Lonjakan pasien COVID-19 juga catatan kematian belakangan ini berhasil menyedot atensi public. Setelah sempat mereda, kini COVID-19 kembali menggempur Bali tiada henti. Usut punya usut rupanya kluster upacara adat turut andil memperkeruh keadaan Bali.
Upacara pernikahan di Sesetan pada Kamis (25/6) lalu siapa sangka malah jadi petaka bagi para tamu yang hadiri acara tersebut. Mulanya upacara pernikahan tersebut membawa kebahagiaan, namun dalam satu petikan jari semuanya jadi diselimuti duka setelah seorang Kepala Lingkungan Banjar Dukuh Sari dikabarkan tutup usia pada Senin (17/7) akibat terjangkit COVID-19. Tak lama setelahnya kembali dikabarkan 6 (enam) orang terkonfirmasi positif COVID-19. Setelah ditelusuri, keenam orang tersebut sempat melakukan kontak fisik dengan almarhum. Kemudian upacara ngaben di Sanur Kaja pada Jumat (14/8) lalu, rupanya juga menjadi bumerang kepada para pelayat. Seorang pasien COVID-19 berusia 68 tahun dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (28/8). Pria paruh baya tersebut diketahui sempat hadiri upacara ngaben di Sanur Kaja. Rupanya, dirinya juga memiliki riwayat penyakit diabetes melitus. Hasil tracing GTTP COVID-19 Kota Denpasar, 8 (delapan) orang dinyatakan terinfeksi virus Sars-CoV-2 karena sempat kontak dengan almarhum. Berselang beberapa hari, seorang lansia berusia 78 tahun yang juga sempat hadiri upacara ngaben di Sanur Kaja menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu (2/9).
Kluster upacara adat ini tentunya kian membuat masyarakat diselimuti kekhawatiran. Ditambah lagi, upacara adat telah menjadi bagian dari masyarakat di pulau dewata. “Menurut saya sah-sah saja harus melaksanakan upacara adat ditengah pamdemi ini. Tetapi tentunya ada rasa khawatir dalam diri sendiri,” kata Desak Putu Winarti (45) membagikan pandangannya. Beberapa waktu lalu, Putu Winarti sempat menghadiri upacara adat, walau begitu menurutnya kondisi di acara tersebut sudah tertib dan protokol kesehatan telah dijalankan dengan baik. “Sebenarnya cemas juga karena berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sekarang kita harus melaksanakan upacara ditengah pandemi seperti ini tentunya ada rasa takut dan khawatir,” aku Putu Winarti. Tak hanya Putu Winarti, I Putu Fendy Arya Saputra (17) pun merasa waswas tatkala dirinya menyambangi pura untuk melakukan persembahyangan. “Perasaan cemas pasti ada tetapi disini kita juga ada rahinan atau hari raya yang wajib kita lakukan,” ucap Fendy Arya. Keadaan pura yang didatangi Fendy Arya pun tergolong sangat tertib “Dari sebelum masuk pura sudah disiapkan tempat cuci tangan dan ketika kita duduk kita semua menerapkan social distancing. Protokol kesehatan jelas harus tetap dilakukan karena kita tidak tahu orang-orang yang datang atau yang kita temui saat upacara adat itu sehat atau tidak,” jelas Fendy Arya.
Selain itu, I Nengah Riba (55) menilai upacara adat di tengah pandemi tetap dapat dilakukan, namun tentu pelaksanaanya tak bisa diserupakan dengan upacara adat sebelum pandemi. Terdapat hal-hal yang harus diperhatikan dan diutamakan, salah satunya yakni keselamatan orang-orang. “Karena ketika orang-orang tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan, itu akan berpotensi menimbulkan kluster baru,” ungkap Nengah Riba. Hal tersebut serupa dengan pendapat Komang Pipin Indraswari Berata Putri (17). Pipin Indraswari pun mengaku sempat mengikuti acara nugtug karya di kampong halamannya. Kendati hanya dihadiri keluarga dekatnya saja, Pipin Indraswari tetap merasa khawatir. “Sedikit khawatir, walaupun yang datang hanya keluarga dekat. Tetapi kita tidak tahu mereka membawa virus COVID-19 atau tidak. Oleh karena itu kami saling menerapkan protokol kesehatan,” ujar Pipin Indraswari. Antisipasi di kala badai pandemi memang harus selalu dilaksanakan.

