Jaringan internet tentu sangat mempengaruhi jalannya pembelajaran daring. Beberapa pihak sempat mengeluhkan mengenai banyaknya biaya kuota internet yang dikeluarkan kala pamdemi. Menengok hal itu, Kemendikbud akhirnya memberikan kuota gratis kepada para pelajar juga pengajar. Lantas, bagaimanakah respon remaja Denpasar?
Tak dapat dipungkiri, subsidi kuota internet yang diberikan Kemendikbud disambut hangat oleh banyak pihak. Bak mata air di tengah padang pasir, subsidi kuota internet memang sangat membantu orang-orang yang tengah alami krisis ekonomi. Mayoritas remaja sadar betul bahwa subsidi yang diberikan Kemendikbud begitu membantu kelancaran proses pembelajaran jarak jauh. Kendati demikian, terdapat segelintir remaja yang tidak tahu menahu mengenai subsidi kuota gratis bagi siswa Indonesia. Hal tersebut berhasil terungkap dalam hasil polling yang dilaksanakan Tim Madyapadma dari Senin (28/9) hingga Jumat (2/10). Tim Madyapadma melakukan survey kepada 100 remaja di Denpasar. Memanfaatkan kuisioner di google form, Tim Madyapadma mengulik mengenai persepsi Remaja Denpasar terkait Penerimaan Subsidi Kuota Internet dari Pemerintah. Metode yang digunakan yakni acak sederhana. Adapun karakteristik responden meliputi usia responden berkisar antara 13 tahun hingga 18 tahun. Dimana 7% merupakan siswa SMP, mayoritas 91% diisi oleh siswa SMA serta 2% merupakan mahasiswa perguruan tinggi. Jenis kelamin yang mengisi ialah 75% perempuan dan 25% laki-laki.
Hasil polling menunjukkan mayoritas remaja sebanyak 57% telah mengetahui informasi terkait kuota gratis yang diberikan Kemendikbud. 38% remaja bahkan mengaku sangat mengetahui hal tersebut. Di samping itu, terdapat pula 4% remaja yang tidak mengetahui kabar subsidi kuota bagi para pelajar dan pengajar. 1% lainnya juga mengaku sangat tidak tahu informasi kuota gratis tersebut. Pemberian kuota internet oleh Kemendikbud dilakukan secara bertahap. Sesuai hasil survey, sebagian besar responden masih belum dapat menikmati kuota internet yang diberikan. “Saya belum menerima bantuan kuota internet yang telah diberikan pemerintah,” aku I Gusti Ngurah Agung Pramarta Dirgayusa (16). Sama seperti Pramarta, 50% lainnya juga mengaku belum menerima subsidi tersebut. Sementara itu, 46% mengaku telah menerima bantuan kuota internet dari pemerintah. Seperti yang disampaikan oleh Karina Brigitta Devi (16), siswi SMAN 2 Denpasar “Sudah, saya sendiri sudah mendapat bantuan kuota dari sekolah berupa kartu perdana yang sudah berisi kuota untuk pembelajaran.” 2% lainnya mengaku tidak mengetahui bahwa saat ini terdapat subsidi kuota internet. Di sisi lain, 2% remaja menjawab ragu-ragu.
Kendati masih banyak responden yang belum dapat menikmati kuota internet yang diberikan, 38% remaja merasa bantuan kuota ini sangatlah bermanfaat dan mayoritas remaja sebanyak 53% merasa bantuan ini berguna untuk kelancaran proses pembelajaran. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Karina, “Sangat bermanfaat. Sekarang kan sekolah daring, dan kuota benar-benar diperlukan. Kayak untuk liat materi sama ngumpul tugas. Lumayan banget merluin kuota.” Berbanding terbalik dengan 2% responden yang merasa kuota yang di bagi pemerintah tidaklah berguna. Bahkan, 1% reponden merasa subsidi kuota internet dari pemerintah sangat tidak bermanfaat. Sementara itu, 6% lainya memilih ragu-ragu.
Subsidi kuota internet yang diberikan Kemendikbud banyak dinanti berbagai pihak. 41% responden merasa adanya bantuan ini cukup menunjang kelancaran dalam proses pembelajaran jarak jauh. Bahkan 13% remaja merasa bantuan kuota yang di beri sangatlah membantu dimasa seperti sekarang. Walau begitu, masih ada 27% remaja yang merasa subsidi kuota yang diberikan pemerintah belumlah cukup. Bahkan ada 7% remaja yang merasa subsidi ini sangatlah tidak cukup menunjang proses pembelajaran jarak jauh. “Menurut saya bantuan berupa kuota yang telah diberikan oleh pemerintah belum terbilang cukup untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan selama pandemi ini. Bantuan lanjutan berupa buku pendamping mata pelajaran sangat dibutuhkan oleh siswa dalam upaya untuk mempercepat proses belajar mengajar” sambung Pramarta. Sedangkan 12% remaja lainya memilih untuk tidak menjawab (dyt/scy/ek).

