Seniman selalu mendambakan sebuah tempat untuk berkreasi. Tetapi tak hanya sebatas itu, mereka juga merindukan apresiasi dari masyarakat Bali. (2/3)
Sebelum langit memasuki senja, segerombol orang bergerak dengan cepat mengikuti aba-aba. Mereka yang akan tampil pada Pawai Bali Art Carnaval Nawanatya III pun mengikuti gladi bersih dengan penuh semangat. Tak terasa, setahun telah berlalu, Nawanatya hadir kembali. Pentas tahunan yang menjadi program Pemerintah Provinsi Bali ini pun semakin mengalami peningkatan setiap tahunnya. Salah satunya yakni dengan diperpanjangnya rute Pawai Bali Art Carnaval. Adanya hal ini tentu menambah semaraknya acara yang akan berlangsung pada tanggal 3 Maret 2018 pukul 15.00 Wita.
Ditemani rindangnya pohon di sebelah utara Lapangan Puputan Badung, MC pun mulai memberi aba-aba tanda dimulainya gladi. Tak hanya mengatur posisi penampil, sound pun juga tak tertinggal untuk dicek. Dwi Puri Sukmawati selaku Stage Manager terlihat gencar mengamati posisi setiap penampil. Sebab, menurut Dwi, Nawanatya adalah sebuah acara yang besar sehingga mesti tertata sedemikian rupa. Tentunya, dengan persiapan yang dilakukan dapat sebanding dengan antusiasme masyarakat terhadap Nawanatya III.
Pada Pawai Budaya Bali Art Carnaval ini, sekiranya ada sepuluh penampil yang siap untuk mengguncang parade pada Nawanatya III. Penampil pertama datang dari Kabupaten Tabanan yakni Sekaa Okokan “Brahma Diva Kencana”, dilanjutkan dengan Komunitas Seni Pancer Langit dari Kabupaten Badung, peserta lomba kostum karnaval SMA/SMK Se-Bali, Yayasan Penggak Men Mersi dari Kota Denpasar, Baleganjur dari Komunitas Pancer Langit, Fortuna Management dari Singaraja, SMA Negeri Bali Mandara, Marching Band Suara Smansa, Kisrama Productioan, dan Banyuwangi Etnho Carnival dari Jawa Timur. Kadek Agus Widana yang bernanung dalam Komunitas Pancer Langit Badung menuturkan dirinya telah dua kali berpartisipasi sebagai pengisi penampil Nawanatya. “Carnaval tahun lalu juga sempat mengisi pawai dan kali ini rasanya bangga bisa mengisi kembali,” ujarnya sembari tersenyum. Widana yang telah 2 tahun tergabung dalam komunitas Pancer Langit pun menambahkan bahwa pada carnival kali ini dirinya mengenakan kostum kupu-kupu barong (kupu-kupu raksasa-red).
Sebagai seniman, pria dengan senyuman manis ini mengungkapkan rasa gembiranya dengan kehadiran Nawanatya. “Kita sebagai kaum muda bisa mempersiapkan diri untuk menampilkan sesuatu yang kreatif, kami juga merasa memiliki tempat untuk berkarya dengan adanya Nawanatya ketiga ini,” terangnya. Memang, perkataan Widana selaras dengan tujuan Nawanatya, yakni sebagai wadah ekspresi seniman menuju Keagungan Bali. Dengan mengusung tema Tri Bhuana Kerti, diharapkan akan terjalin keharmonisan di 3 semesta pada penampilan yang dipersembahkan oleh para seniman. Nantinya, Nawanatya sendiri akan terus berlanjut memberikan hiburan kepada masyarakat dengan jadwal di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu yang berlokasi di Art Center Denpasar. Tentunya, ruang kreasi seniman juga mendambakan sosok yang setia mengamati seni itu sendiri, sehingga jangan sampai seniman yang telah memiliki ruang masih menanti datangnya segerombol orang. “Semoga masyarakat Bali dapat menikmati pentas seni yang hadir dalam Nawanatya, karena kami (seniman-red) selalu berusaha memberikan yang terbaru dan terbaik untuk masyarakat Bali,” tutup Widana. (Tim MP)

