Tak hanya kesulitan dibidang ekonomi, dunia pendidikan pun kini menjadi sorotan dunia. Bagaimana tidak? Yang biasanya dilakukan dengan tatap muka, kini hanya dilakukan secara daring. Bagaimana tanggapan jika sekolah dibuka kembali bagi daerah yang termasuk zona kuning dan zona hijau?
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengizinkan kembali sekolah dibuka untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di tengah pandemi covid-19 yang belum mereda, bahkan kasusnya dari hari ke hari semakin meningkat. Namun, keputusan itu dikhawatirkan banyak pihak, mulai dari siswa, guru, hingga pegawai sekolah banyak yang dinyatakan positif covid-19 lantaran bisa menjadi klaster baru penyebaran covid-19. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai langkah yang diambil oleh Nadiem merupakan potret kebijakan pendidikan yang paradoks. Di satu sisi angka statistik penyebaran covid-19 di Indonesia makin tinggi, tetapi di sisi lain kebijakan pendidikan membuka sekolah makin longgar. Menurut Data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Data siswa dan guru baik di sekolah maupun pesantren, yang positif COVID-19 hingga 10 Agustus 2020 adalah 28 guru dari 2 sekolah di Kota Balikpapan, 35 santri dari pesantren di Kab. Pati, 4 guru di Kota Surabaya, 2 siswa di Kab. Sumedang, 2 siswa di Kab. Sambas, 2 guru di Kota Pariaman, 1 siswa di Kota Sawahlunto, 1 siswa di Kab. Tegal 9, 1 siswa di Kota Tegal 10, 1 guru di Kota Solo 11, 1 guru meninggal positif Covid-19 di Kab. Madiun, 1 guru di Kota Madiun, 50 santri di Ponpes Gontor 2 Kab. Ponorogo, 5 pengajar (ustaz) di Ponpes Kota Tangerang, 1 pengajar (ustaz) dan 6 santri di Kab. Wonogiri, 3 santri di Ponpes Kab. Pandeglang serta 43 santri di Ponpes Temboro Kab. Magetan
Sementara itu Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikspora) Bali tengah menyusun teknis pembukaan sekolah di tengah pandemi virus corona untuk zona hijau dan kuning. Pemprov Bali juga berencana akan melaksanakan metode pembelajaran tatap muka di sekolah pada akhir Agustus mendatang. Menurut Drs.Ida Bagus Sudirga,M.Pd.H (58) mengingatkan kebijakan itu perlu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian. “Perlu dipertimbangkan lagi dengan matang, akan sangat beresiko karena dapat menambah kasus positif covid-19, karena anak-anak juga sulit dicegah untuk tidak berkerumunan,” tutur laki-laki yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Denpasar.
Selain itu, menurut Dr. Putu Tarita Susanti (31) juga mengatakan bahwa sangat rentan dan berisiko tinggi apabila sekolah di zona hijau dan kuning melaksanakan pembelajaran tatap muka. “Sangat tidak setuju! Karena dengan adanya era baru perubahan pola hidup seperti ini masih terdapat beberapa kasus konfirmasi covid-19. Dengan adanya metode pembelajaran tatap muka ini akan sangat beresiko apalagi dengan populasi anak-anak, dimana anak-anak memiliki kerentanan yg lebih rendah dari orang dewasa,” tukas Tarita Susanti. Tarita Susanti menambahkan, sikap dan tingkah laku anak-anak secara alamiah tidak akan bisa menerapkan protokol kesehatan dalam sebuah kelompok populasi. Misalnya, saat bertemu setelah sekian lama tidak pernah bermain bersama. Anak-anak akan berkumpul dengan yang lain membentuk kelompok bermain. “Dalam hal ini, anak-anak tersebut tidak salah, mereka hanya mengikuti perilaku alamiah nya,” tegas Tarita Susanti.
Semakin hari semakin tinggi kasus terjangkit virus covid-19. Banyak hal yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Jika ada sekolah yang ingin melakukan tatap muka diharapkan memiliki protokol kesehatan yang lengkap. “Diharapkan mempertimbangkan ulang mengenai kebijakan ini. Demi keselamatan anak-anak Indonesia!” ujar wanita yang berprofesi sebagai dokter umum tersebut.
Hasil pantauan tim Madyapadma pada Jumat (21/8) menunjukkan beberapa toko-toko di Denpasar masih sepi pembeli. Seperti yang terlihat di Jl. Tulip. Sementara kondisi di Jl. Kenyeri Gg. Rampai, Jl. Kenyeri Gg. Kemuning II, Jl. SMA 3, Jl. Turi, dan Jl. Sekar Tunjung VIII pengunjung di gerai pedagang belum terlalu ramai. Sementara di Jl. Padma perekonomiannya sudah kembali seperti semula. Jumlah pembeli meningkat dan berangsur normal seiring dengan aktivitas masyarakat yang kembali seperti semula (mo/dp).

