Pulau dewata masih terus menerima kasus positif COVID-19 yang jumlahnya tak tanggung-tanggung. Para tenaga kesehatan pun kian kewalahan tangani kasus-kasus yang tak kunjung usai. Kendati demikian, segelintir masyarakat malah tak acuhkan protokol kesehatan. Mau sampai kapan Bali dirundung duka?
Lonjakan tajam tercatat terjadi pada (30/8) hingga (6/9). Selama delapan hari tersebut, terkonfirmasi 1.134 warga Bali terjangkit virus Sars-CoV-2. Bahkan pada (4/9), pulau dewata pecah rekor penambahan pasien COVID-19 terbanyak dengan jumlah 195 pasien. Terlebih lagi, dari awal bulan September (1/9) hingga kini menuju penghujung September (24/9) Bali harus menangani tambahan 2.809 pasien terjangkit COVID-19. Usut punya usut, seluruh penambahan pasien tersebut terpapar COVID-19 karena perjalanan dalam daerah. Dilansir dari, https://covid19.go.id/peta-risiko peta risiko COVID-19 Bali hari ini didominasi warna orange dengan risiko sedang. Sementara itu terdapat 2 (dua) daerah yang masuk ke dalam zona merah dengan risiko tinggi. Kedua daerah tersebut ialah Kabupaten Tabanan dan Karangasem. Minggu lalu provinsi Bali didominasi warna merah (resiko tinggi).
Kasus positif COVID-19 yang tak ada habisnya, tak ayal membuat para tenaga kesehatan kewalahan. Tak hanya itu, telah terdapat banyak tenaga kesehatan yang gugur di tempatnya bertugas. “Karena saya tidak secara langsung terjun untuk menangani pasien COVID-19, saya mendengar dari teman saya pasien yang terjangkit COVID-19 bertambah. Biasanya saat pasien datang ke RS maka pasien akan melakukan screening (pengecekan suhu badan, bertanya apakah sempat batuk pilek dan pernah terkontaminasi orang terjangkit COVID-19),” jelas Ni Komang Yuliani (46) salah seorang perawat di RSUP Sanglah. Acap kali rekan kerja Yuliani mencurahkan keluh kesahnya. Seperti mengenai seberapa sulitnya bertahan berjam-jam dengan APD (Alat Perlindungan Diri) yang lengkap. Rasanya para tenaga kesehatan telah berkawan baik dengan rasa gerah kala menggunakan APD. Bahkan, sesekali para tenaga kesehatan harus berhadapan dengan gangguan pernapasan. Untuk sekadar menegak air putih kala kehausan pun sulit, takut-takut malah jadi terjangkit virus Sars-CoV-2. “Keluhannya banyak ya dari teman-teman yang menangani COVID-19. Mulai dari lelah menangani pasien karena menggunakan APD level 3, karena teman teman merasa terganggu di pernapasan dan juga merasa gerah dengan APD tersebut,” papar Yuliani.
Kendati demikian, masih ada saja masyarakat yang tutup mata akan lonjakan kasus COVID-19. Seolah tak peduli, para garda terdepan yang boleh jadi gugur kala tempur. “Keadaan di luar rumah sangatlah ramai tetapi beberapa orang tidak memakai masker dan tidak mematuhi protokol kesehatan, ungkap Nyoman Triarta Wibawa Putra (17) yang sempat ke luar rumah belakangan ini. Menengok kondisi yang seperti itu, pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 46 Tahun 2020 dan Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 48 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan COVID-19. Beberapa warga masih bandel. Hal tersebut pun disayangkan oleh Yuliani “Pemerintah sudah memikirkan untuk memutus rantai COVID-19 tetapi terdapat masyarakat yang tidak menyadari himbauan dari pemerintah. Di rumah sakit saya amati sudah penuh dengan pasien COVID-19 yang membuat beberapa tenaga medis sempat kewalahan. Maka dari itu masyarakat seharusnya mematuhi himbauan pemerintah.” Meski begitu, sebagian tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada demi dirinya juga orang-orang disekitarnya. Seperti halnya Triarta yang tiap berpergian selalu memperhatikan dan mematuhi protokol kesehatan. “Selama saya berpergian saya tetap memakai masker bedah dan face shiled serta selalu mencuci tangan dan membawa handsanitizer,” aku Triarta.
Melihat kondisi yang masih enggan berdamai, alangkah baiknya jika orang-orang tetap berdiam diri di rumah jika tak terdapat hal yang penting dan mendesak. “Di masa pandemi ini, bagi kalian yang di rumah dapat mencari kebiasaan-kebiasaan baru yang cukup seru untuk kalian. Selain itu, kalian dapat menambah wawasan kalian mengenai hal-hal baru yang belum pernah kalian pelajari sebelum. Kalian juga bisa mengembangkan keahlian kalian di saat pandemi ini,” saran I Nyoman Krisnanda Aryasuadnyana (17) yang lebih sering menghabiskan waktunya di rumah ketika pandemi. Tentu semua orang ingin keadaan lekas pulih. Maka dari itu, semua pihak hendaknya saling bahu-membahu untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. “Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat, yaitu yang pertama masyarakat harus mematuhi himbauan pemerintah dalam rangka memutus rantai COVID-19. Yang kedua masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan. Yang ketiga mengurangi berkunjung ke tempat yang ramai dan bila tidak memiliki keperluan penting untuk keluar lebih baik di rumah saja,” tutup Yuliani.
penulis: dyt
reporter: ma/dp

