Meningkatnya penyebaran covid – 19 di Indonesia menjadi ancaman bagi kita semua. Pulau Bali rupanya juga miliki cara-cara tersendiri guna mengatasi virus corona. Melalui tradisi dan budaya masyarakat Bali juga ikut berkontribusi.
Pulau Bali merupakan pulau yang kaya akan budaya dan juga tradisi. Semua kegiatan di Bali tak luput dari tradisi, adat istiadat dan juga kebudayaannya. Sejarah mencatat, Bali memiliki dunia kecil dengan kekayaan tradisi, adat, legenda, serta seni yang menjadi epitome istimewa.
Saat ini, seluruh dunia termasuk Indonesia sedang menghadapi pandemi covid – 19 yang sudah memakan begitu banyak korban. Di Bali khususnya umat Hindu juga memiliki tradisi unik untuk menghadapi pandemi tersebut, seperti memasang sesajen berupa pandan berduri tiga lembar diikat dengan benang tridaru dan diberi cabai, bawang merah dan pis bolong dan memasangnya digerbang rumah. Saat purnama kadasa, masyarakat menghaturkan pejati. Pada tanggal 2 april, pemerintah dari Parisada Hindu Dharma menganjurkan untuk menghaturkan nasi wong – wongan. Dan terakhir pada tilem kadasa, masyarakat menghaturkan bnten sesayut pageh tuuh rayunan putih kuning dan segehan manca warna.
Hal itu juga ditandai dengan berbunyinya kulkul pajenengan Puri Agung Klungkung yang berbunyi sendiri. Warga Bali percaya ketika kulkul tersebut berbunyi sendiri, maka bahaya akan datang sama halnya saat bencana Bom Bali tahun 2002 dan 2005, kulkul tersebut pun berbunyi dengan sendirinya. Bagi, I Putu Fendy Arya Saputra (17) sebagai warga asli Desa Kesiman, Denpasar, Bali ini mengungkapkan bahwa kepercayaan warga Bali khususnya agama Hindu di Bali sangat tinggi. “Bali memang memiliki beragam tradisi dan budaya, bahkan sejak kita baru lahir kita sudah diupacarai dengan tradisi yang berlaku. Maka, tak heran jika dalam menghadapi pandemi covid – 19 ini ada tradisi yang dilakukan masyarakat Bali dengan harapan meminimalisirkan kejadian atau hal – hal buruk yang akan terjadi,” ujar Fendy.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ni Wayan Sastya Himawari (15) sebagai warga dari Desa Sumerta Kaja mengatakan bahwa secara langsung tradisi diBali ditujukan agar kita lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Kita juga memohon keselamatan, kesehatan, dan berdoa agar keadaan di Bumi ini cepat berlalu. Selain itu, dengan adanya tradisi seperti ini bisa meningkatkan kepercayaan terhadap Tuhan bahwa kita sebagai manusia pasti selalu ada didalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, tradisi dan budaya di Bali seperti ini, memang banyak manfaatnya,” ujar Sastya.
Bahkan masyarakat dari luar Bali pun menyadari hal itu. Selaras dengan pendapat yang diungkapkan oleh Indah Lathifani Priyogaputri (28), salah satu masyarakat yang tinggal di Provinsi DKI Jakarta mengatakan bahwa Bali memang pulau yang kecil, tetapi memiliki kepercayaan yang cukup tinggi. “Menurut saya, memang banyak sekali tradisi dan budayanya dan saya rasa tingkat kepercayaan masyarakat di Bali itu tinggi sampai – sampai dalam menghadapi pandemi covid – 19 ini, Bali masih memiliki tradisi yang dapat dilakukan. Hal inilah yang menjadikan Pulau Bali sebagai pulau yang indah dan beragam karena tradisi dan budayanya,” tutup Indah. Meski kini Bali ditutupi kabut hitam, hal itu tak membuat masyarakatnya lupa akan tradisi dan budayanya. (dp)

