Pemerintah telah mengumbar janji, sebentar lagi vaksin Covid-19 akan tiba di tanah air. Tepatnya pada bulan November nanti. Daftar jumlah pesanannya pun sudah beredar. Akankah eksistensi vaksin Covid-19 jadi angin segar di tengah pandemi? Atau justru peredarannya akan menyulut problema baru lagi? Senin (26/10)
Sebagian ada yang menghembuskan napas lega, lainnya ada pula masyarakat yang meragukan efektivitasnya. Reaksi masyarakat mendengar perihal vaksin Covid-19 memang beragam macam. Dari segi jumlah hingga sistem pembagian nantinya turut mengundang beberapa opini. Lantas bagaimanakah persepsi remaja Denpasar terkait jaminan vaksin Covid-19?
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Madyapadma kepada 100 remaja di Denpasar dengan batasan usia 13-20 tahun. Yang di antaranya terdapat 71% perempuan dan 29% laki-laki. Dengan memanfaatkan formulir google menggunakan metode acak sederhana.
Hasil polling mengungkapkan jika sebanyak 49% remaja Denpasar meyakini bila vaksin adalah solusi terampuh untuk mengatasi pandemi Covid-19. Melalui wawancara daring, Ni Made Diva Amrita Dewi (16), siswa asal SMAN 3 Denpasar, membagikan pendapatnya, “Menurutku dengan adanya vaksin bisa mencegah terjangkitnya virus Corona, mungkin semacam tameng gitu buat tubuh karena antibody udah dibentuk untuk mempersiapkan dari serangan infeksi.”.
Di sisi lain, 29% remaja mengaku tidak yakin dengan pengaruh vaksin dalam pemutusan rantai penyebaran Covid-19. I Gede Rangga Raditya Wijaya (16) salah satu di antaranya. “Sejauh ini sepengetahuanku belum ada uji klinis yang membuktikan vaksin itu emang benar-benar bisa menangkal Covid-19 ini. Kemungkinan terburuknya menurutku vaksin ini bisa dijadikan alat politik, dan digunakan menjadi ide bisnis tidak bertanggung jawab,” ujar Rangga Raditya, siswa asal SMAN 4 Denpasar itu.
Tak hanya itu, Rangga Raditya pun masih meragukan perkara kuantitas yang akan hadir. Satu suara dengan Fidia Hermawati (17), siswa asal SMKN 1 Denpasar, menurut Fidia, “Yang saya tahu, vaksin yang didatangkan itu masih sedikit, sedangkan penduduk Indonesia itu ada banyak juta jiwa.”. Walau begitu, mayoritas suara sebanyak 51% memilih untuk tak menjawab. “Soalnya aku nggak tahu sumber terpercaya itu darimana. Ada yang bilang ‘A’, ada yang bilang ‘B’. Jadi aku ragu-ragu, betul nggak sih pemerintah memang menyediakan vaksin pas untuk semua penduduk Indonesia,” ungkap Ida Ayu Purnama Novanka Larasati (17) siswa asal SMAN 1 Denpasar.
Sebetulnya, apabila dicermati, jumlah vaksin Covid-19 yang tersedia di tanah air pada tahun 2020, masih belum mencukupi keseluruhan penduduk Indonesia. Vaksin yang akan beredar nantinya merupakan produksi Sinovac, G42 atau Sinopharm, dan CanSino Biologics. Akan tersedia sebanyak 3 juta dosis vaksin Sinovac, hingga akhir Desember 2020 nanti. Dengan komitmen pengiriman 1,5 juta dosis vaksin (single dose vials) pada awal November dan 1,5 juta dosis vaksin (single dose vials) pada awal Desember 2020. Ditambah 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bulk. Single dose artinya satu orang hanya membutuhkan satu dosis vaksinasi, sementara dual dose membutuhkan dua kali vaksinasi untuk satu orang.
Vaksin produksi CanSino menyanggupi 100.000 dosis vaksin (single dose) pada bulan November 2020. Kemudian vaksin produksi G42/Sinopharm, menyanggupi 15 juta dosis vaksin (dual dose) untuk sepanjang tahun ini. Dari jumlah itu, sekitar lima juta dosis akan mulai tiba pada November mendatang.
Sementara itu, apabila mengintip jumlah vaksin pada tahun 2021 mendatang, Sinopharm akan mendatangkan sekitar 50 juta (dual dose), CanSino sebanyak 15 - 20 juta (single dose), dan ada sekitar 125 juta (dual dose) vaksin produksi Sinovac. Apabila diakumulasikan dan disandingkan dengan seluruh penduduk Indonesia, maka bahkan hingga tahun 2021 nanti, hanya baru 56% dari total keseluruhan penduduk Indonesia yang mendapatkan vaksin.
Terlebih lagi, terdapat dua skema dalam sistem pembagian vaksin Covid-19 di Indonesia. Terdapat vaksin gratis dan vaksin berbayar atau mandiri. Yang akan mendapatkan vaksin gratis adalah golongan tenaga medis rumah sakit rujukan COVID-19, TNI/Polri, PNS, dan peserta BPJS. Sebanyak 46% remaja Denpasar pun menyetujui adanya kebijakan ini. “Sebenarnya, aku setuju sama golongan tenaga medis saja sih yang dapat vaksin gratisnya. Soalnya kan ya mereka sudah berusaha di garda terdepan mengobati orang-orang,” jawab Omni Kanya (16), siswa asal SMAN 6 Denpasar.
Sisanya, di luar golongan tersebut akan dikenai biaya dalam memperoleh vaksin Covid-19. Sebanyak 43% remaja Denpasar kurang menyetujui keputusan tersebut. “Biar sama-sama adil aja. Biar cepat berkurang yang terinfeksi, biar nggak semakin banyak penyebarannya. Misalnya kalau yang di luar golongan itu kena Corona bisa aja mereka kurang mampu gitu untuk belinya. Otomatis dia nggak beli dan penyebaran semakin bertambah. Jadi mending semua gratis tanpa memandang golongan,” sahut Ida Ayu Nadia Reisa (17), siswa asal SMAN 5 Denpasar. Terlepas dari gratis ataupun berbayarnya sebuah vaksin, laju penyebaran akan hanya dapat ditekan oleh kedisiplinan masing-masing pribadi. (kar)

