Hari raya suci Galungan yang jatuh pada Budha (Rabu) Kliwon wuku Dungulan pada (16/09) lalu harus dilaksanakan ditengah pandemi COVID-19. Lantas bagaimanakah situasi Galungan di kala pandemi?
Rupanya setelah perayaan Galungan, grafik perkembangan kasus positif COVID-19 masih fluktuatif. Sementara pada Senin (5/10) kemarin grafik penambahan positif COVID-19 menunjukkan penyusutan. Di sisi lain, dilansir dari situs web WHO (World Health Organization) pada umumnya, gejala COVID-19 mulai muncul sekitar lima hingga enam hari setelah terjadi pajanan. Akan tetapi, waktu kemunculan gejala ini dapat berkisar dari 1-14 hari. Sejauh ini, tidak terjadi lonjakan kasus COVID-19 secara signifikan setelah Hari Raya Galungan tiba. Selain itu, hingga (27/9) lalu pulau dewata didominasi warna oranye. Hanya terdapat dua daerah yang masih masuk ke dalam zona merah. Kedua daerah tersebut yaitu Kabupaten Gianyar dan Karangasem.
Hari raya suci Galungan adalah hari yang disimbolkan sebagai peringatan kemenangan dharma melawan adharma. Walau dilaksanakan ditengah pandemi seperti sekarang, makna perayaan hari kemenangan dharma ini tidak berubah. Seperti yang diungkapkan oleh I Gede Sukarana (42) "Galungan ini saya rayakan seperti biasa dengan sembahyang di pura-pura dan tetap menerapkan protokol kesehatan." Hal serupa juga dilontarkan oleh Ni Made Sudiani (49). "Galungan saya rayakan seperti biasa, hanya saja secara lebih sederhana dengan tetap mengikuti protokol kesehatan," ungkap Sudiani. Perayaan hari Galungan identik dengan persembahyang ke pura. Oleh karena itu, dalam menyambut hari suci di tengah pandemi, menerapkan protokol kesehatan yang ketat di pura sangatlah penting demi mencegah munculnya kluster penyebaran COVID-19 yang baru. “Di sisi lain, pihak pengurus pura dan pengurus desa juga tidak secara tegas misalnya mengatur piodalan agar tidak terjadi keramaian. Saya tidak mengatakan bahwa semua pura seperti itu. Tetapi masih kita temukan di masyarakat penyelenggaraan upacara dan persembahyangan di beberapa tempat dengan kontrol yang minim terhadap protokol kesehatan,” ungkap Ni Made Utami Dwipayanti, ST.,M.BEnv selaku dosen program studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana.
Sesuai dengan ungkapan Utami Dwipayanti, I Putu Fendy Arya Saputra (17) menuturkan kondisi pura yang dikunjunginya kala Galungan penerapan protokol kesehatannya tergolong tertib. "Kondisi pura tertib ya karena sebelumnya sudah disiapkan sangat baik protokol kesehatan di pura tersebut. Bahkan di luar pura juga sudah ada poster-poster arahan untuk mengikuti protokol kesehatan selama ada di pura," kata Fendy. Jika protokol kesehatan yang tertulis di area pura tak sejalan dengan kesadaran pengunjung pura, tentu hal itu tetap tak sesuai. Namun, sesuai pengakuan Sudiani, semua pengunjung pura tempatnya bersembahyang telah mengikuti protokol kesehatan sesuai arahan."Semua pengunjung pura tetap mengikuti protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan jaga jarak," ujar Sudiani.
Tak dapat ditepis apabila benak umat Hindu di Balu diselimuti kekhawatiran ketika melakukan persembahyangan di luar rumah. Hal itulah yang menjadi perbedaan antara Hari Raya Galungan kala pandemi dengan sebelumnya. "Berbeda sekali ya. Kita sekarang seperti diancam oleh virus ini bahkan untuk sembahyang pun kebanyakan masyarakat masih ada keraguan untuk datang ke pura," tutur Fendy. Sukarana pun mengungkapkan hal serupa. "Rasa khawatir pasti ada ya apalagi dalam pandemi ini ditambah lagi galungan yang ditakutkan itu menimbulkan keramaian.Dampaknya ya begitu banyak orang yang takut ke pura akhirnya memilih sembahyang dirumah," aku Sukarana.
Berdasarkan pengamatan Utami Dwipayanti, dirinya melihat bahwa di masyarakat terdapat dua kelompok sikap ketika pandemi. “Kalau pengamatan saya pribadi di masyarakat memang terbentuk dua kelompok, pertama yanbg cukup peduli dengan protokol kesehatan dan juga ada yang tidak peduli dengan protokol tersebut. Kelompok yang peduli akan cenderung menghidari keramaian termasuk keramaian di tempat ibadah seperti piodalan-piodalan di pura. Sehingga mungkin akan dianggap tidak terlalu taat beragama oleh orang disekitarnya,” jelas Utami Dwipayanti. Lantas Utami Dwipayanti juga menerangkan bila sikap yang diambil masyarakat dapat berpengaruh terhadap peningkatan kasus COVID-19. “Seberapa besar pengaruh sikap masyarakat terhadap kasus COVID, ini perlu pengukuran yang valid untuk membuktikannya. Tetapi kalau menurut teori prilaku, sikap atau persepsi terhadap suatu perilaku memang punya pengaruh sekian persen. Jika perilaku yang dipraktekkan ternyata tidak sesuai protokol kesehatan, maka sekian persen akan berpengaruh pada peningkatan resiko terinfeksi. Ini juga dipengaruhi banyak faktor lainnya seperti faktor biologis seseorang, perilaku kesehatan lainnya, kondisi lingkungan dan tingkat paparan serta banyak faktor lainnya lagi,” papar Utami Dwipayanti.
Sikap yang diambil masyarakat ketika merayakan hari raya di tengah pandemi memang dapat mempengaruhi grafik perkembangan COVID-19. Untuk itu masyarakat hendaknya dapat lebih bijak dan berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan. “Kondisi pandemi sebenarnya tidak melarang masyarakat untuk beribadah dan merayakan hari raya,” kata Utami Dwipayanti. Seperti pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati, maka “Ada baiknya masyarakat melihat kembali apa inti dari semua upacara dan upakara yang dipersembahkan pada hari raya. Agama Hindu Bali sebenarnya sangat luwes dengan segala situasi. Sehingga ada banyak cara atau modifikasi yang bisa disiasati dalam penyelenggaraan perayaan ini,” pesan Utami Dwipayanti di akhir.

