Hampir lima bulan pelajar di Indonesia menghabiskan waktunya di rumah. COVID-19 tak hanya memberhentikan ekonomi, namun aktifitas pendidikan juga ikut tersendat. Apakah menghabiskan waktu di rumah menimbulkan dampak positif, atau malah sebaliknya?
Tak hanya merusak kesehatan, COVID-19 juga merenggut kesempatan para pelajar untuk menikmati aktivitas sekolah. Meskipun kini tahun ajaran 2019/2020 sudah usai dan akan memasuki tahun ajaran baru, situasi ini masih tetap berlangsung. Dalam memulai suatu proses yang baru pastinya akan ada kendala yang dihadapi, apalagi dengan perubahan yang terlalu spontan. Hal itu pula yang dialami oleh I Made Aryadutha Restu Bumi(14), salah satu pelajar di SMP Negeri 3 Denpasar. “Awalnya tidak terbiasa karena kadang juga ada kendala dalam alikasi belajar yang tidak maksimal apalagi proses belajar mengajar tidak bertemu secara langsung jadi lebih sulit dalam memahami materi,” ungkap Aryadutha.
Melakukan aktivitas pembelajaran di rumah juga akan merubah kebiasaan dari para pelajar. Hari-hari yang biasanya hanya dijalani dengan materi sekolah kini bertambah dengan kewajiban seorang anak untuk membantu orang tua. Hal ini diakui oleh ayah dari Aryadhuta. I Made Juliartha(46) mengaku kalau anaknya melakukan kegitan yang biasanya tak dilakukan seperti membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Kendati demikian, sebagai orang tua Made Juliartha tetap merasa resah karena di masa pandemi ini membuat sang anak terpaksa tak beraktivitas di luar rumah. Sosialisasi jadi berkurang, tak jarang terdapat anak yang asyik menyendiri di rumahnya. “Saya resah karena sekarang anak saya jarang berinteraksi jadi banyak main handphone dan tidur selama pandemi, selain itu saya khawatir anak saya akan susah menangkap pelajarannya” keluh Made Juliartha.
Berbeda dengan Made Juliartha, I Gusti Nyoman Tongki Adiyono(43) mengaku sang anak tak melakukan aktivitas yang membuat dirinya resah. Hal itu juga diakui oleh sang anak, Gusti Ayu Intan Pradnyaswari(16), salah satu siswi yang baru saja menduduki bangku kelas XI di SMA Negeri 3 Denpasar. Menghabiskan waktu di rumah justru dimanfaatkan dengan baik oleh Intan Pradnyaswari. Namun dirinya tak menampik bahwa terkadang dirinya merasa bosan akan situasi pandemi ini. Akan tetapi, terlepas dari segala dampak negatif ada, ia lebih memilih mengambil sisi positifnya. “Awal-awal emang bosan tapi saya mulai menyibukkan diri dengan cara belajar memasak, kalau awalnya saya belajar sayur sekarang saya tambah belajar buat kue, dan banyak kegiatan bermanfaat lainnya apalagi juga lebih banyak punya waktu sama keluarga, jadi ambil sisi positifnya aja,” kata Intan Pradnyaswari. Semakin lama, Intan Pradnyaswari pun kian mahir bermain dengan adonan kue.
Tentunya, situasi seperti ini tak akan pernah dibayangkan pada benak siswa sebelumnya. Putu Mirah Wahyu Subagia Putri(16), salah satu siswi yang baru saja meninggalkan kursi kelas X ini salah satunya. “Aku awalnya ngira situasi ini ngga bakalan lama, tapi lama-lama aku lihat justru sebaliknya malah makin parah,” ujar Mirah Wahyu. Mirah Wahyu juga meyakini bahwa dirinya akan sulit beradaptasi jika kondisi telah kembali normal.
Untuk menghindari COVID-19 yang mengharuskan siswa melakukan aktivitas sekolah di rumah mengakibatkan mereka jarang berinteraksi di luar rumah. Dengan menjalankan segala aktivitas di rumah tentunya memiliki dampak postif dan negatifnya tersendiri. Dampak yang diberikan tergantung dari cara orang memanfaatkan waktunya. Waktu di masa pandemi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan diri pada keluarga. Namun situasi ini juga dapat menjadi bomerang jika tak dimanfaatkan dengan semestinya. “Mau positif atau negatif tergantung gimana kita menyikapinya jadi kalau bisa ambil sisi positifnya kenapa ngga,” tutup Intan Pradnya (krn).

