Beberapa hari belakangan ini, Bali kembali diterjang lonjakan-lonjakan kasus COVID-19. Korban jiwa pun terus berjatuhan setiap harinya. Kendati begitu, surat persetujuan tatap muka justru gencar disebarkan. Lantas, bagaimanakah tanggapan para remaja?
Pihak sekolah mulai menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Nomor: 450/52733/Disdikpora tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada Masa Pandemi COVID-19 dan petunjuk teknis yang telah disosialisasikan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali. Beberapa sekolah telah menyebarkan surat persetujuan orang tua guna melaksanakan pembelajaran tatap muka. Sontak saja hal tersebut menyedot atensi publik, tak terkecuali para remaja yang mayoritas menolak tegas isi surat persetujuan itu. Hal tersebut berhasil terungkap dari hasil polling yang dilaksanakan tim Madyapadma pada Senin (14/9). Memanfaatkan google form, Madyapadma menyebarkan kuisioner kepada 100 remaja Denpasar dengan metode acak sederhana. Dimana, rentang usia para responden yang mengisi berkisar antara 13 tahun hingga 18 tahun. Karakteristik responden lainnya yakni 19% diantaranya merupakan siswa SMP, 79% merupakan siswa SMA, dan sisanya 2% adalah mahasiswa. Yang mana 71% responden yang mengisi merupakan perempuan serta 29% laki-laki.
Berdasarkan hasil survey, mayoritas responden sebanyak 53% telah mengetahui kebijakan Gubernur Bali yang berencana menyelenggarakan sekolah tatap muka. 20% lainnya bahkan sangat mengetahui hal tersebut. Berbanding terbalik dengan 6% yang mengaku sangat tidak tahu mengenai kebijakan sekolah tatap muka di tengah pandemi COVID-19. 20% responden lainnya juga tidak tahu menahu tentang rencana pelaksanaan sekolah tatap muka. Sisanya sebanyak 1% memilih enggan untuk menjawab. Menengok kondisi pulau dewata yang kian terpuruk, 52% remaja beranggapan tindakan yang diambil pemerintah tidaklah tepat. “Menurut saya tentang sekolah akan tatap muka bukan hal yang tepat apalagi di Bali sedang mengalami peningkatan COVID-19 yang sangat tinggi. Jadi itu sangat berbahaya bagi kita semua untuk bersekolah tatap muka,” ujar Ni Putu Amanda Riska Puspita Dewi (16). Jumlah yang tak sedikit yakni sebanyak 26% bahkan merasa kebijakan Gubernur Bali yang menugaskan sekolah untuk menyebarkan surat sekolah tatap muka di tengah peningkatan kasus COVID-19 adalah sangat tidak tepat. Sementara, minoritas responden berjumlah 8% menganggap kebijakan pemerintah sudah tepat. Lantas, 12% memilih ragu-ragu. Sedangkan 1% remaja menilai kebijakan pemerintah terkait sekolah tatap muka sangat tepat.
Menanggapi surat persetujuan sekolah tatap muka yang tengah digencarkan, 51% responden dengan tegas mengaku tidak setuju. Seperti halnya Karina Brigitta Devi yang juga tak sejalan dengan surat persetujuan yang kini gencar tersebar. “Aku pribadi sih nggak setuju. Apalagi kan sudah ada berita sekolah jadi kluster baru. Terus keadaan di Bali sekarang ,” aku Brigitta. Rupanya, Amanda Riska pun memiliki pandangan yang sejalan dengan Brigitta. “Saya tidak setuju dengan adanya surat itu karena virus ini sangat berbahaya dan virus ini pun bisa menyerang ke siapa saja atau bisa terkena pada orang yang tanpa gejala. Jadi itu sangat berbahaya untuk melakukan sekolah tatap muka,” jelas Amanda Riska merasa ngeri. Jumlah yang cukup banyak yaitu 24% bahkan sangat menolak hal tersebut. Di samping itu, terdapat segelintir remaja yakni sebanyak 9% yang setuju terhadap surat persetujuan sekolah tatap muka yang tengah beredar. 2% remaja lainnya juga merasa sangat setuju dengan surat persetujuan sekolah tatap muka. Sedangkan, 14% responden memilih untuk tidak menjawab.
Setelah surat persetujuan sekolah tatap muka tersebar, tentu saja pro dan kontra para siswa bermunculan. “Khawatir dan takut nantinya virus ini akan menyebar saat sekolah kembali. Tetapi semoga saja itu tidak terjadi,” ungkap Ni Made Mutia Pradnyawangi (17). Nyatanya Mutia tak dirundung kekhawatiran seorang diri sebab 52% responden lain pun khawatir akan kemungkinan sekolah tatap muka mendominasi hasil polling. Kemudian dengan selisih yang cukup tipis 37% remaja mengaku sangat mengkhawatirkan kemungkinan sekolah tatap muka kala kasus COVID-19 yang masih merajalela. Berbeda dengan 4% remaja yang merasa tidak khawatir akan kemungkinan sekolah tatap muka di tengah pandemi. 4% responden bahkan mengaku sangat tidak khawatir. Di sisi lain, terdapat 3% remaja yang enggan membagikan pandangannya.

