Galungan dikenal umat Hindu di Bali sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma. Di hari itu, biasanya umat Hindu akan bersembahyang di rumah serta pura sekitar. Namun kini keadaannya jelas berbeda. Bagaimanakah dampak perayaan Galungan di Bali kala pandemi Covid-19?
Perayaan hari raya Galungan di Bali tahun kali ini nampak berbeda dengan sebelumnya. Tentu kini umat Hindu tak dapat lagi bepergian ke tempat-tempat ibadah dengan leluasa. Tatkala merayakan hari suci di tengah badai Covid-19, protokol kesehatan juga harus tetap dijalankan. Melihat hal ini, Tim Madyapadma melakukan survey kepada 100 remaja di Denpasar. Memanfaatkan kuisioner di google form, Tim Madyapadma mengulik mengenai persepsi Remaja Denpasar terkait Dampak Hari Raya Galungan di Bali Kala Pandemi. Metode yang digunakan yakni acak sederhana. Adapun karakteristik responden meliputi usia responden berkisar antara 13 tahun hingga 18 tahun. Dimana 5% merupakan siswa SMP, 86% diisi oleh siswa SMA serta 9% merupakan mahasiswa perguruan tinggi. Jenis kelamin yang mengisi ialah % perempuan dan % laki-laki. Survey dilaksanakan dari Senin (6/10) hingga Jumat (9/10).
Meski virus Sars-CoV-2 masih berkelana menjangkiti orang, tak membuat masyarakat gentar untuk menyampaikan rasa bakti kepada-Nya. Hal tersebut terungkap dari hasil polling yang dilaksanakan tim Madyapadma. Hasil polling menunjukkan bahwa mayoritas remaja sebanyak 56% mengaku berkunjung ke pura bersama keluarga ketika Galungan. Sebanyak 5% responden pun mengaku berkunjung sendirian ke pura. “Iya, saya berkunjung tetapi hanya pura disekitar rumah,” kata Ni Nyoman Tri Anggi Dewi (17). Sebaliknya, sebanyak 20% responden tidak berkunjung ke pura. 19% lainnya juga menyatakan dirinya sekeluarga tidak berkunjung ke pura. Sedangkan sisanya memilih ragu-ragu/tidak menjawab.
Ketika ditanya bagaimana kondisi pura saat Galungan dikala pandemi, sebanyak 31% menjawab keadaan tidak ramai. Bahkan 9% responden menjawab sangat tidak ramai. “Kondisinya lumayan kondusif, yang dimana tidak seperti dulu kan suasananya ramai dan pada saat itu hanya ada beberapa orang saja yang melakukan persembahyangan di pura,” jelas I Wayan Richest Adikusuma (18). Disamping itu, sebanyak 21% mengaku keadaan pura terbilang ramai. 2% lain mengaku keadaan pura sangat ramai. Sedangkan 31% responden tidak pergi ke pura dan sisanya sebanyak 2% memilih untuk tidak menjawab.
Apabila masyarakat memilih untuk merayakan Galungan di pura, maka haruslah menerapkan protokol kesehatan dengan kesadaran sendiri. Betul saja, mayoritas responden sebanyak 31% menyatakan semua yang mengunjungi pura telah mematuhi protokol kesehatan. Sayangnya, sebanyak 27% responden mengaku masih ada satu dua orang yang melanggar protokol kesehatan. 4% dari responden bahkan menjawab banyak orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan. “Masih ada yang melanggar, seperti tidak sembahyang di belakang garis,” aku Anggi. Sedangkan 37% responden menjawab tidak mengunjungi pura dan 1% lainnya memilih ragu-ragu.
Perayaan Galungan di tengah ancaman pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi umat Hindu. 33% remaja merasa merayakan Galungan di tengah pendemi tidaklah aman. Bahkan 13% responden merasa perayaan Galungan sangat tidak aman. Hanya sebagian kecil 6% responden yang tetap merasa sangat aman jika harus merayakan Galungan kala badai Covid-19. 34% remaja lain juga tetap merasa aman ketika merayakan Galungan di tengah pandemi. Richest salah satunya “Iya, saya merasa aman sebab di pura saat itu telah menerapkan protokol kesehatan,” aku Richest, salah seorang siswa Taruna Mandara. Sisanya 14% responden memilih untuk tidak menjawab (scy/ek/dyt).

