Rasa suntuk tatkala pandemi COVID-19 membuat para remaja cari solusi tuk hilangkan kejenuhan. Bersepeda pun jadi pilihan. Trend bersepada dimasa pandemi, bagaimana pelaksanaannya?
Pandemi COVID-19 yang mewabah di Indonesia sejak Maret 2020 lalu menjadi pukulan berat bagi sebagian industri manufaktur. Dimasa pandemi ini kita dituntut untuk banyak berolahraga. Namun siapa sangka, fenomena ini justru menghasilkan dampak yang sebaliknya bagi industri sepeda di dalam negeri. Permintaan sepeda dikabarkan melonjak di tengah merebaknya wabah pandemi COVID-19. Beberapa pihak juga menilai kegiatan bersepada ini menjadi alternatif untuk berolahraga pada saat banyak tempat olahraga yang terpaksa ditutup. Yang harus diperhatikan dalam bersepeda adalah kemampuan fisik, karena kemampuan pada diri masing-masing orang yang berbeda. Yang tak kalah penting, jangan sampai kegiatan bersepeda justru menimbulkan celaka bagi diri sendiri maupun orang lain karena perilaku yang seenaknya sendiri.
Nampaknya, bersepeda makin diminati karena sudah menjadi trend di kalangan millennial. Seperti yang disampaikan Ida Bagus Damar Putra (17), salah satu siswa kelas XII di SMAN 3 Denpasar, “Sebelum pandemi saya sudah suka bersepeda, tapi gak sesering sekarang, cuma memang karena sekarang lagi trend jadi tambah tertarik untuk sering bersepeda,” Ia memilih sepeda dibandingkan olahraga lainnya, karena menurutnya bersepeda itu tidak membosankan. “Bisa dibilang bersepeda itu olahraga sekaligus jalan jalan, jauh lebih refreshing,” tambahnya. Begitu pula dengan Nyoman Tri Arta Wibawa Putra(17) yang menjadi lebih rutin bersepeda di masa pandemi ini. “Saya berolahraga sepeda setiap dua hari sekali di sore hari, sekitar pukul 4 sore saya bersepeda bersama saudara atau pun teman sekolah,” aku Tri Arta.
Tak sedikit pula yang mengaku telah bersepeda sebelum masa pandemi. “Sebelum pandemi, saya bersepeda sekitar 3-5 kali seminggu. Tiap kalinya jarak yang ditempuh adalah 14-18 km. Perbedaanya saya lebih sering bersepeda sebelum pandemi pada jarak yang relatif lebih pendek. Di pandemi, hanya sekali tapi kiranya 40-60 km sekali jalan,” ungkap I Gusti Putu Wisnu Wardhana (17), siswa kelas XII SMAN 3 Denpasar. Hal serupa dilontarkan oleh Gede Agraprana Nadi Paramartha (17), “Saya sudah rutin bersepeda sejak 2017, jadi bisa dikatakan sudah bersepeda sebelum pandemi. jujur saja frekuensi bersepeda saya menurun ketika pandemi karena saya lebih banyak olahraga dirumah daripada bersepeda,”. Siswa yang kini menginjak kelas XII SMAN 3 Denpasar itu mengaku bahkan ia pernah bersepeda dari Denpasar hingga Kabupaten Klungkung kemudian kembali ke Denpasar, dengan total jarak 65 km.
Pada akhirnya, bersepeda memang memiliki banyak manfaat . “Ayo olahraga, jangan rebahan trs dirumah. Ingat patuhi protokol-protokol kesehatan yang diberikan pemerintah saat bersepeda ya,” pesan Paramartha. “Kalau memang hobi bersepeda kita harus mengerti tata tertib berlalu lintas, karena saya sering lihat pesepeda yang sembarangan jalan di jalan raya bahkan menerobos lampu merah, bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga bisa membahayakan orang lain yang bahkan gak bersalah sama skali. Setiap kita bersepda kita harus memikirkan juga pengguna jalan lain,” sambung Damar.
Hasil pemantauan tim Madyapadma pada Senin (10/8) menunjukkan toko-toko di beberapa daerah di Denpasar telah beroperasi seperti biasa. Seperti halnya yang terlihat di Jl. Wijaya Kusuma, Jl, Trijata, Jl. Diponegoro, Jl. Kaswari, Jl. Ahmad Yani, Jl. Gandapura, Jl. Hayam Wuruk serta di seputaran renon. Kendati begitu, penerapan protokol kesehatan masih tetap diperhatikan (mo, dp, scy).

