Dua bulan sudah para pelajar menjalani proses pembelajaran di rumah. Masih saja mereka bertanya-tanya, kapan semua ini akan berakhir? Dan tanpa sadar, tibalah mereka di penghujung semester ini.
Dimulai dari Senin (18/05) seluruh pelajar SMA Kota Denpasar serentak melaksanakan PAT (Penilaian Akhir Semester). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, PAT kali ini dilaksanakan dengan metode jarak jauh via daring. Hal ini dikarenakan keadaan meresahkan yang tak kunjung usai. Alhasil para pelajar tetap menjalankan PAT dari rumah masing-masing. Disini tidak hanya pelajar, para pengajar pun dituntut untuk bekerjasama agar penilaian ini dapat berjalan dengan lancar.
Dari sudut pandang siswa, nampaknya kegiatan PAT hari pertama berjalan dengan lancar. “Hari pertama berjalan dengan cukup lancar. Intinya butuh koordinasi yang baik dari guru pengajar,” ujar Putu Atira Maya Ramindra (16), pelajar asal SMAN 1 Denpasar. Siswi yang kerap disapa Atira ini mengaku meskipun sempat ada sedikit kendala pada servernya, kegiatan ini tetap berjalan dengan lancar. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Ni Kadek Dwi Putri Ismahyuni (16), seorang pelajar asal SMAN 3 Denpasar. Menurutnya kegiatan PAT tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. “Sejauh ini saya belum ada kendala dalam pengerjaan, Semester lalu juga kita ulangannya menggunakan komputer, jadi saya sudah lumayan terbiasa dengan sistemnya,” jelas Putri. Beberapa sekolah di kota Denpasar memang telah menerapkan sistem ulangan akhir semester berbasis komputer, sehingga tak heran bila siswanya tak menemukan kesulitan saat mengerjakan PAT dari rumah.
Kendati demikian, bagi pengajar hal ini dapat menjadi tantangan tersendiri. PAT online ini mungkin dapat terlaksana dengan lancar tetapi para siswa tetap sulit untuk dipantau pada saat pengerjaan. “Apapun yang dilakukan secara daring pasti ada kendalanya. Misalnya untuk PAT online saat ini, guru sulit memantau bila siswanya mencontek atau tidak menjawab dengan jujur. Jadi saya nggak akan kaget kalau nilainya cenderung besar,” Ungkap I Made Suasta Jayendra (24), salah satu pengajar di SMAN 3 Denpasar. Ia menuturkan, proses pembelajaran dirumah pun tentu memiliki kendala. Selain siswa akan sulit menanggapi guru yang mengajar, kehadiran siswa pun menjadi masalah. Bila ada siswa yang tidak memiliki akses internet, tentu pihak sekolah tidak dapat menyalahkan atas hal ini. “Saya harap para siswa bisa tetap mengisi diri dengan hal positif selama dirumah. Kalau bisa juga mulai mempelajari materi tahun ajaran berikutnya, dan tetap ikuti himbauan pemerintah,” sambung Suasta.
Keterbatasan akses internet para pelajar memang bisa menjadi penghalang PAT kali ini. Beberapa mungkin kurang terdukung secara finansial untuk dapat mengakses internet dengan lancar. Namun di Kota Denpasar itu sendiri, sepertinya hal ini masih bisa diatasi. Kini tinggal kita saja yang mengambil peranan masing-masing. Jika semua dijalankan dengan optimis pasti hal ini akan berjalan sesuai harapan. “Saya bangga kita enggak menyerah dengan keadaan. Saya harap situasi bisa segera membaik dan segala sesuatunya tetap berjalan lancar,” tutup Atira. (scy)

