Indonesia, kini telah terkekang dan terenggut kebebasannya oleh jeratan tali tak kasat mata. Bukan perang, bukan pula pemberontakan namun karena virus-virus yang tengah menjajah. Segala hal jadi terhambat, sama halnya dengan pendidikan yang kena imbasnya.
Satu bulan sudah pandemi COVID-19 atau yang lebih dikenal dengan virus corona menghantui bumi Indonesia. Hingga kini, dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (15/04), jumlah positif corona di Indonesia mencapai 5.136 dengan 469 orang meninggal. Namun kabar baiknya adalah orang yang sembuh mencapai 446 orang. Itu artinya jumlah pasien sembuh telah mengalami peningkatan sebanyak 20 orang jika dibandingkan dengan jumlah kesembuhan di hari Selasa (14/04) yaitu sebanyak 426 orang. Pandemi yang sudah merambat di Indonesia sejak Maret lalu telah menghambat berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia, salah satunya adalah bidang pendidikan.
Persebaran COVID-19 disebabkan oleh kontak fisik sehingga alangkah baiknya apabila masyarakat menghindari keramaian. Bahkan pemerintah telah menganjurkan agar masyarakat melaksanakan social distancing (pembatasan sosial) sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona. Itulah sebabnya aktivitas sekolah di Indonesia pada semua jenjang pendidikan resmi diliburkan. Tidak ada kegiatan pemebelajaran yang dilakukan di sekolah. Kegiatan belajar mengajar sepenuhnya dilakukan di rumah guru dan siswa masing-masing melalui online learning. Ni Putu Gesika Hilliana Dewi (16), salah satu siswi kelas X di SMA Negeri 3 Denpasar mengaku proses pembelajaran menjadi terganggu karena pandemi COVID-19. “Virus ini sangat menggangu aktivitas pembelajaran apalagi jika dengan online learning kurang efektif karena kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan jarak jauh,” ungkap siswi yang kerap disapa Gesika ini.
Pemerintah juga berupaya memberikan keringanan pembelajaran dengan menyediakan saluran TV dengan program “Belajar dari Rumah” yang sudah bisa diakses pada, Senin (13/4). Dikutip dari kompas.com, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. mengungkapkan bahwa program ini dibuat untuk membantu pendidikan selama COVID-19 mewabah di Indonesia. "Program Belajar dari Rumah merupakan bentuk upaya Kemendikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan masyarakat di masa darurat COVID-19,” tutur Nadiem. Program TV yang baru-baru dirilis ini memang cukup membantu proses pembelajaran. Selaras dengan apa yang diungkapkan Ni Nyoman Hita Girindra Wardani (15). “Menurutku bagus buat anak kecil jadi dia nggak main game aja. Buat anak SMA kurang cocok karena pelajaran dengan penalaran tinggi harus ada penjelasan khusus dan wadah untuk siswa bertanya,” jelas Hita.
Proses online learning selain menganggu untuk para siswa juga mengganggu dalam proses penilaian para guru terhadap siswanya. Pernyataan tersebut selaras dengan apa yang diungkapkan oleh salah satu pengajar di SMA Negeri 3 Denpasar, Ni Kadek Anggreni,S.Pd (35). Guru yang kerap disapa Anggreni ini menuturkan bahwa pelaksanaan online learning memiliki sisi mudah dan sulit tersendiri ketika dijalani. “Sistem ini mudah dilakukan ketika penugasan dan evaluasi tapi sulit ketika menjelaskan karena tidak tahu apakah siswa sudah memahami materi yang dijelaskan atau belum,” kata Anggreni.
Banyak harapan dari para guru kepada siswanya agar mampu belajar dan memanfaatkan waktu dengan efektif di kondisi seperti sekarang ini. Penting adanya untuk memanfaatkan teknologi modern untuk proses pembelajaran yang tidak bisa dilakukan secara langsung dengan para guru. “Belajar bukan hanya didepan guru tapi bisa dimana saja dan kapan saja tergantung dari kemauan siswanya dan semoga COVID-19 bisa dikendalikan oleh umat manusia dan semuanya cepat kembali normal,” tutup Anggreni.(krn)

