Tak hanya hidangan, garapan yang tersaji dihadapan para penonton ibarat paket komplit yang sungguh memuaskan. Siapakah mereka?
Tak pandang usia, muda mudi yang tampil dengan enerjik ini pun berhasil menghibur dari yang tua hingga yang balita. Meski dinginnya angin malam menusuk tulang, namun semangat seniman dari SMP Negeri 7 Denpasar dan SMP Negeri 3 Mengwi ini pun tak pernah berang. Sebagai penampil pertama yang pentas pukul 19.30 wita, truna-truni SMP Negeri 7 Denpasar (Schooven) justru datang sangat awal. Sekolah yang berdomisili di Denpasar Barat ini pun membawa rombongan kru dan seniman mudanya untuk bersiap sejak pukul 15.00 wita. Tak terkecuali Karina Paramitha (14). Gadis berperawakan mini yang menjabat sebagai Ketua OSIS SMP Negeri 7 Denpasar ini pun merasa sangat antusias dengan adanya Nawanatya III, “Perform untuk Nawanatya sendiri datang dari masing-masing ekstra dan saya akui bahwa SMP 7 baru kali pertama untuk tampil, kami semua bersemangat untuk mempersiapkan garapan ini,” terang Karina.
Tak jauh berbeda dengan Karina, I Made Dwi Bagus Astika (16) juga mengungkapan rasa bangganya saat mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam Nawanatya kali ini. “Sebelum mengakhiri kelas 9, ini salah satu wujud persembahan terakhir dan astungkara bisa menghibur yang hadir nanti,” ujar lelaki yang memerankan tokoh antagonis. Harapan Dwi pun menjadi kenyataan. Garapan seni yang dibawakan di atas panggung Kalangan Madya Mandala ini pun sukses besar. Penampilan yang dimulai dari alunan gamelan dan dilanjutkan dengan tarian maskot SMP Negeri 7 Denpasar yang bertajuk ‘Sapta Asrama Sisya Jayeng Sadhu’ berhasil membuat penonton terkagum-kagum akan lincahnya gerakan para penari. Seusai dibuka dengan tari kebesarannya, penampilan pun dilanjutkan dengan musik tradisional inovatif ‘Tanjak’ yang dibawakan oleh 5 orang penabuh. Tak hanya pentas berbalut tradisi Bali, namun balutan modern pun juga turut menyempurnakan penampilan truna-truni Schooven, yakni modern dance yang ditarikan dengan enerjik oleh dancer laki-laki dan perempuan. Seolah tak lelah, penonton pun kembali disuguhi penampilan tarian Joged Bumbung. Sebagai persembahan terkahir, drama modern yang bertajuk ‘Salah Menilai’ sukses menyempurnakan garapan seni siswa-siswi SMPN 7 Denpasar. Ditemui seusai penampilan anak didiknya, Titik Wahyani selaku kepala SMPN 7 Denpasar pun mengucap secercah harap “Jangan sampai berhenti disini saja, melestarikan dan mencintai budaya haruslah berkelanjutan,” tuturnya. Sebab bagi Titik, mencintai budaya membuat siswa menjadi pribadi yang tangguh dan berkararkter.
Sang pewaktu yang telah menunjuk angka setengah sepuluh malam tak menyurutkan semangat penampil kedua. Spentriwi (SMP Negeri 3 Mengwi) tak kalah sukses memikat hati penonton. Empat persembahan yakni Toh Jiwa, Tari Mang-Empas, Kaleng Mesari, dan Uli Lu’u Dadi Luung pun erat akan suasana etnik khas Bali berbalut modernisasi yang sarat makna. Seperti halnya pada penampilan yang bertajuk Kaleng Mesari, dimana para lelaki yang hanya memainkan alat musik dari kaleng bekas yang tentunya mengeluarkan suara khas, sukses membuat khalayak berdecak kagum. I.B Putu Sukasawa, kepala sekolah Spentriwi pun merasa bahagia melihat penampilan anak didiknya. “Sangat bersyukur dan bangga bisa dipercaya oleh provinsi untuk mengisi Nawanatya dan untuk anak-anak supaya bisa dilestarikan lagi dan mengembangkan seni di tingkat SMA,” ujar pria bertubuh tambun ini.
Anak- anak turut unjuk talenta
Hiburan menarik di hari Jumat tak akan komplit tanpa penampilan anak-anak dari TK Dharma Putra dan TK Tunas Wijaya. Ni Nyoman Emi Herawati, selaku kepala sekolah TK Tunas Wijaya mengungkapkan rasa syukur atas hadirnya acara Nawanatya III. “Terus adakan kegiatan ini, karena masih ada TK lainnya untuk tampil, seperti TK kami yang baru pertama kali tampil dalam Nawanatya” ujarnya. Mempersembahkan 7 penampilan, membuat Emi dan rekan guru lainnya harus kerja ekstra keras. “Ada beberapa anak yang grogi karena lihat panggung semegah ini, sebab biasanya hanya pentas disekolah saja,” ungkapnya dengan senyum tipis.
Tak merasa kerepotan, Ni Wayan Mudiati, kepala sekolah TK Dharma Putra, tampak bebas mengamati anak didiknya. “Sekolah kami sudah 2 kali gabung Nawanatya dan kebetulan setiap hari ada ekstra. Jadi persiapan dirasa tidaklah terlalu rumit,” bebernya dengan mantap. Meski berbeda jumlah kesempatan untuk tampil, namun kedua wanita ini tetap berbaharap adanya sebuah keberlanjutan dari program pemerintah ini. Sebab, bagi mereka kegiatan ini merupakan sarana anak-anak untuk menemukan talenta dan keberanian dalam dirinya. (Tim MP)

