanya kabar kasus Poltrada yang semestinya dapat menjadi pelajaran. “Saya cuma bilang jika belum siap, mending jangan coba-coba dulu untuk memulai sekolah offline,” ucap Atiri Dana.
Guru Biologi itu masih belum yakin bila pembelajaran tatap muka akan menjamin keselamatan seluruh siswanya. “Jika sekolah dimulai, kan nanti para guru tidak dapat memantau seluruh gerakan murid-muridnya. Apalagi para guru belum tahu seperti apa tingkah anak-anak nanti saat sekolah tatap muka dimulai,” ujar Atiri Dana cemas. Dirinya tahu betul Kemendikbud sudah memberi izin serta antusiasme siswa yang mengharapkan pembelajaran tatap muka. Namun, tatap muka digelar tidak hanya bermodalkan rasa antusiasme saja. Melainkan kesiapan dari seluruh pihak. “Kan sekarang dari Kemendikbud sudah diizinkan. Misal orang tua siswa sudah setuju, sekolah siap tidak untuk memfasilitasi sarana sanitasi dan kebersihan? Menurut saya untuk sekarang belum siap sih untuk memulai sekolah offline,” tegas Atiri Dana. (mta)

