Perkembangan COVID-19 Bali tak kunjung membaik. Beberapa hari belakangan ini, korban jiwa akibat COVID-19 terus berjatuhan. Ditambah lagi muncul kluster upacara adat yang kian memperkeruh keadaan. Lantas, bagaimana pandangan remaja Denpasar?
Selepas pelaksanaan upacara Ngaben di Desa Sanur Kauh pada (14/8) lalu, dikabarkan beberapa orang yang menghadiri upacara tersebut terpapar virus Sars-CoV-2. Tak hanya itu, salah satu pasien yang hadiri upacara tersebut meninggal dunia pada (31/7). Lalu disusul kasus kematian berikutnya pada (2/9). Mayoritas remaja Denpasar pun menganggap lonjakan kasus kematian akhir-akhir ini ada sangkut pautnya dengan kluster upacara adat. Para remaja juga merasa upacara adat yang melibatkan banyak orang di tengah pandemi bukanlah tempat yang aman. Hal tersebut terungkap dari hasil polling yang dilakukan oleh Madyapadma pada Senin (7/9). Tim Madyapadma online melaksanakan survei kepada 100 remaja di Denpasar dengan memanfaatkan google form menggunakan metode acak sederhana. Karakteristik responden meliputi usia responden berkisar antara 14 tahun hingga 19 tahun. Dimana sebanyak 3% diisi oleh siswa SMP, 91% oleh siswa SMA dan sisanya yakni 6% diisi oleh mahasiswa perguruan tinggi. Jenis kelamin yang mengisi kuisioner di google form 70% responden perempuan dan 30% responden laki-laki.
Sesuai hasil polling, 55% remaja menyadari peningkatan kematian di Bali belakangan ini. 16% bahkan sangat menyadari hal tersebut. Berbanding terbalik dengan 24% yang tidak tahu bahwa kasus kematian di Bali melonjak akhir-akhir ini. I Gusti Oka Pramana Suryawantara (16) siswa SMAN 3 Denpasar salah satunya “Tidak tahu, karena memang aku kurang update sama berita terkini gitu,” aku Oka. Sedangkan, 2% responden mengaku sangat tidak tahu mengenai hal tersebut. Sisanya 3% memilih untuk tidak menjawab. Tentunya, terdapat pemicu dibalik catatan kematian yang seketika melambung tinggi setiap harinya. 50% responden merasa catatan kematian melonjak lantaran dipicu munculnya kluster upacara adat. Hal ini disetujui pula oleh Ni Made Mutia Pradnyawangi “Jelas memicu, karena jika bertemu banyak orang ketika upacara adat, bisa aja tanpa sengaja kontak langsung dengan orang yang mungkin terinveksi virus,” jawabnya. Sebagian kecil 9% juga berpandangan kluster upacara adat sangat memicu peningkatan kasus kematian. Sedangkan, 11% beranggapan kluster upacara adat tidak turut andil dalam timbulnya rentetan korban jiwa akibat COVID-19. Hal ini di sampaikan oleh Oka “Tidak memicu, karena menurut saya belum tentu penyebabnya dari upacara adat. Apalagi kalau melakukan upacara adatnya sudah mengikuti protokol kesehatan,” ujarnya. Minoritas sebanyak 2% remaja merasa upacara adat sangat tidak memicu kematian akibat COVID-19. Angka yang cukup besar yakni 28% menjawab ragu-ragu.
Melihat kasus-kasus positif COVID-19 setelah datangi upacara adat, mayoritas 63% remaja merasa pergi ke tempat berlangsungnya upacara adat tidaklah aman. “Tidak terlalu aman karena kita tahu bahwa virus ini tidak terlihat. Jadi jika ada seseorang tamu undangan yang terinfeksi, kita tidak dapat menghindarinya,” ucap Ni Made Sabdha Devani (16), siswi asal SMAN 3 Denpasar.Bahkan, 3% responden merasa pergi ke upacara adat di tengah pandemi sangat tidak aman. Hal ini berseberangan dengan pendapat 14% remaja yang beranggapan aman-aman saja jika pergi ke upacara adat kala hantaman badai COVID-19. Terlebih lagi 3% responden tetap merasa sangat aman jika pergi ke upacara adat di tengah pandemi. Begitulah kiranya pendapat Oka, “Aman, apabila memang semua bisa jaga diri masing-masing dan ikuti protocol kesehatan sama jaga jarak juga.” Sementara, 17% ragu-ragu untuk menjawab.
Selaras dengan hal tersebut, hasil survei menunjukkan sebanyak 57% remaja merasa khawatir jika harus pergi ke upacara adat saat pandemi. Bahkan ada 22% remaja yang merasa sangat khawatir akan hal ini. “Khawatir, jujur meskipun bisa pakai masker dan lain-lain pasti tetep aja khawatir. Kalau tidak mendesak menurut saya lebih baik dirumah saja,” ujar Oka. Berbanding terbalik dengan minoritas responden sebanyak 13% yang beranggapan tidak perlu dikhawatirkan. Salah satunya Mutia “Kalau saya sih tidak, karena saya cukup bisa menjaga diri saya sendiri,” jawab Mutia. 2% responden lainnya mengaku sangat tidak khawatir. Sementara itu, nampaknya 6% responden masih ragu-ragu untuk berpendapat (dyt/scy/ek).

