Sunyi, tak ada yang bisa dilakukan. Berdiam diri di rumah dengan ketakutan yang terus mengintai. Membayangkan virus tak kasat itu membuat kita bergidik. Mau sampai kapan kita terpuruk?
Kali ini bukan lagi Ebola yang jadi sorotan, COVID-19 kini tengah naik daun menggemparkan seluruh dunia. Virus yang awalnya menginfeksi Wuhan, China ini sudah tersebar menginfeksi orang-orang di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali dengan Indonesia, terdapat 2.273 orang yang dinyatakan positif COVID-19 pada Minggu (05/04). Penyebaran virus yang begitu cepat rupanya membuat masyarakat ketakutan. Hal ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Ni Luh Ayu Nirwasita (15), salah satu siswa kelas X di SMA Negeri 3 Denpasar yang mengatakan bahwa virus tersebut menyeramkan, karena penularannya antar manusia cukup pesat dan terkadang gejalanya tidak terlihat. “Berbagai acara juga diundur. Sekolah dan beberapa kantor pun diliburkan. Salah satu acara di Jepang yaitu Tokyo 2020 Olympic juga diundur. Kita tidak bisa mengetahui betapa ruginya event sebesar itu diundur hingga waktu yang belum ditentukan. Bahkan Ujian Nasional juga dibatalkan,” ujarnya.
Berbagai peraturan baru dikeluarkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona salah satunya ialah proses pembelajaran yang dilakukan di rumah. “Kalau tentang belajar di rumah, saya sebagai siswa senang saja. Tetapi belajar online pelaksanaannya tidak terlalu efektif,” keluh Sita. Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketut Anantha Adi Saputra, salah satu siswa Trisma kelas X menurutnya segala aktivitasnya kimi berubah 90o. “Perbedaan aktivitas belajar mengajar semuanya berubah, baik sistem pembelajaran siswa, sistem mengajar guru berbasis online dan juga situasi sekolah,” ungkapnya. Perubahan yang mendadak membuat beberapa masyarakat merasa kesulitan. Bagaimana tidak? Segala aktivitas sebisa mungkin dilakukan di rumah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.
Para ahli terus memberi anjuran-anjuran yang dapat mencegah penyebaran virus. Mulai dari anjuran melaksanakan self quarantine, rajin mencuci tangan, selalu menggunakan masker apabila sedang berada di luar rumah, dan masih banyak lagi. Boby Franswinsly (20) salah satu relawan yang membantu menangani pasien COVID–19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Riau yang mengatakan bahwa rumah sakit sudah tanggap, tetapi ia mendapatkan informasi jika ruang isolasi belum cukup dan belum tentu memadai, ditambah APD (Alat Pelindung Diri) yang masih kurang. “Kita harus mengikuti anjuran pemerintah dan tenaga kesehatan juga mengerti tentang keadaan Indonesia. Sebagai masyarakat kita yang berperan mengatasi hal ini bersama,” ujar Boby.
Semua pihak hendaknya saling bahu-membahu agar bencana ini dapat segera diatasi. Jika hanya bergantung pada satu pihak, mau sampai kapan Indonesia terlelap dengan mimpi buruk? “Kasihan dokter yang sudah susah berjuang untuk menyembuhkan pasiennya bahkan sampai ada yang meninggal. Maka dari itu, ayo sama - sama saling mengerti, kita yang tidak memiliki keperluan untuk keluar lebih baik diam dirumah, biar dokter dan beberapa pegawai yang membantunya bisa bekerja. Ikuti kata Presiden Jokowi yaitu belajar dirumah, bekerja dirumah, ibadah dirumah,” tutup Sita. (dp)

