Menghitung hari, tinggal sebulan lagi sebelum rencana pembelajaran tatap muka dimulai. Namun di tengah jalan, muncul kluster kampus yang mengejutkan. Berawal dari acara pengenalan kampus tatap muka, berakhir dengan isolasi ratusan mahasiswa.
Kluster itu kluster kampus Politeknik Transportasi Darat Bali (Poltrada), yang terletak di Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan. Cerita dibalik rekor lonjakan kasus harian Bali pada 2 - 3 Desember kemarin. Kampus itu telah mengundang mahasiswanya pada tanggal 7 - 8 November untuk menghadiri secara langsung acara pengenalan kampus. Dengan jaminan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Surat keterangan kesehatan bebas Covid-19 pun menjadi syarat awalnya. Sebanyak 311 mahasiswa berhasil bergabung dan menjadi peserta. Mengikuti acara pengenalan kampus selama sekitar 11 hari. Setelah acara itu usai, pihak kampus kembali mengadakan tes usap pada mahasiswanya. Dengan harapan, kondisi mereka masih sesuai dengan surat keterangan sehat di awal kegiatan.
Namun, alih-alih pulang ke rumah, sebanyak 238 mahasiswa dinyatakan positif Covid-19. Mesti mendekam di asrama Poltrada untuk jalani isolasi mandiri. Dari kluster kampus Poltrada ini, sejenak mengingatkan masyarakat terkait rencana pembelajaran tatap muka yang akan digelar pada Januari mendatang, Lalu bagaimanakah persepsi pelajar Denpasar mengenai pelajaran dari kasus kluster Poltrada?
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Tim Madyapadma kepada 100 remaja di Denpasar dengan batasan usia 13 - 20 tahun, pada tanggal 6 - 8 Desember 2020. Responden polling terdiri dari 66% perempuan dan 34% laki-laki. Dengan memanfaatkan formulir google teknik penyebarannya menggunakan metode acak sederhana.
Hasilnya, sebanyak 59% remaja mengaku tidak mengetahui adanya kasus kluster Poltrada sebagai dalang dari lonjakan hebat kasus harian di Bali. Sementara itu, ada 22% remaja yang telah mengetahui kasus mengerikan ini. “Aku sempat baca dari salah satu berita di media online, khawatir banget sih, tapi masih untung kalau ketahuan ya. Kalau misalnya nggak, udah bawa virus kemana-mana nularin ke orang lain,” ujar Ni Putu Ayu Dinda Upadani (16) siswa asal SMAN 3 Denpasar, kala dihubungi oleh Tim Madyapadma pada Senin (07/12).
Berkat adanya kegiatan pengenalan langsung di kampus Poltrada, grafik kasus Covid-19 di Bali meningkat pesat. Berdasarkan hasil rangkuman data Tim Madyapadma, jika dibandingkan dengan dua hari sebelum tanggal 2 - 3 Desember, maka grafik Covid-19 di Bali meningkat hingga 118%. Tak ayal, sebanyak 50% remaja terperanjat mendengar adanya kasus ini. Bahkan 41% mengaku sangat terkejut. Apalagi mengingat jika sebulan lagi perencanaan pembelajaran tatap muka masih belum menunjukkan tanda kepastian. Akankah pemerintah memutuskan membuka gerbang sekolah atau menundanya hingga waktu yang tepat?
Sebab sebanyak 55% pelajar menilai rencana pembelajaran tatap muka pada Januari mendatang berpeluang melahirkan kluster-kluster Poltrada lainnya. Terlebih, ada sebanyak 34% suara yang menilai sangat berpeluang. “Akan berpeluang, karena kita tidak tahu mana orang yang terjangkit dan mana orang yang tidak terjangkit. Jadi jika Januari mendatang akan dilaksanakan pembelajaran tatap muka, sangat berpeluang untuk memicu kluster baru seperti kasus Poltrada itu,” komentar Ni Kadek Indira Kusumayanti (16) siswa asal SMAN 7 Denpasar.
Terkait hal itu, sebanyak 35% remaja sepakat jika Kota Denpasar sebaiknya menunda perencanaan pembelajaran tatap muka bagi pelajar dari jenjang SD. SMP, maupun PAUD. 29% suara bahkan menyatakan sangat menentang adanya keputusan tatap muka ini. “Untuk SD, SMP, dan PAUD sih setuju, soalnya masih kurangnya pengertian tentang penyebaran COVID-19 ini, apalagi anak SD sama PAUD kan di bawah umur, jadi menurutku masih perlu pengawasan orang tua,” jelas Ni Putu Pradnya Swandewi (16) siswa asal SMAN 1 Denpasar.
Kendati begitu, 16% suara mengaku tidak setuju jika menunda lagi pembelajaran tatap muka bagi jenjang pendidikan tersebut. “Menurut saya lebih baik kalau Denpasar nggak nunda rencana belajar tatap muka untuk SMP saja. Sisanya untuk PAUD dan SD dapat nunggu angka COVID-19 turun dulu baru sekolah. Karena anak kecil rentan kena penyakit atau dapat juga jadi pembawa penyakit (carier),” terang I Gusti Ngurah Agung Swastika (17), siswa dari SMAN 1 Denpasar. Namun, data dari Kawal Covid-19 per 13 Juli menunjukkan bila tak hanya usia sekelas PAUD saja yang berpeluang berada dalam ancaman. Dari data tersebut, tampak angka kematian golongan usia 6 - 19 di Indonesia sudah mencapai 0,50%. Angka itu tergolong tinggi bila dibanding Singapura, Korea Selatan, dan Italia yang nihil. Bahkan, Cina sekalipun berada di bawahnya, yakni sekitar 0.18%.
Sedangkan perbedaan pendapat dari remaja juga terjadi dalam perencanaan pembelajaran tatap muka bagi pelajar SMA/SMK di Bali. Sebanyak 19% remaja menyarankan agar pemerintah Provinsi Bali tidak menunda rencana tersebut. Salah satu pendapat itu datang dari Ni Gusti Ayu Made Lusiawati (16) siswa SMAN 3 Denpasar. “Karena kurang lebih banyak dari kita sebagai siswa sangat memerlukan pembelajaran tatap muka. Apalagi selama satu semester ini, masih banyak materi yang kurang dipahami lewat belajar daring,” keluh Made Lusiawati mengungkit kembali lemahnya sistem Pembelajaran Jarak Jauh di Indonesia.
Di satu sisi, ada sebanyak 30% remaja yang berpendapat jika rencana pembelajaran tatap muka bagi SMA/SMK di Bali semestinya ditunda terlebih dulu. Bahkan terdapat 25% remaja yang sangat menolak pelaksanaan tatap muka. “Menurut saya pribadi, pembelajaran tatap muka masih harus ditunda dulu, untuk mencegah terjadinya penularan yang besar-besaran. Karena seperti yang kita tahu Bali punya arus mobilitas yang tinggi. Sampai saat ini juga kondisi di Bali masih belum kondusif dan aman dari penularan,” sanggah Anak Agung Istri Dinda Pramesti siswa SMAN 8 Denpasar. Bagi Dinda Pramesti, situasi yang pantas untuk melakukan pembelajaran tatap muka ialah ketika Covid-19 betul-betul dapat dikendalikan.
“Virus ini persentasenya lumayan tinggi, saya yakin nggak hanya saya yang khawatir terhadap kesehatan diri sendiri, keluarga, dan orang sekitar,” ucap Dinda Pramesti tak ingin menjadi korban dari kasus-kasus Poltrada selanjutnya. (mta)

