Kota Denpasar masih jadi sorotan, perkembangan kasus COVID-19 jadi bahan perbincangan. Sudahkah Denpasar jadi lebih aman dibanding perkembangan keseluruhan di Bali? Atau malah kian ringkih tak kuasa memikul beban COVID-19 yang kian membludak?
Dari awal badai pandemi menyerang pulau dewata, Denpasar langsung jadi pusat perhatian. Korban-korban yang terjangkit COVID-19 terus berjatuhan. Hingga pada Kamis (30/7) kemarin, terdapat total 1.297 pasien positif COVID-19 di Denpasar. Sementara data di pulau dewata sendiri telah mencapai angka 3.361 orang. Jika dibandingkan dari kasus transmisi lokalnya, memang betul Denpasar masih memimpin. Sampai Kamis kemarin, Denpasar telah mencatat 1.232 kasus transmisi lokal dengan persentase 94,98%. Sedangkan kasus transmisi lokal di Bali menunjukkan angka 2.970 dengan persentase 88,36%. Walaupun begitu, lonjakan peningkatan persentase transmisi lokal di Bali per harinya jauh lebih tinggi dibanding Denpasar yang cenderung meningkat sedikit demi sedikit. I Nyoman Tri Sendyana pun turut membagikan pandangannya. “Kalau aku liat itu Denpasar masih jadi penyumbang positif yang cukup banyak untuk provinsi Bali ya. Jadi menurutku bisa dibilang kalau perkembangannya masih belum cukup baik,” kata Tri Sendyana. Tak hanya itu, bagi Tri Sendyana perkembangan kasus COVID-19 di Denpasar juga Bali saling berhubungan. “Keduanya itu saling berhubungan menurutku. Jadi kalau di kabupaten atau kotanya grafik positifnya masih naik, otomatis bakal berpengaruh ke provinisinya,” ucap Tri Sendyana.
Kendati demikian, sebetulnya kondisi Denpasar berangsur membaik jika dibandingkan kondisi di pulau dewata. Melihat grafik perkembangan transmisi lokal, kesembuhan serta fatalitas justru grafik di Denpasar tampak lebih stabil ketimbang Bali secara keseluruhan. Grafik persentase fatalitas di Bali bahkan telah menyalip persentase fatalitas di Denpasar. Tingkat fatalitas di Denpasar berada di angka 1,07%. Lain hal dengan tingkat fatalitas di Bali yang jumlahnya lebih tinggi yakni sebanyak 1,45%. Padahal di awal, persentase fatalitas ibu kota Bali tersebut jauh berada di atas Bali. Makin kemari, rupanya perkembangan fatalitas di Denpasar dan Bali berbanding terbalik. Namun, “Sesuai data di Bali dua bulan terakhir, ada trend penurunan kasus kematian sejak seminggu terakhir,” ungkap Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika. Prof. Ngurah juga mengungkapkan kasus di Bali bisa saja melonjak sewaktu-waktu.
Persentase pasien pulih di Denpasar pun jumlahnya lebih banyak dibandingkan persentase kepulihan di Bali. Di Denpasar terhitung 84,42% pasiennya telah terbebas dari jeratan virus Sars-CoV-2. Sebagai pembanding persentase kepulihan di Bali berjumlah 82,95%. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTTP) Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai pun mengungkapkan lonjakan-lonjakan kasus COVID-19 di Denpasar perlahan menurun. Dewa Rai optimis kondisi Denpasar dapat segera membaik. “Dengan kerja keras dan partisipasi masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan yang disiplin, astungkara Denpasar akan semakin membaik,” ujar Dewa Rai. Kadek Satria Putra Purnama (17), seorang pemuda asal Denpasar pun sadar akan hal tersebut. “Kalau aku sebagai remaja tetep harus ikutin protokol yang ada, bagaimanapun juga kadang remaja khususnya di Denpasar ya agak susah untuk bisa ngikutin protokol kesehatan. Misalnya lagi ngumpul di cafe tapi nggak pakai masker sama nggak social distancing,” kata Satria. Satria sadar betul apabila tak mengikuti protokol ksesehatan dengan benar, boleh jadi dirinya berpeluang membawa virus kepada keluarganya. “Itu bisa jadi salah satu penyebab grafik kasus COVID-19 di Denpasar juga Bali naik. Jadi kalau aku sebagai remaja menyikapinya dengan tetep produktif namun dengan catatan tetap mengkuti protokol kesehatan serta memiliki rasa jengah terhadap pandemi COVID-19 sebagai hal yang harus dilalui bersama,” kata Satria tegas (dyt/dis).

