COVID-19 yang menjangkiti beberapa tenaga pendidik di Bali jadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Padahal pembelajaran tatap muka belum diberlakukan, namun nahas hingga Jumat (4/9) telah terdapat 14 tenaga pendidik yang terjebak dalam jeratan COVID-19.
Berawal ketika seorang guru di SMAN 1 Selat, Karangasem terkonfirmasi mengidap COVID-19 pada (7/7). Setelah ditelusuri pria asal Karangasem tersebut sempat melakukan perjalanan ke Negara untuk menjemput keponakannya. Tak lama setelah kssus tersebut, pada (16/7) seorang guru di Desa Kukuh, Tabanan positif COVID-19. Terjangkitnya guru asal Tabanan tersebut diduga karena tertular saudaranya yang bertugas sebagai Jumantik di Denpasar. Masih di bulan yang sama tepatnya (27/7) seorang guru berusia 58 tahun asal Desa Antap Selemadeg, Tabanan juga terkonfirmasi terinfeksi virus Sars-CoV-2. Lantas pada (15/8) dunia pendidikan diselimuti duka sebab seorang dosen Sastra Inggris UNDIKSHA, Buleleng tutup usia setelah terkonfirmasi terpapar COVID-19 pada (13/8). Sontak saja, UNDIKSHA dengan sigap mengambil langkah untuk menutup seluruh layanan dan aktivitas kampus. Kendati sayang, setelahnya UNDIKSHA menerima kabar bahwa 10 orang pegawai dan dosen turut terjangkit COVID-19.
Kasus yang menimpa para tenaga pendidik sekaligus jadi pengingat bagi semua orang bahwa virus SARS-CoV-2 dapat menjangkiti siapa pun tanpa memandang apa pun. Seperti halnya apa yang dirasakan Ni Made Sastri Dwisarini, S.Pd, M. Pd. (26) salah seorang guru SMAN 3 Denpasar. “Tentu terkejut dan semakin khawatir. Mengingat kluster COVID-19 sudah makin meluas dan makin banyak OTG. Alangkah baiknya protokol kesehatan semakin diperketat,” kata Sastri. Belum lagi, para pengajar tetap harus pergi ke sekolah meski terjangan pandemi masih belum surut. Tak ayal, hal tersebut membuat beberapa pengajar dihantui rasa khawatir. “Tentu saja sangat merasa was-was. Kita bisa terpapar virus juga pada saat perjalanan ke sekolah dan bukan hanya di sekolah. Apalagi peneliti UNAIR Surabaya menemukan mutasi 10x lipat dari virus ini dan penyebarannya lebih gampang. Tetapi ini masih perlu pembuktian sih,” ungkap Ida Bagus Made Satya Warma Yuda (33) selaku pengajar di SMAN 3 Denpasar. Berbanding terbalik dengan Gus Satya, beberapa guru tetap merasa aman walau harus menjalankan kewajibannya di sekolah. Seperti yang diungkapkan Putu Dwika Putri Dharmadewi, S.Pd, M.Pd (39) salah satu pengajar di SMAN 6 Denpasar, baginya “Selama hanya tenaga pendidik dan staf administrasi saja yang harus pergi ke sekolah, maka risiko COVID-19 relatif dapat dikendalikan. Karena tidak melibatkan anak-anak di sekolah sehingga protokol kesehatan masih dapat diterapkan.”
COVID-19 telah menjajah dunia pendidikan namun Kemendikbud RI telah memberi izin untuk membuka sekolah yang berada di zona kuning dan hijau, lantas bagaimanakah persepsi para guru? Izin Kemendikbud juga kondisi yang saling bertolak belakang tentu menimbulkan pro dan kontra. Sebagian merasa menunda pembelajaran tatap muka merupakan hal yang tepat. Sementara sebagian lagi setuju akan dibukanya sekolah. “Disamping pertimbangan status zona, aspek sarana dan prasarana pembelajaran daring juga harus menjadi pertimbangan. Artinya, selama pembelajaran daring masih memungkinkan untuk dilaksanakan dari segi kesiapan sarana prasarana, maka pembelajaran dengan tatap muka tidak menjadi sesuatu yang urgen untuk diterapkan. Sedangkan ntuk sekolah dengan sarana pembelajaran daring masih terkendala, maka untuk zona hijau dan kuning perlu mempertimbangkan pembelajaran dengan tatap muka, supaya siswa tidak terlalu jauh keringgalan pelajaran,” papar Dwika Putri. Walaupun merasa waspada, I Gede Agus Saka Prasetya (26) selaku guru TIK SMA PGRI 4 Denpasar berharap dapat menjalankan kegiatan belajar mengajar tatap muka. “Pembelajaran daring ini tidak efektif karena siswa tidak benar-benar paham materi yang disampaikan secara daring. Jadi menurut saya sah-sah saja jika sekolah dibuka di zona kuning atau hijau. Apabila harus kembali ke sekolah disini kami tentu menyiapkan protokol kesehatan. Pertama jika siswa baru sampai di sekolah kita akan arahkan untuk mencuci tangan di wastafel. Setelah itu, siswa diwajibkan mengukur suhu sebelum masuk ke kelas,” jelas Agus Saka.

