Era normal baru telah resmi diberlakukan pada Kamis (9/7) lalu. Kendati begitu, gempuran virus Sars-CoV-2 masih belum padam. Angka transmisi lokal masih menanjak setiap harinya. Ancaman COVID-19 terasa kian dekat sebab kini ruang gerak masyarakat jadi lebih tak terbatas.
Bagai makan buah simalakama, begitulah kiranya pemberlakuan era normal baru bagi Danar Rafiardi Ahmad (17). Di satu sisi, kondisi ekonomi telah digerogoti habis. Akan tetapi, kesehatan penduduk juga tak boleh dikesampingkan. Bahkan dari awal terlaksananya era normal baru hingga Kamis (16/7), persentase transmisi lokal di Denpasar meningkat sebanyak 1,78% menjadi 93,37%. Padahal menurut World Health Organization (WHO), untuk melaksanakan new normal, setidaknya dalam suatu daerah persentase transmisi lokal maksimal berada di angka 10%. “Jika melihat dari kondisi ekonomi, tindakan ini sangat tepat karena keadaan ekonomi kita saat ini sedang sangat terpuruk. Lagi pula jika new normal baru dilakukan saat pandemi berakhir, pemerintah setidaknya harus memperhatikan seluruh rakyatnya dengan baik terutama stok ketersediaan pangan,” jelas Danar. Menurut Danar, tak semua orang akan mampu bertahan hingga badai pandemi usai. “Yang bisa bertahan mungkin hanyalah orang-orang dengan standar ekonomi ke atas. Bagaimana dengan rakyat kecil?” ujar Danar.
Walaupun demikian, Danar sadar betul bahwa transmisi lokal ketika new normal boleh jadi bumerang bagi semua orang. “Jika kita melihat dari faktor keselamatan masyarakat tentu saja new normal ini sangat berbahaya. Memang sudah ada protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus ini, tetapi tetap saja kita tidak boleh menaruh pola pikir kita tidak akan terinfeksi jika sudah melaksanakan protokol kesehatan. Kita lihat saja para dokter di garda terdepan yang sudah sangat teliti melaksanakan protokol kesehatan tersebut tetap bisa terinfeksi,” papar Danar.
Setiap keputusan yang diambil tentu memiliki risiko tersendiri. Sama halnya dengan kebijakan new normal yang juga miliki dua sisi bertolak belakang. “Tentu risiko orang-orang tertular COVID-19 akan semakin besar. Tetapi coba kita balik cara berpikirnya dengan jika ekonomi negara yang surplus, tentu jumlah orang yang bisa ditangani akan meningkat. Ketimbang kita membatasi aktifitas masyakat dan akan membunuh rakyat secara perlahan,” ungkap Ngurah Keshawa Satya Santiarsa (17). Menurut Keshawa, pelaksanaan new normal akan sangat menolong perputaran ekonomi mikro maupun makro. “Saya rasa jumlah orang yang positif karena transmisi lokal tak perlu terlalu dipusingkan. Karena anggap saja sama seperti penyakit lainnya seperti demam berdarah, apakah perlu ditakuti oleh masyarakat? Yang kita perlu waspadai adalah jumlah orang yang meninggal,” kata Keshawa.
Sementara, melihat kesadaran masyarakat yang masih kurang dr. Putu Tarita Susanti mengaku tak sejalan dengan keputusan new normal ini. “Apabila masyarakat benar-benar mengerti dan paham bagaimana penerapannya, dijalankan dengan sungguh-sungguh, baru new normal ini dapat terlaksana,” ucap dr. Susanti. Bagi dr. Susanti, ketidakpahaman masyarakat mengenai maksud dan aturan new normal akan berdampak pada lonjakan-lonjakan kasus transmisi lokal. Karena itu, sebaiknya masyarakat “Tetap taat sesuai anjuran protokol kesehatan. Tidak hanya sekedar memakai masker dimana masker terletak di dagu. Hal itu tidak akan efektif. Cuci tangan sesuai dengan langkah-langkah yang benar, tidak sekedar membasahi tangan dan menggunakan sabun yang sangat sedikit. Selalu menjaga jarak dengan yang lain. Berkumpul boleh saja namun tetep menjaga jarak. Tidak perlu menunggu tempat duduk diberi tanda, tetapi harus dari kesadaran diri,” tegas dr. Susanti.
Berdasarkan pantauan Tim Madyapadma pada Jumat (17/07), arus lalu lintas di beberapa ruas jalan terpantau sepi. Seperti yang terihat di Jl. Trijata, Jl. Sekar Tunjung VIII, Jl. Wijaya Kusuma, Jl. SMA 3, Jl. Kenyeri Gg. Kemuning, Jl. Turi dan Jl. Dukuh, kendati sepi beberapa aktivitas masyarakat masih berjalan normal. Sementara di Jl. Nusa Indah, Jl. W.R. Supratman, Jl. Tulip, dan Jl Patimura terlihat dipadati oleh kendaraan (dyt/dis).

