Kini seluruh daerah berlomba - lomba bangkit dari pandemi. Namun sedikit tindakan yang salah akan berdampak besar bagi daerah itu sendiri. Bagaimana persepsi remaja mengenai penanganan COVID-19 di Bali dan Denpasar?
Jumlah pasien COVID-19 di Denpasar juga Bali hingga bulan Juli masih terus mengalami peningkatan. Selaras dengan hal tersebut, kasus transmisi lokalnya pun masih terus menanjak walau perlahan. Beruntungnya, grafik pasien yang berhasil pulih juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Perkembangan COVID-19 masih jadi bahan perbincangan yang hangat. Virus Sars-CoV-2 rupanya terus berhasil menyedot atensi publik, tak terkecuali para remaja yang kian merasa terkurung selama pandemi berlangsung. Menengok hal tersebut, tim Madyapadma online melakukan survey kepada 100 remaja di Denpasar. Memanfaatkan metode kuisioner di google form, tim Madyapadma mengulik bagaimana persepsi remaja mengenai perkembangan COVID-19 di Denpasar dan Bali. Karakteristik responden meliputi usia responden berkisar antara 13 tahun hingga 20 tahun. Dimana 5% merupakan siswa SMP, mayoritas 82% diisi oleh siswa SMA serta 14% merupakan mahasiswa perguruan tinggi. Jenis kelamin yang mengisi ialah 67% perempuan dan 33% laki-laki.
Sesuai hasil polling yang dilaksanakan pada (27/7), sebagian besar remaja yakni sebanyak 47% merasa penanganan wabah COVID-19 di kota Denpasar dari bulan Mei hingga bulan Juli tidak mengalami banyak perubahan. “Menurut saya penanganan COVID-19 di Denpasar dari bulan Mei sampai Juli tidak mengalami banyak perubahan. Bedanya dikit ya mungkin karena pemerintah udah nerapin new normal jadinya masyarakat itu jadi biasa saja sama kasus COVID-19 ini. Terus aku liat kayaknya orang-orang sudah nggak terlalu ngikutin berita tentang COVID-19,” kata Wahyu Dwi Kristian Napitupulu (17). 10% responden malah merasa penanganan wabah COVID-19 pada bulan Juli di Denpasar malah memburuk apabila dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Berbanding terbalik dengan 13% responden yang merasa penanganan wabah COVID-19 di bulan Juli makin cocok diacungi jempol jika dibandingkan penanganan Kota Denpasar pada bulan Mei dan Juni. Sementara 23% mengaku tak mengikuti perkembangan COVID-19 di Denpasar dan sisanya sebanyak 7% responden enggan menjawab.
Selaras dengan penanganan pemerintah Denpasar terkait penyebaran virus Sars-CoV-2, mayoritas remaja yaitu sebanyak 39% merasa tidak terdapat banyak perubahan yang terjadi. Serupa dengan anggapan Putu Dipta Wikananda (18) yang merasa peningkatan pasien setiap harinya belum dapat dikatakan stabil. “Saya melihat berita di media bahwasanya jumlah pasien yang terkena COVID-19 dengan jumlah pasien yang sembuh angkanya tidak beda jauh, bahkan per tanggal 22 Juli 2020 jumlah pasien yang terkena COVID-19 sekitar 38 orang dan jumlah pasien yang sembuh hanya sekitar 23 orang,” ujar Dipta. Tak sependapat dengan Dipta, sebanyak 19% remaja justru merasa wabah COVID-19 di Denpasar kian terkendali. Sebagian kecil yaitu 3% remaja merasa wabah COVID-19 pada Juli telah semakin sangat terkendali dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Di sisi lain, dari kacamata 19% responden perkembangan COVID-19 di Kota Denpasar malah makin tak terkendali. Sebanyak 2% merasa lonjakan kasus COVID-19 di bulan Juli sangat tidak terkendali, seolah siap menggerogoti siapa saja. Jumlah yang cukup besar menunjukkan 18% responden memilih untuk tak menyampaikan pandangannya.
