Sejumlah sektor langsung merosot jatuh ketika pandemi Covid-19 menyerang. Bahkan, Bali yang awalnya makmur akibat kantong pariwisata, pun kini jatuh miskin alami resesi. Di tengah situasi pelik ini, sektor UMKM jadi harapan. Namun, mampukah UMKM di Bali kokoh bertahan? Selasa (27/10)
Setelah pandemi Covid-19 memporak-porandakan Bali dan pariwisatanya yang kerap dipuji. Kini kondisi pun berubah begitu drastis. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini menjadi unsur penting untuk mendongkrak perekonomian nasional di masa pandemi Covid-19 ini. Berdasarkan data Pemerintah Kota Denpasar pada tahun 2019, setidaknya tercatat sebanyak 326.000 UMKM yang tersebar di Pulau Bali. Kota Denpasar sendiri menempati posisi teratas sebagai daerah dengan UMKM terbanyak, yakni sekitar 4.445.
Namun, meski disebut-sebut sebagai harapan penggerak ekonomi. Pandemi Covid-19 juga turut mencipratkan dampak buruk pada perkembangan UMKM. Di masa pandemi ini, aktivitas masyarakat di luar ruangan cenderung berkurang dan membuat pendapatan para pelaku UMKM jadi ikut merosot. Dewa Ayu Linda (44), salah satu pedagang masakan Bali di kawasan Sedap Malam, mengakui adanya pengaruh pandemi Covid-19. “Karena lokasi jualan saya berada di kawasan kos-kosan sehingga dulunya ramai pembeli. Tapi karena pandemi jadi sepi, mereka kebanyakan pulang kampung atau kena PHK," ujar Linda dihubungi secara daring.
Menurut Linda terjadi penurunan pendapatan yang signifikan pada usahanya antara sebelum dan sesudah pandemi Covid-19. “Penurunan penjualan bahkan sampai membuat kerugian dalam usaha saya dan saya malah akhirnya sampai berhenti berjualan," tutur Linda membagikan kisah warungnya yang harus gulung tikar di pertengahan April.
Namun, inovasi dan semangatnya pun tidak padam di sana. Linda mencoba menemukan jalan strategis untuk menemukan usaha baru yang berpotensi lebih baik dalam Pandemi Covid-19. “Saya beralih ke usaha jual beli pakaian secara online, yang tidak membutuhkan tempat dan bahan baku yang menyebabkan kerugian, dan saya melihat peluang usaha ini memungkinkan untuk bisa berkembang," terang Linda. Setelah memasuki dunia bisnis online, Linda pun menyadari bila pemanfaatan media digital dalam perkembangan sebuah usaha, sangat berpengaruh besar. "Pemanfaatan media digital pada UMKM sudah sangat jelas sangat membantu,” ujar Linda merasa lega.
Di lain sisi, bukan kejutan lagi, memang banyak pelaku UMKM yang datang dari generasi muda. Apalagi remaja masa kini sangat melek teknologi. Kadek Dhina Riani Putri (17) salah satunya. “Awalnya karena saya merasa jenuh di tengah pandemi dan tidak bisa membeli barang yang saya inginkan,” ungkap Dhina Riani menceritakan kisah awalnya merintis usaha fashion. Usahanya yang berawal dari motivasi supaya dapat membeli barang yang diinginkannya pun juga acap kali dihadapi kendala. Seperti terhambatnya pengiriman barang dan susahnya menarik perhatian pelanggan. Namun Dhina Rhiani tak patah arang. “Saya menggunakan beberapa jasa pengiriman agar barang dapat sampai ke tangan konsumen dengan selamat, juga selalu memanfaatkan sosial media untuk berpromosi,” aku Dhina Rhiani.
Bagi Dhina sektor UMKM di Bali sangatlah berpeluang tinggi. Apalagi bila generasi mudanya didorong untuk berinovasi bersamaan dengan pemanfaat media digital. “Jangan pernah nyerah untuk melakukan promosi, juga kembangkan inovasi-inovasi lainnya. Agar kelak Bali bisa menghasilkan generasi yang berkualitas, yang bisa memajukan perkembangan ekonomi sekaligus teknologi,” harap Dhina Rhiani di penghujung wawancara. (mo, dp)

