Seni Dade Ndate, Berkumandang Dalam Sunyi

Lengkingan menyayat nyanyian Simalia kanalemba (64) menyebar ke sudut-sudut kalangan Ayodya, Taman Budaya, Denpasar, Senin malam (1/7). Tak banyak penonton yang hadir menikmatinya, memang. Seolah menjadi potret kondisi seni Dade Ndate di daerah asalnya di Donggala, Sulawesi Tengah.
Ya, seni Dade Ndate adalah seni tradisi lisan suku asli Sulawesi Tengah, suku Kaili. “Orang-orang di kampong-kampung menyebutnya Date itu nyanyian orang-orang atas (suku Kaili-red). Orang-orang di atas itu ya kami ini,” terang pemusik seni Dade Ndate, Usman La Janja (63) yang biasanya memainkan alat musik suling. Dulu, seni Dade Ndate ini, menurut La Janja sering dimainkan di pesta-pesta perkawinan, syukuran dan lainnya di masyarakat suku Kailli. Tetapi belakangan semakin sedikit pertunjukkan Dade Ndate di masyarakat. Penggemarnya di kalangan anak muda semakin sedikit. Ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi pengusung musik Dade Ndate seperti Usman La Janja dan kawan-kawannya. “Sekarang kalau kita di Sulteng (Sulawesi Tengah-red), anak-anak muda kalau diajarkan Kecapi (kecapi dan suling merupakan alat musik untuk memainkan Dade Ndate –red) mereka enggan. Kata mereka itu nyanyian orang tua dulu. Anak-anak sekarang ini kan hanya suka main gitar. Tetapi kita akan berusaha melanjutkan kita musik tradisi Kaili ini,” tutur La Janja.
Lamato dari Dinas Pendidikan kabupaten Donggala, tidak memungkiri soal regenerasi yang menjadi tantangan mempertahankan dan melestarikan seni Dade Ndate di Sulawesi Tengah. Itu tak lepas dari arus besar modernisasi dan globalisasi yang juga menjangkiti anak-anak muda suku Kaili dan juga suku-suku lain di Sulawesi Tengah. |”Regenerasi sedang diusahakan. Insyah allah pulang dari sini kita dapat melakukannya. Karena ni musik tua. Musik turun-temurun keluarga mereka ini dari suku Kaili,” jelas Lamato.
Dalan ingatan La Janja, seni Dade Ndate sudah dimainkan oleh keluarganya sejak lima generasi di atasnya. |”Yang saya ingat, di keluarga yang pertama kali memainkan itu generasi Waseda yang memainkan sejak seabad lebih lalu. Setelah itu generasi Basterda yang kedua. Kemudian generasi Lagopulu yang ketiga. Baru Domarsudi generasi berikutnya. Baru sekarang kita orang ini generasi berikutnya,” papar La Janja.
Generasi La Janja yang saat ini masih memainkan seni Dade Ndata antara lain La Janja sendiri yang memainkan suling. Halimusi (56) dan Lavante Gentepole (65) memainkan kecapi dan Simalia Kanalemba (64) penyanyi perempuan. Sementara penyanyi laki-laki dinyanyikan oleh pemain kecapi juga. “Tiga orang saudara kita yang bersama kami sudah meninggal semua. Kita bersama mereka pernah pentas di Jakarta, Jogjakarta,” kenang La Janja yang sudah memainkan seni Dade Ndate sejak tahun 1982.
Ya seni Dade Ndate ini merupakan kesenian yang menggabungkan nyanyian dan melodi. “ Dade Ndate ini sering juga diartikan dalam bahasa Indonesia adalag nyanyian panjang tanpa henti,” terang Kepala UPT Taman Budaya dan Museum Sulawesi Tengah, Sri Lamblasari sembari mengatakan lirik yang dinyanyikan merupakan spontanitas saat bernyanyi. Jadi tanpa lirik yang sudah ada. Apa yang dilihat dan dipikirkan si penyanyi spontan dinyanyikan dengan iringan kecapi dan suling. Syair-syair yang biasa dimainkan biasanya berisi petuah-petuah, pesan, nasehat dan gambaran sebuah peristiwa.
Kali ini gambaran peristiwa yang dinyanyikan adalah peristiwa gempa, tsunami dan likuifaksi tanah yang melanda kota Palu dan kabupaten Donggala belum lama ini. Kebetulan juga rumah dari beberapa pemain seni Dade Ndate yang pentas di PKB malam itu juga terkena tsunami. Tak heran nyanyian menyayat tentang targedi tersebut menusuk-menusuk relung terdalam sanubari. Seolah menyayat dalam keheningan yang sunyi. Sesunyi nasib seni Dade Ndate itu sendiri. (iwa)

