Wacana sekolah tatap muka di Bali masih jadi bahan perbincangan. Bagaimana tidak? Peta zona risiko penyebaran COVID-19 masih didominasi warna merah. Maka tak heran, orang tua langsung tunjukkan taringnya kala surat persetujuan tatap muka gencar disebarkan.
Dilansir dari https://covid.go.id/peta-risiko pada Jumat (18/9), terdapat tiga wilayah di Bali yang masuk ke dalam zona oranye. Ketiga daerah tersebut ialah Klungkung, Tabanan, dan Jembrana. Sementara daerah lainnya seperti Denpasar, Badung, Bangli, Karangasem, Gianyar, dan Buleleng masih dikategorikan sebagai zona merah. Kondisi COVID-19 di pulau dewata memang masih fluktuatif. Rasanya baru dapat menghembuskan napas lega sejenak, namun dalam sekejap raga kembali dipenuhi kekhawatiran. Belakangan ini, kabar kematian akibat COVID-19 terus menghantam Bali. Hingga Kamis (17/9) kemarin catatan kematian di Bali berjumlah 195 orang. Sedangkan, kasus positif COVID-19 di Bali telah mencapai angka 7.493 kasus.
Kendati demikian, menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Nomor: 450/52733/Disdikpora tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada Masa Pandemi COVID-19 dan petunjuk teknis yang telah disosialisasikan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, sekolah-sekolah mulai menyebarkan surat persetujuan kepada orang tua siswa. Menyadari bahaya COVID-19 yang boleh jadi menjangkiti buah hatinya ketika PTM berlansung, Ni Putu Suastini S.Pd., M.Pd. (52) mengaku “Saya memilih tidak setuju, karena kasus COVID-19 di Bali dan Denpasar masih terus bertambah.” Walaupun begitu, sebagai seorang guru Suastini tak menampik bahwa sekolah tatap muka memang lebih efektif dibanding pembelajaran daring. “Saat sekolah tatap muka bisa mengajarkan karakter secara langsung. Materi pun bisa disampaikan dengan baik. Sekolah tatap muka juga pastinya meringankan tugas orang tua. Kalau sekolah daring seperti sekarang banyak orang tua yang tidak siap menjadi guru atau mengajarkan anaknya baik dari segi psikologi, penguasaan materi juga, tidak semua paham cara mendidik,” jelas Suastini.
Pelaksanaan sekolah tatap muka di tengah pandemi memang perlu pertimbangan yang panjang. Sebab jika salah langkah, boleh jadi kesehatan terancam juga korban COVID-19 membludak tak tanggung-tanggung. “Sepertinya masih butuh pertimbangan untuk menghindari adanya kluster baru penyebaran COVID-19,” ujar Suastini. Para tenaga pendidik pun belum tentu dapat memastikan keamanan ratusan muridnya tiap detik. “Khawatirnya ya nanti anak-anak tidak bisa jaga jarak atau menerapkan protokol kesehatan yang lain. Keadaannya juga sekarang ini terbilang masih rawan,” ungkap Suastini merasa cemas. Begitu pula dengan Desak Putu Winarti (44) yang mencemaskan kesehatan anaknya apabila harus bersekolah tatap muka. “Pandemi ini belum selesai dan kasus terutama di Bali makin meningkat sebenarnya sangat khawatir,” kata Winarti. Ni Nyoman Sriningsih (48) pun memiliki pandangan serupa. Bagi Sriningsih “Sekarang kasus di Denpasar sedang meningkat. Otomatis ketika pembelajaran tatap muka berlangsung keamanan anak-anak tidak bisa kita jamin. Ada rasa takut yang tinggi kalau nanti anak bisa terjangkit COVID-19,” aku Sriningsih. Sriningsih pun sadar betul apabila kelas yang tergolong ruangan sempit berpeluang tinggi sebagai tempat penyebaran COVID-19. Menurut Sriningsih, mungkin sekolah dapat menyiapkan segala prasarana protokol kesehatan. Namun, hal tersebut tidak menjamin anak didik mampu dan mau melaksanakan protokol kesehatan dengan disiplin. “Bagi saya kesehatan anak tetap nomor satu,” tutup Sriningsih.

