Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, membolehkan jika ada sekolah memilih tatap muka mulai Januari 2021. Tetapi dengan syarat ketat. Banyak yang bersorak sorai menyambutnya. Namun di tengah riuh itu, terselip kecemasan orang tua siswa.
Selama ini ada banyak pertanyaan yang menghujani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Makarim. Dari lika liku subsidi kuota belajar, kesiapan satuan pendidikan mengajar secara daring, atau siswa yang sekadar mencurahkan rasa jenuh belajar jarak jauh. Ada satu pertanyaan yang paling kerap dilontarkan. Kapan kembali belajar di sekolah?
Pertanyaaan itu akhirnya terjawab pada konferensi pers yang dilakukan Kemendikbud secara daring pada 20 November 2020. Pada konferensi pers tersebut Nadiem Makarim membolehkan sekolah-sekolah jika ingin melakukan pembelajaran tatap muka pada tahun 2021. Dengan memberi izin kepada seluruh daerah yang dinilai siap menjalaninya. Mengantongi izin pun tak sembarang begitu saja. Daerah harus mempertimbangkan kondisi risiko peyebaran Covid-19, kesiapan fasilitas layanan kesehatan, akses terhadap pembelajaran dari rumah, kesiapan satuan pendidikan, ketersediaan akses transportasi, dan kondisi geografis daerah. Sekolah yang ingin membuka gerbang, juga mesti memenuhi sederetan kriteria. Satu di antaranya merupakan izin dari orang tua siswa.
“Sekarang ini, Bali terjadi peningkatan kasus Covid-19 yang signifikan. Apalagi nanti setelah Pilkada dan liburan panjang. Ini masalah nyawa, siapa yang dapat menjamin? Saya lihat orang dewasa aja sering melanggar protokol, apalagi anak-anak,” keluh Ni Luh Putu Suryaningsih (45), kala dihubungi tim Madyapadma pada Kamis (03/12), Menolak keras rencana pembelajaran tatap muka. Suryaningsih cemas kebijakan ini dapat membahayakan putrinya, Ni Made Sabdha Devhani, salah satu siswa SMAN 3 Denpasar.
Pernyataan Suryaningsih nyatanya sesuai dengan situasi yang tengah dihadapi Bali. Mengejutkan sekaligus mengerikan. Pasalnya, kasus tambahan positif di Bali meroket hingga 432 pasien, hanya dalam waktu dua hari (2 - 3 Desember 2020). Berdasarkan data rangkuman tim Madyapadma, angka ini menunjukkan peningkatan kasus hingga 118% jika dibandingkan dengan total kasus harian pada 30 November - 1 Desember 2020.
Problema itu pun berasal dari kluster kampus. Sebanyak 202 mahasiswa Kampus Politeknik Transportasi Darat (Poltrada) Bali dinyatakan mengidap Covid-19 pada 2 Desember lalu. Akibat digelarnya acara pengenalan kampus. Jumlah itu pun terus bertambah hingga kini totalnya 238 orang.
Munculnya kluster baru ini pun tak ayal membuat kekhawatiran orang tua bertambah. “Saya rasa sekolah belum benar-benar siap untuk pembelajaran tatap muka. Terutama bagaimana mengatur agar siswanya tidak berkumpul atau tidak membuat kontak fisik? Bagaimana dengan siswa atau guru yang OTG, apakah dapat terdeteksi sekolah?” tanya Suryaningsih meragukan kesiapan sekolah.
Menanggapi hal itu, Drs. Ida Bagus Sudirga, M.Pd.H (58), selaku kepala sekolah SMAN 3 Denpasar, juga menilai sebetulnya Denpasar masih belum siap menerapkan sistem belajar tatap muka. “Belum, karena penyebaran Covid-19 masih fluktuaktif,” ujar singkat Sudirga. Tetapi dirinya mengaku, bila semisal daerah telah mengantongi izin pembukaan sekolah, maka SMAN 3 Denpasar telah siap. “Untuk sarana sudah siap, namun persetujuan dengan komite dan orang tua belum melaksanakan pertemuan,” jelas Sudirga.
Sementara itu belum lagi perkara kecemasan menanti tersebarnya vaksin juga sekat usia vaksinasi Covid-19 yang dapat mengancam keselamatan siswa di bawah usia 18 tahun. Ataupun dapat tanpa sadar siswa pulang ke rumah diantar bersama corona. Sudirga mengaku akan menempuh jalan pendisiplinan protokol kesehatan secara lebih ketat. “Yang belum divaksin nanti harus disiplin pada diri sehingga tidak tertular,” kata Sudirga.
Kendati demikian, rasa keraguan orang tua siswa masih tetap ada. “Umur saya di atas 45 tahun dengan penyakit penyerta, dan ada neneknya di rumah yang juga dengan penyakit penyerta. Kalau masih dapat belajar online, lebih baik dilaksanakan seperti itu saja dulu,” harap Suryaningsih rencana belajar tatap muka dapat diperhitungkan dengan matang. (ek)

