COVID-19 rupanya turut menggempur para tonggak pendidikan. Tak terkecuali para tenaga pendidik di pulau dewata. Lantas bagaimanakah persepsi remaja terkait pengajar-pengajar yang terinfeksi virus Sars-CoV-2 di sekolah?
Hingga Selasa (1/9) setidaknya telah tercatat 14 tenaga pengajar yang terinfeksi COVID-19. Ditambah lagi, beberapa waktu lalu Bali diterpa kabar duka sebab seorang guru besar Sastra Inggris di UNDIKSHA, Buleleng meninggal dunia setelah dua hari terkonfirmasi positif COVID-19. Meski virus Sars-CoV-2 masih terus menyerang, walau sebentar tenaga pendidik tetap pergi ke sekolah untuk menjalankan tugasnya. Sebagian remaja merasa khawatir akan penularan COVID-19 antar tenaga pendidik. Hal tersebut terungkap dalam polling yang dijalankan tim Madyapadma pada Senin (31/8) kepada 100 remaja Denpasar. Dengan memanfaatkan google form, responden membagikan pandangannya dengan mengisi kuisioner. Menggunakan metode acak sederhana, tim Madyapadma menyebarkan kuisioner kepada remaja dengan rentang usia 13-20 tahun. Adapun karakteristik responden lainnya yaitu 4% diantaranya merupakan siswa SMP, 87% diisi oleh siswa SMA/SMK sederajat, dan sisanya sebanyak 9% merupakan mahasiswa perguruan tinggi. Jenis kelamin yang mengisi kuisioner mayoritas merupakan perempuan berjumlah 73% dan laki-laki 27%.
Jumlah tenaga pendidik yang mengidap COVID-19 di sekolah-sekolah tak bisa dikatakan sedikit jumlahnya. Hal itu pun disadari oleh 33% remaja. 4% remaja bahkan mengaku sangat tahu jika terdapat guru-guru yang positif COVID-19 karena sempat kontak dengan rekannya di sekolah. Sementara, mayoritas 57% responden tidak tahu bahwa terdapat guru yang terjangkit COVID-19 di sekolah. “Saya belum tahu akan hal ini dan saat mengisi kuisionernya baru jadi tahu informasinya terus cari-cari infonya lagi,” ungkap Putu Rhenata Putri Triska (16), siswi kelas XI asal SMAN 3 Denpasar. Sisanya yakni sebanyak 4% memilih untuk tidak menjawab. Lantas, walaupun tak semua guru pergi ke sekolah di waktu yang bersamaan, sebagian besar remaja yakni 72% merasa COVID-19 tetap berpotensi menjangkiti guru-guru. “Kita kan tidak tahu kemungkinan apa saja yang bisa terjadi. Riwayat perjalanan guru-guru juga nggak tahu. Jadi menurut saya bisa saja guru terjangkit COVID-19 di sekolah,” kata Ayu Made Jyotistha Ratu Mahasatvika (14). 15% bahkan merasa tenaga pendidik sangat berpeluang terpapar COVID-19 di sekolah. Berbanding terbalik dengan minoritas responden sebanyak 4% yang beranggapan tenaga pendidik tidak berpotensi terkena virus Sars-CoV-2 karena kegiatannya di sekolah. Sedangkan,sebesar 15% menjawab ragu-ragu.
Selaras dengan hal tersebut, hasil survey menunjukkan sebanyak 68% responden mengaku khawatir akan tenaga pengajar yang tetap ke sekolah walaupun pandemi. Bahkan sebanyak 24% responden juga mengaku sangat khawatir akan hal ini. “Kalau untuk hal ini jelas saya khawatir. Karena potensi tenaga pengajar terkena COVID-19 bukan tidak mungkin,” ujar Rhenata. Sedangkan sebanyak 5% menjawab ragu-ragu dan 3% sisanya merasa tidak khawatir. Kendati demikian, terdapat 36% remaja yang menyatakan tidak setuju bila sekolah masih mengadakan kegiatan atau membuka layanan yang mengharuskan tenaga pengajar pergi ke sekolah. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Ni Made Sabdha Devhani (16), dirinya sadar betul resiko yang diambil para pengajar. “Kita nggak tahu yang bakal terjadi, bisa saja pengajar kena virus ini saat mau ke sekolah atau saat melakukan pelayanan,” ungkap siswi kelas XI asal SMAN 3 Denpasar itu. 5% responden lainnya bahkan sangat menentang hal tersebut. Disisi lain, 22% remaja menyatakan setuju bila tenaga pengajar pergi ke sekolah. Ni Made Mutia Pradnya Wangi (17) contohnya, “Walau sekolah ditutup dan murid belajar di rumah, layanan sekolah juga harus tetep jalan, kaya pegawai TU atau tukang kebersihan contohnya,” ucap mutia. Tak hanya itu, 3% responden mengaku sangat setuju apabila sekolah masih mengadakan kegiatan atau membuka layanan yang mengharuskan tenaga pengajar pergi ke sekolah. Sementara itu, nampaknya 34% responden masih ragu-ragu untuk berpendapat.
Hasil pantauan kondisi ekonomi oleh tim Madyapadma menunjukkan di Jl. Raya Darmasaba terlihat sebuah warung nasi kuning ramai pengunjung. Namun telah terdapat tempat cuci tangan di dekat warung tersebut. Tak hanya itu, toko-toko di seputaran Jl. Ahmad Yani pun telah beroperasi normal dan telah diramaikan pengunjung. Lain hal dengan kondisi gerai-gerai pedagang di Jl. Noja yang tak terlihat begitu ramai. Begitu pula dengan situasi di Jl. Siulan Perumahan Siulan Permai dan di sekitar Jl. WR Supratman no.200. Beberapa pedagang di Jl. SMA 3, Jl. Sandat, dan Jl. Wijaya Kusuma tampak membuka gerainya, namun masih tak menunjukkan tanda-tanda pembeli. Sementara itu, di Jl. Sekar Sari Gg. Yeh Kapit terlihat beberapa pedagang keliling dan kurir paket yang melintasi wilayah tersebut (ek/scy/dyt).