Melihat lika-liku perkembangan COVID-19, 29% responden optimis wabah COVID-19 di Denpasar akan segera teratasi dengan baik. “Melihat perkembangannya, setidaknya sekarang bisa sedikit lega. Sekarang saya berpergian merasa lebih aman dengan tetap pada protokol kesehatan. Namun data dan perkembangan juga patut diawasi dan gerak cepat dalam melakukan penanganan,” jelas I Putu Aryana Kepakisan (16). 5% sangat optimis Kota Denpasar akan segera pulih dari jeratan COVID-19. Bertolak belakang dengan 4% responden yang merasa perkembangan COVID-19 pada bulan Juli di Denpasar semakin sangat mencemaskan. Sedangkan 27% merasa semakin mencemaskan wabah COVID-19 pada bulan Juli. Namun, mayoritas 32% responden beranggapan tidak terdapat banyak perubahan membuatnya merasa biasa saja. Sebagian kecil responden yaitu sebanyak 3% rupanya tak ingin berpendapat.
Sementara itu, kebanyakan responden juga menilai penanganan wabah COVID-19 di Bali dari bulan Mei hingga Juli tak banyak berubah. Seperti halnya apa yang dirasakan Dipta dan 44% responden lain. “Menurut saya penanganan wabah COVID-19 di Bali bulan Juli yaitu tetap tidak banyak perubahan dari bulan Mei dan Juni. Karena tiap bulannya masih ada masyarakat yang terkena COVID-19, ini membuktikkan Bali belum bisa dikatakan sukses dalam penanganan wabah COVID-19. Walaupun jika dibandingkan dengan Provinsi lainnya Bali termasuk salah satu Provinsi dengan jumlah pasien COVID-19 yang tidak terlalu banyak,” papar Dipta. Tak sejalan dengan Dipta, 16% remaja lain malah merasa penanganan pemerintah Bali terkait lonjakan kasus COVID-19 sudah semakin baik. Meski begitu, terdapat 14% yang merasa penanganannya justru memburuk. Minoritas sebanyak 6% enggan memberikan jawaban. Lantas sisanya yakni 20% mengaku tidak mengikuti perkembangan penanganan COVID-19 di Provinsi Bali.
Tak hanya itu, mayoritas responden sebanyak 37% merasa penyebaran wabah COVID-19 masih tak terdapat banyak perubahan. 21% beranggapan virus Sars-CoV-2 semakin tak terkendali. Bahkan 2% merasa wabah COVID-19 semakin sangat tak terkendali. Berbeda dengan 4% responden yang berpandangan bahwa penyebaran COVID-19 sudah semakin sangat terkendali. Angka yang cukup tinggi yakni sebanyak 17% merasa perkembangan COVID-19 di Bali sudah semakin terkendali jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Sementara, 19% sisanya enggan untuk menjawab.
“Jujur sih cemas dan takut ya karena ngerasa kayak semakin banyak yang kena. Terus dijalan sudah ramai, tetapi memang nggak bisa juga sih terus-terusan di rumah soalnya ada kepentingan juga yang mengharuskan kita keluar rumah. Sebenarnya nggak masalah sih kalo keluar asalkan bisa matuhin protokol kesehatan yang udah diberi tahu,” ungkap Wahyu. Tampaknya Wahyu tak sendiri, 28% responden lainnya juga semakin mencemaskan perkembangan COVID-19 di Bali pada bulan Juli. Meski jumlahnya sedikit, 5% sangat mencemaskan perkembangan COVID-19 dibandingkan dua bulan lalu di Bali. Sedangkan, kebanyakan responden yakni sebanyak 32% merasa biasa saja sebab tak terdapat banyak perubahan pada kasus COVID-19. 25% malah optimis melihat perkembangan COVID-19 di bulan Juli dibandingkan dua bulan lalu di Bali. Sisanya, 7% sangat optimis setelah melihat perkembangan wabah COVID-19 pada bulan Juli (dyt/dis).

