Pemerintah sigap menyesuaikan kebijakan pembelajaran dimasa pandemi Covid-19 dengan kurikulum darurat. Lantas bagaimana respon para remaja Denpasar?
Diharuskan belajar daring tanpa bisa bertatap muka dengan pengajar, nampaknya menjadi kesulitan tersendiri bagi para pelajar. Melihat hal ini, pemerintah nampaknya tak tinggal diam. Baru-baru ini, Kemendikbud mengumumkan adanya penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Salah satunya, kebijakan kurikulum darurat. Untuk mengungkap tanggapan remaja terkait kurikulim darurat, tim Madyapadma online pun melakukan survey kepada 100 remaja di Denpasar dengan menggunakan google form. Menggunakan metode acak sederhana, tim Madyapadma menyebarkan kuisioner kepada remaja usia 13 tahun sampai 20 tahun. Adapun karakteristik responden yaitu sebanyak 2% merupakan siswa SMP, 90% merupakan siswa SMA/SMK sederajat, dan sebanyak 6% diisi oleh mahasiswa perguruan tinggi. 67% diantara pengisi kuisioner berjenis kelamin perempuan, dan 33% diantaranya laki-laki.
Hasil polling menunjukkan, 52% remaja sudah mengetahui adanya kebijakan kurikulum darurat ini. Ni Putu Saraswati Maharani Devi Dasi (15), mengaku sudah mengenal kebijakan kurikulum darurat. “Menurut saya kurikulum darurat ini sangat bagus, karena akan meringankan beban guru serta pihak sekolah. Perubahan kurikulum ini juga tentu akan membuka serta mengembangkan solusi baru yang akan mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan di masa mendatang,” ujarnya. 2% responden merasa sangat mengetahui kurikulum darurat tersebut. Disamping itu,35% responden nampaknya belum mengetahui kebijakan kurikulum darurat ini. seperti halnya Komang Ayu Mirah Kumala Dewi(15) yang mengaku masih belum mengetahui terkait kebijakan kurikulum darurat ini. “Jujur saya masih kurang paham dan kurang tahu tentang kurikulum darurat ini. Baru hari ini karena mengisi kuisioner saya mendengar tentang kurikulum darurat ini dan jadi cari-cari informasi lagi tentang kurikulum darurat ini,” ungkap Mirah. Bahkan, 5% remaja menjawab sangat tidak tahu mengenai kurikulum itu. Sedangkan 6% responden lainnya memilih tidak menjawab.
Sejauh ini, kurikulum darurat menuai berbagai tanggapan positif dari masyarakat. Sebanyak 41% responden mengaku setuju dengan kebijakan hukum darurat ini. Tetapi lain halnya dengan Mirah, ia mengaku masih ragu dengan kebijakan kurikulum darurat ini. “Aku agak ragu dengan kebijakan kurikulum darurat ini. Karena pembelajaran online ini saya rasa memang sulit, tapi dengan kurikulum sekarang pun sudah bisa berjalan,” aku Mirah, siswi SMAN 3 Denpasar itu. Nyatanya, 44% responden lainnya juga merasa ragu-ragu. Sedangkan 11% responden lainnya memilih tidak setuju dan 4% responden memilih sangat setuju dengan kebijakan ini.
Ketika ditanya bagaimana kiranya keefektifan kurikulum ini berjalan ,hasil polling menunjukan bahwa 34% reponden berpendapat bahwa kurikulum ini akan berjalan dengan efektif dan 7% yang mengatakan akan sangat efektif. Namun tanggapan lain disampaikan oleh Mirah, ia berpendapat bahwa kurikulum ini tidak efektif karena menurutnya tidak semua materinya bisa tersampaikan. Nyatanya 21% juga sependapat bahwa kurikulum ini tidak efektif. 2% responden bahkan merasa kurikulum tersebut sangat tidak akan berjalan efektif. Sisanya mengaku masih ragu dengan adanya keefektifan kurikulum ini yakni sebesar 36%.
Sebagai penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19, kurikulum darurat ini diharapkan dapat menjadi tonggak awal perubahan pendidikan dimasa depan. 46% responden mengaku setuju dengan pernyataan tersebut. Salah satunya Saraswati “Iya, karena dengan perubahan kurikulum tersebut tentu akan membuka serta mengembangkan solusi baru yang akan mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan di masa mendatang.” Ucap gadis itu. 4% remaja juga mengaku sangat setuju jika boleh jadi kurikulum darurat akan tonggak awal perubahan pendidikan di masa mendatang. Adapun yang mengatakan tidak setuju bahwa kurikulum ini adalah tonggak awal perubahan pendidikan masa depan adalah sebanyak 18%. 1% lainnya merasa sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Sementara, 31% responden menjawab ragu-ragu.
Hasil pantauan tim Madyapadma pada Selasa (11/8) menunjukkan makin banyak pelaku-pelaku usaha yang mulai membuka tempat usahanya. Seperti halnya yang terlihat di Jl. Tukad Yeh Aya IX G, Jl. Gadung, Jl. Siulan, Jl. Sekar Sari Gg. Kapit Yeh, Jl. Darmasaba, Jl. Gandapura, Jl. Wijaya Kusuma, Jl. Jayagiri dan Jl. Noja Perumahan Citramas. Bahkan, usaha laundry di Jl. Tukad Yeh Aya IX G terlihat ramai pengunjung. Begitu pula dengan keadaan yang ada di Jl. Noja Perumahan Citramas yang hanya terdapat satu gerai sehingga situasinya terlihat ramai. Tak jauh berbeda dengan kondisi di Jl. Darmasaba yang toko-tokonya sudah diserbu pelanggan. Kendati sayang, rupanya masih ada satu dua orang yang tak menggunakan masker ketika berbelanja di seputaran Jl. Darmasaba. Berbeda dengan keadaan di Jl. Jayagiri, meski banyak pertokoan yang telah membuka usahanya namun masih sepi pengunjung.
penulis: ek/scy
reporter: Tim Madyapadma

