Telah lama dunia pendidikan menderita akibat Covid-19. Hingga saat ini kegiatan pembelajaran belum juga pulih. Tapi baru-baru ini, tersiur kabar bahwa sekolah menjadi salah satu kluster penyebaran Covid-19. Lantas bagaimanakah persepsi remaja Denpasar?
Sejak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan bahwa sekolah yang berada di zona hijau dan kuning di perbolehkan untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka, sejumlah sekolah di beberapa daerah dilaporkan menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Melihat hal ini, tim Madyapadma online pun melakukan survey kepada 100 remaja di Denpasar dengan menggunakan google form. Menggunakan metode acak sedearhana, tim Madyapadma menyebarkan kuisioner kepada remaja usia 13 tahun sampai 20 tahun. Adapun karakteristik responden yaitu mayoritas berada di bangku SMA sebanyak 82%, sebanyak 10% berada di perguruan tinggi, dan sebanyak 8% merupakan siswa SMP. 68% diantara pengisi kuisioner berjenis kelamin perempuan, dan 32% diantaranya laki-laki.
Menurut hasil polling, 57% remaja mengaku sudah mengetahui bahwa sekolah telah menjadi klaster penyebaran Covid-19. Bahkan 10% diantaranya sangat mengetahui akan hal ini. Ida Bagus Adi Raditya Pratiyaksa (16) juga mengaku sudah mengetahui adanya klaster ini. “Menurut saya, itu semua terjadi karena warga sekolah yang masih belum ketat ataupun bisa dibilang belum siap menghadapi virus tersebut dengan protokol yang diterapkannya. Hal ini juga dipengaruhi oleh zona sekolah tersebut, jika zona sekolah tersebut merah lalu sekolah tersebut dibuka, maka tentu saja sekolah bisa menjadi klaster penyebaran COVID-19” ungkap Gus Radit. Tetapi, sebanyak 24% responden belum mengetahui perihal ini dan 9% sisanya ragu untuk menjawab.
Sesuai dugaan, adanya klaster Covid-19 di lingkungan sekolah tentu sangat meresahkan para siswa dan orang tua. “Sangat sedih, karena saya ingin cepat masuk sekolah, tapi malahan sekolah menjadi klaster penyebaran. Ya ga mungkin juga sih soalnya keadaan di sekitar sekolah belum tentu membaik.” jawab Gus Radit jika di tanya bagiamana perasaannya ketika tau sekolah menjadi klaster penyebaran Covid-19. Walau ada sekitar 18% remaja yang menyatakan tidak takut untuk belajar dengan metode tatap muka, namun masih ada 52% remaja yang takut dan bahkan 26% sangat takut dan waspada jika diharuskan belajar dengan tatap muka. Sedangkan sisanya ada yang merasa sangat tidak takut dan memilih untuk tidak menjawab.
Di Provinsi Bali sendiri, Pemprov Bali berencana melaksanakan metode pembelajaran tatap muka di sekolah untuk daerah dengan zona kuning dan hijau pada akhir Agustus mendatang. Sebanyak 52% remaja mengaku telah mengetahui hal ini, bahkan 10% responden mengaku sangat tahu akan hal ini. Disisi lain, nyatanya sebanyak 31% remaja masih belum tahu-menahu tentang ini. “Saya sedikit tahu ternyata sekolah sudah menjadi klaster penyebaran Covid-19 juga. Sekarang saya jadi lebih tahu soal ini,” ungkap Ni Made Sabdha Devhani (16), seorang siswi kelas XI SMAN 3 Denpasar. Sisanya menjawab sangat tidak tahu, dan sebanyak 4% memilih tidak menjawab.
Perihal pendapat remaja mengenai kabar Pemprov Bali berencana melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah untuk daerah dengan zona kuning dan hijau pada akhir Agustus mendatang, 24% diantaranya menjawab setuju. Sedangkan 34% memilih tidak setuju. Sependapat, 17% responden pula memilih sangat tidak setuju. Kemudian 19% responden memilih tidak menjawab, dan sisanya memilih sangat setuju. “Di kondisi yang kayak gini, menurut saya sebelum melaksanakan kegiatan belajar seperti biasa, sebaiknya dicari tahu dahulu apakah benar-benar daerah tersebut aman dari Covid-19 atau tidak,” jelas Sabdha. (ek,scy)

