COVID-19, wabah mematikan ini masih meresahkan masyarakat. Tak hanya kesehatan dan pendidikan, perekonomian pun nampaknya turut dirugikan. Maka tak heran, kini perekonomian Indonesia pun turut terancam.
Social distancing menjadi salah satu kebijakan yang diambil pemerintah demi memutus rantai persebaran Virus Corona. Hal ini memang dinilai paling efektif untuk memperlambat persebaran virus ini. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada dampak buruk yang timbul seperti pada bidang perekonomian. Bagaimana tidak, mulai dari perusahaan besar hingga pedagang asongan kini banyak yang sudah merugi. Belum lagi, tak seluruh masyarakat dapat turut melakukan social distancing. Kebanyakan masih nekat keluar rumah untuk mencari nafkah.
Masyarakat menengah kebawah nampaknya yang paling dirugikan saat ini. Terlebih lagi masyarakat yang hanya mengandalkan pendapatan harian, begitulah kira-kira ucap Ilham Fachri (41), seorang pedagang kaki lima di daerah Denpasar, Bali. “Saya tahu keadaan sekarang ini sedang rawan, tetapi mau bagaimana lagi. Kalaupun tidak jualan, untuk makan saja masih kesulitan jadi saya terpaksa tetap jualan seperti biasa,” ungkapnya. Berbeda dengan daerah-daerah yang memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), untuk Denpasar sendiri memang belum memberlakukan PSBB sehingga masih ada kelonggaran untuk hal-hal seperti ini.
Tak hanya itu, kini karyawan swasta pun diresahkan dengan keadaan. Libur beberapa minggu sebab wabah ini tentu akan merugikan perusahaan dan dapat berujung PHK. Maka tak heran disini mereka akan berusaha beralih ke pekerjaan lain yang mungkin lebih menguntungkan. Terlepas dari gangguan ekonomi negara, kini daya beli produk lokal tentu meningkat karena adanya pembatasan barang import ke Indonesia. Sundari Dewi (32) salah satunya, yang mulai membuka usaha kecil ditengah pandemi ini. “Menurut saya keadaan sekarang ini bisa diambil sisi positifnya. Memang tidak memungkinkan untuk keluar rumah, jadi kini saya berjualan online barang-barang yang dibutuhkan masyarakat seperti masker kain. Saya lihat sih lumayan ada peluang,” ujar Sundari.
Tak sedikit diantara kita juga tentu masih bisa bertahan dengan baik di situasi ini. Terlebih bagi yang memiliki pekerjaan tetap, tentu akan lebih mudah menaati social distancing. “Salah satu orang tua saya kebetulan PNS, jadi tetap menerima gaji meskipun ada pemotongan sebesar 20%. Tetapi sejauh ini ekonomi kami masih lancar, tidak terlalu terganggu” tutur Ni Nyoman Sri Anjani (16), salah seorang remaja kelahiran Denpasar. “Di keadaan yang sekarang ini ada baiknya kita terus bersyukur dan berdoa,” tutup Anjani. Meskipun keadaan tengah kacau, tetaplah kita berusaha menjalani semua ini.

